pustaka.png.orig
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Anak-Anak Nabi Adam yang Saleh Dibuat Patung, Lalu Disembah Kaum Nuh

Anak-Anak Nabi Adam yang Saleh Dibuat Patung, Lalu Disembah Kaum Nuh

Fiqhislam.com - Jarak antara Nabi Adam dan Nabi Nuh adalah sepuluh kurun, dan mereka semua berada dalam naungan Islam. Maksud dari kurun tersebut adalah generasi atau masa. "Namun, setelah kurun waktu yang baik tersebut berlalu terjadi sesuatu yang membuat masyarakat berpaling dari ajaran kebenaran dan menyembah berhala," ujar Ibnu Katsir dalam kitabnya berjudul Qashash Al-Anbiya.

Menurut Ibnu Katsir, penyebab terjadinya hal itu adalah seperti diriwayatkan oleh Bukhari, dari Ibnu Juraih, dari Atha, dari Ibnu Abbas RA, ketika menafsirkan firman Allah, “Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa', Yaguts, Ya'ug dan Nasr.”

Nama-nama tuhan itu sebenarnya berasal dari nama orang-orang yang saleh pada zamannya, namun setelah mereka meninggal dunia setan membisikkan kepada kaum mereka untuk membuat patung-patung di majelis tempat mereka beribadah dan dinamai dengan nama-nama mereka untuk mengingatkan kaum tersebut atas kesalehan mereka.

"Lalu mereka pun membuatnya, meski ketika itu mereka membuatnya bukan untuk disembah. Namun pada akhirnya para pembuat patung itu juga meninggal dunia, masa mereka pun berlalu, dan ilmu tauhid telah berangsur punah, maka patung-patung itu akhirnya dijadikan sesembahan oleh orang orang yang hidup setelah mereka,” tutur Ibnu Katsir.

Ibnu Abbas mengatakan, “Berhala-berhala yang disembah oleh kaum Nuh itu juga menjadi sesembahan kaum Arab setelah itu.”

Begitulah riwayat yang disampaikan oleh Ikrimah, Adh Dhahhak, Qatadah, dan Muhammad bin Ishaq.

Dalam kitab tafsirnya Ibnu Jarir meriwayatkan, dari Ibnu Humaid, dari Mihran, dari Sufyan, dari Musa, dari Muhammad bin Qais, ia berkata,“Dahulu mereka (yang dijadikan berhala berhala itu) adalah orang orang saleh yang hidup antara Adam dan Nuh, mereka memiliki pengikut yang setia dan taat. Namun ketika orang-orang saleh itu meninggal dunia, para sahabat yang selalu setia mengikuti mereka berpikir, kalau kita buatkan patung untuk mengingat kesalehan mereka maka tentu akan lebih memberi semangat kepada kita untuk beribadah. Maka mereka pun membuat patung orang orang saleh itu. Namun setelah para sahabat yang setia itu juga meninggal dunia dan datang generasi baru yang menggantikan mereka, maka iblis pun membisiki, dahulu patung-atung itu disembah oleh nenek moyang kamu untuk meminta hujan. Maka patung-patung itu pun akhirnya disembah sembah.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, dari Urwah bin Zubair, ia berkata, “Wadd, Suwa', Yaquts, Ya'uq, dan Nasr adalah anak anak Adam, dan Wadd adalah yang paling tua dan yang paling berbakti kepada Adam di antara mereka semua."

Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan, dari Ahmad bin Manshur, dari Hasan bin Musa, dari Ya'qub, dari Abu Al Mutahhar, ia berkata, “Ketika Abu Ja'far (yakni Al Baqir) sedang melakukan salat, ada beberapa orang yang menyebut nama Yazid bin Muhallab. Lalu setelah Abu Ja'far menyelesaikan salatnya, ia berkata, “Apakah kalian membicarakan Yazid bin Muhallab? Ketahuilah bahwa orang itu dibunuh di sebuah tempat yang menjadi tempat pertama kalinya sesuatu disembah selain Allah.”

Abu Al Mutahhar melanjutkan, “Setelah itu Abu Ja'far menyebutkan nama Wadd, ia adalah seorang Muslim dan dicintai oleh kaumnya. Ketika ia meninggal dunia, kaumnya berbondong-bondong mendatangi makamnya di wilayah Babilonia dan menangisi kepergiannya.

Iblis pun melihat kesempatan yang baik dan mengubah dirinya ke dalam bentuk manusia, lalu ia berkata, “Aku sungguh prihatin atas kesedihan kalian setelah ditinggal pergi oleh orang ini. Oleh karena itu apakah kalian bersedia jika aku membuatkan patung seperti dirinya dan diletakkan di tempat kalian berkumpul agar kalian dapat mengingatnya?” Mereka menjawab, “Tentu saja.”

Maka iblis pun membuat patung yang mirip dengan Wadd. Setelah selesai, patung itu diletakkan di tempat mereka berkumpul hingga mereka dapat mengingat kembali ketaatan dan kesalehan orang yang sudah mati itu. Lalu iblis menawarkan lagi, “Apakah kalian bersedia jika aku membuatkan patung-patung yang sama untuk diletakkan di rumah kalian masing-masing agar kalian dapat mengingatnya tatkala kalian sedang di rumah?”

Mereka menjawab, “Tentu saja.”

Maka iblis pun membuat sejumlah patung yang sama, hingga mereka dapat mengingat orang tersebut tanpa harus keluar rumah, karena mereka memiliki patung yang sama di setiap rumah mereka. Namun patung-patung itu tidak mereka sembah, hanya untuk mengingatkan mereka akan kesalehan Wadd. Begitu pun dengan anak anak mereka, semuanya diajarkan untuk berzikir dan taat seperti yang mereka lakukan. Akan tetapi, setelah mereka meninggal dan anak anak mereka juga meninggal, maka datanglah generasi yang menganggap patung-patung itu sebagai tuhan untuk mereka sembah selain Allah.”

Menurut keterangan di atas, ujar Ibnu Katsir, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Wadd adalah tuhan pertama yang disembah oleh manusia selain Allah, dan ia berbentuk patung yang diberi nama yang sama dengan Wadd.

Begitu juga dengan patung-patung yang lainnya. Setiap patung itu disembah oleh sekelompok manusia setelah sekian lamanya hanya dijadikan pengingat agar mereka dapat berbuat ketaatan yang sama dengan orang-orang yang dibuat patungnya itu, dan cara cara peribadatan mereka pun bermacam ragam bentuknya.

Sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan dalam Kitab Shahihain menyebutkan, “Pada suatu hari Ummu Salamah dan Ummu Habibah tengah berbicara di dekat Rasulullah tentang sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah (sekarang Ethiopia), Gereja Maria namanya. Ketika mereka tengah memperbincangkan betapa bagus gereja tersebut dengan patung-patung yang ada di sana, Rasulullah bersabda, “Mereka itu apabila ada orang saleh di antara mereka meninggal dunia, maka mereka akan membuat tempat sujud di kuburnya, dan kemudian mereka membuatkan patung orang itu. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]