18 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 28 Juli 2021

basmalah.png

Persiapkan Amal Saleh Sebelum Hari Perhisaban Tiba

Persiapkan Amal Saleh Sebelum Hari Perhisaban Tiba

Fiqhislam.com - Kehidupan dunia ini tak selamanya, semua akan cepat berlalu. Semua Manusia akan melaluinya kemudian menuju alam setelahnya yaitu alam barzah. Lalu dibangkitkan dari alam kubur menuju padang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan semua amalnya.

Ustad Muchiyin Z, menjelaskan ada beberapa hal yang akan ditanyakan kepada manusia terkait amalannya di dunia pada hari kiamat kelak. Seperti keterangan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad Rasulullah Shallahu 'alaihi wa Sallam :

ﻭﻋﻦ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺟﺒﻞ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻦ ﺗﺰﻭﻝ ﻗﺪﻣﺎ ﻋﺒﺪ ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺄﻝ ﻋﻦ ﺃﺭﺑﻊ ﺧﺼﺎﻝ ﻋﻦ ﻋﻤﺮﻩ ﻓﻴﻤﺎ ﺃﻓﻨﺎﻩ ﻭﻋﻦ ﺷﺒﺎﺑﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﺃﺑﻼﻩ ﻭﻋﻦ ﻣﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﺃﻳﻦ اﻛﺘﺴﺒﻪ ﻭﻓﻴﻤﺎ ﺃﻧﻔﻘﻪ ﻭﻋﻦ ﻋﻠﻤﻪ ﻣﺎﺫا ﻋﻤﻞ ﻓﻴﻪ ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺰاﺭ ﻭاﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩ ﺻﺤﻴﺢ ﻭاﻟﻠﻔﻆ ﻟﻪ

"Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal radhiyallahu'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: Pada hari kiamat kedua kaki manusia akan berhenti untuk dimintai pertanggungjawaban tentang empat hal. Pertama, tentang umurnya dihabiskan untuk tujuan apa. Kedua, tentang waktu muda dihabiskan untuk apa. Ketiga, tentang harta, dari mana sumber penghasilannya dan dihabiskan untuk tujuan apa. Keempat, tentang ilmu yang ia miliki, diamalkan atau tidak.” (HR. Imam Bazzar dan Imam Tabrani dengan sanad yang sahih, dan lafadz hadis darinya).

Dari penjelasan di atas, manusia harus berhati-hati dalam menyikapi segala sesuatu karena akan diminta pertanggungjawaban. Maka dari itu kunci dalam mengahadapinya adalah ilmu yang akan menuntun dirinya, itu saja tak cukup, ia harus mengamalkan ilmunya sehingga menjadi berkah hidupnya, karena ilmu tanpa amal akan terjadi kehampaan, dan amal tanpa ilmu tak akan diterima.

Salah satu kerugian manusia yang sangat besar adalah menyia-nyiakan waktu istirahatnya di malam hari dengan berbagai hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Padahal, bbanyak hal yang bisa kita lakukan, misalnya kita habiskan dengan tadarus Al-Qur’an, berkhalwat dengan Allah Ta’ala di kala manusia yang lain terlelap tidur, atau mengerjakan shalat.

Allah Ta’ala menawar kan suatu keuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang mau pergi menuju masjid saat malam gelap untuk melaksanakan shalat Isya dan Shubuh berjama’ah, yakni akan diberikan padanya cahaya yang sempurna di hari kiamat kelak.

Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis, Rasulullah, bersabda:

بَشِّرُوا المَشَّائِينَ في الظُّلَمِ إلى المَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ القِيَامَةِ

Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang suka pergi berjalan kaki di malam gelap ke masjid-masjid, yaitu bagi mereka cahaya yang sempurna di hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)..

Cahaya yang sempurna pada hari kiamat kelak, inilah keuntungan yang jauh lebih besar daripada gaji yang kita dapatkan dengan bekerja di malam hari. Bahkan, boleh jadi cahaya tersebut juga Allah berikan kepada kita di dunia ini sebagaimana hal ini pernah terjadi di masa Rasulullah.

Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata:

أَنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَا مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ وَمَعَهُمَا مِثْلُ الْمِصْبَاحَيْنِ يُضِيئَانِ بَيْنَ أَيْدِيهِمَا فَلَمَّا افْتَرَقَا صَارَ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَاحِدٌ حَتَّى أَتَى أَهْلَهُ

Dua orang laki-laki diantara sahabat-sahabat Nabi SAW, keluar dari sisi Nabi pada suatu malam yang gelap gulita dan bersama keduanya terdapat sesuatu seperti lampu yang menerangi di hadapan mereka. Saat keduanya berpisah, maka tiap seorang dari keduanya ditemani dengan satu cahaya sehingga sampai ke keluarga mereka masing-masing.” (HR. Bukhari).

Orang yang mendirikan shalat Shubuh akan mendapat cahaya yang sempurna pada hari kiamat. Shalat Shubuh merupakan sumber dari segala sumber cahaya di Hari Kiamat. Di hari itu, semua sumber cahaya di dunia padam. Matahari akan di gulung dan bintang-bintang pun berjatuhan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ (١) وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ (٢)

Apabila matahari digulung. Dan apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwir : 1-2)

Manusia di bangkitkan dalam keadaan gelap gulita. Gelap yang berlipat ganda. Saat itu, manusia sangat membutuhkan cahaya supaya bisa meraba jalannya, agar bisa melewati kumpulan orang-orang yang begitu banyak jumlahnya.

Tatkala melewati Sirath (jembatan di akhirat), cahaya sangat dibutuhkan. Sirath ini mengerikan kondisinya. Tidak akan ada yang bisa melewati, kecuali orang-orang yang dikehendaki-Nya.Wallahu 'Alam. [yy/Widaningsih/sindonews]