pustaka.png
basmalah.png


14 Dzulqa'dah 1442  |  Kamis 24 Juni 2021

Cara Menyikapi Urusan Dunia

Cara Menyikapi Urusan Dunia

Fiqhislam.com - Salah satu dimensi mukjizat Alquran adalah bahwa setiap kata dalam setiap ayat mengandung makna yang proporsional. Beberapa contoh menunjukkan hakikat ini.

Pertama, ketika berbicara tentang ampunan, Allah SWT berfirman: “Wasaariuu ilaa maghfiratin mir rabbikum” (Bersegeralah untuk meraih ampunan dari Tuhanmu). (QS Ali Imran: 133).

Kata bersegera menunjukkan arti bergerak cepat, jangan sampai terlambat, sebab kematian akan datang kapan saja. Khawatir meninggal dunia sebelum bertobat.

Kedua, pada saat menjelaskan tentang kebaikan, Allah SWT berfirman: “Fastabiqul khairaat” (Berlombalah dalam kebaikan). Kata berlomba menunjukkan makna rebut, sebab yang mau mengerjakan kebaikan sangat banyak dan belum tentu kamu kebagian. Lalu kamu kelak menyesal di akhirat, mengapa dulu di dunia ketika ada kebaikan aku tidak berebut, sekarang aku tidak mempunyai kesempatan lagi melakukan kebaikan yang sama.

Ketiga, saat menggambarkan tentang indahnya surga, Allah SWT berfirman: “Wa fii dzalika fal yatanfasil mutanafisuun”. (Dalam hal itu bersainglah). Kata bersaing, at-tanafus, menggambarkan betapa jalan ke surga harus ditempuh dengan penuh semangat, bukan bersantai-santai. Godaan sangat banyak, jangan sampai terlena dengan dunia lalu lupa akhirat.

Sementara ketika menjelaskan urusan dunia dan bagaimana mencari rezeki, Allah SWT tidak menggunakan kata bersegera, berlomba, atau bersaing, tetapi menggunakan kata “berjalanlah” (famsyuu).

Allah SWT berfirman: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (QS al-Mulk : 15).

Rezeki sudah ada jatahnya. Tidak ada rezeki tertukar. Sekalipun seorang bekerja keras sampai tidak sempat shalat, ia tetap akan mendapatkan apa yang Allah SWT jatahkan. Namun, bukan artinya berleha-leha atau tidak berusaha sama sekali.

Sejatinya, tetap kita bekerja keras penuh semangat, tetapi jangan sampai melampaui batas. Dalam Alquran banyak sekali penegasan wal ta’taduu (jangalah kamu melampaui batas). Sebab yang Allah inginkan, kita tetap istiqomah di atas jalan lurus (ihdinashshirathal mustaqim). Bukan jalan yang melanggar.

Saya heran kepada orang yang sudah tahu bahwa rezeki itu sudah dijatahkan tetapi masih saja melampaui batas. Dia ingin segera kaya dengan cara korupsi, mencuri, dan menghalalkan segala cara.

Dari segi tampilan memang tampak kaya, tetapi proses untuk menjadi kaya itulah yang membuatnya jatuh dalam dosa. Caranya bagaimana, besarkan akhirat dalam hati, maka dunia akan menjadi kecil. Tetaplah usaha maksimal untuk urusan dunai tetapi tidak smpai melapaui batas. [yy/republika]

Oleh Ustaz DR Amir Faishol Fath,

  • Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute