14 Safar 1443  |  Rabu 22 September 2021

basmalah.png

Manat, Tuhan yang Dibuang ke Tempat Bangkai Anjing

Manat, Tuhan yang Dibuang ke Tempat Bangkai Anjing

Fiqhislam.com - Amr bin Jamuh adalah salah seorang pemimpin Yatsrib masa jahiliyah. Dia kepala suku yang dihormati dari Bani Salamah. Seorang penduduk Madinah yang sangat pemurah dan memiliki peri kemanusiaan yang tinggi. Sudah menjadi adat bagi para bangsawan jahily menempatkan patung di rumah mereka masing untuk pribadi mereka.

Pertama, supaya mereka dapat mengambil berkat dan memuja patung tersebut setiap pagi dan petang.

Kedua, untuk memudahkan mereka meletakkan kurban suci di altar pada waktu-waktu tertentu.

Ketiga, supaya mereka dapat mengadukan keluhan-keluhan mereka setiap waktu diperlukan. Patung di rumah ‘Amr bin Jamuh bernama “Manat”. Patung itu terbuat dari kayu. Buatannya indah dan mahal harganya. Guna perawatannya ‘Amr bin Jamuh perlu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Patung itu selalu dibersihkan dan diminyakinya dengan wangi khusus dan mahal.

Tatkala cahaya iman mulai merambat di Yatsrib dari rumah ke rumah, usia ‘Amr bin Jamuh sudah lewat enam puluh tahun. Tokoh dakwah Islamiah yang pertama-tama aktif di Yatsrib ialah Mush’ab bin Umair. Tiga orang putera Amr bin Jamuh, yaitu Mu’awwadz, Mu’adz dan Khallad, serta seorang kawan sebaya mereka, yaitu Mu’adz bin Jabal, telah masuk Islam atas dakwah Mush‘ab bin Umair.

Bersama ketiga putra Amr, ibu mereka Hindun memeluk Islam. Amr tidak mengetahui kalau kedua putera dan isterinya telah masuk Islam. Hindun, mengetahui bahwa Islam telah menjadi agama penduduk Yatsrib. Para bangsawan dan kepala-kepala suku telah banyak masuk Islam. Yang belum masuk Islam hanya suaminya dan beberapa orang lain yang jumlahnya tidak seberapa.

Hindun mencintai suaminya dan hormat kepadanya. Dia khawatir kalau suaminya mati kafir lalu masuk neraka. Tetapi sebaliknya Amr selalu pula kuatir keluarganya akan meninggalkan agama nenek moyang mereka. Dia takut putera-puteranya terpengaruh oleh dakwah yang dilancarkan Mush’ab bin ‘Umair. Karena dalam tempo singkat Mush’ab berhasil mengubah agama orang banyak dan menjadikan mereka muslim.

Amr berkata kepada isterinya, “Hai, Hindun! Hati-hatilah menjaga anak-anak, agar mereka jangan sampai bertemu dengan orang itu (Mush ‘ab bin ‘Umair)!”

Jawab istrinya, “Adinda patuhi nasihat kakanda. Tetapi pernahkah kakanda mendengar putera kakanda Mu ‘adz bercerita mengenai orang itu?”

“Celaka! Apakah Mu’adz telah masuk agama orang itu?“ tanya ‘Amr gusar.

Wanita yang saleh itu kasihan melihat suaminya yang sudah tua. “Tidak! Bukan begitu! Tetapi Mu’adz pernah hadir dalam majelis orang itu, dia ingat kata-katanya,” jawab isterinya menenteramkan hati ‘Amr.

“Panggillah dia kemari!” pinta suaminya.

Ketika Mu’adz hadir di hadapan ayahnya, Amr berkata, “Coba baca kata-kata yang pernah diucapkan orang itu. Bapak ingin mendengarkannya. Mu’adz membacakan surat Al-Fatihah kepada bapaknya.

“Alangkah bagus dan indahnya kalimat itu,” kata Amr. “Apakah setiap ucapannya seperti itu?” tanya Armr kemudian.

“Bahkan lebih bagus dari itu. Bersediakah Bapak bai’at dengannya? Rakyat Bapak telah bai’at semuanya dengan dia,” kata Mu’adz.

Orang tua itu diam sebentar. Kemudian dia berkata, “Saya tidak akan melakukannya sebelum musyawarah lebih dahulu dengan ‘Manat’. Saya menunggu apa yang dikatakan Manat.”

“Bagaimana Manat bisa menjawab? Bukankah itu benda mati tidak bisa berpikir dan tidak bisa berbicara?” kata Mu’adz.

“Saya katakan kepadamu, saya tidak akan mengambil keputusan tanpa dia!” kata ‘Amr menegaskan.

Amr bin Jamuh menyembah Manat di altar tempat dia biasa memuja. Dipujinya patung itu dengan puji-pujian setinggi-tingginya.

Kemudian dia berkata, “Hai, Manat! Saya tidak ragu, engkau tentu tahu mengenai seorang dai yang datang dari Makkah. Dia tidak bermaksud jahat kepada siapa pun, melainkan kepada engkau sendiri. Dia datang kemari, melarang kami menyembah engkau. Sekalipun saya terpesona mendengarkan kalimat-kalimatnya yang indah, saya tidak mau melakukan bai’at dengannya sebelum bermusyawarah denganmu. Karena itu berilah saya petunjukmu.”

Sudah barang tentu Manat tidak menjawab apa-apa. Dia diam seribu bahasa seperti biasa, dan akan terus diam.

Kata Amr, “Mungkin engkau marah kepada saya. Padahal saya tidak pernah menyakitimu selama ini. Tetapi tidak apalah. Engkau akan saya tinggalkan beberapa hari sampai marahmu hilang.”

Putra-putra Amr tahu benar kapan waktunya ayah mereka memuja berhala itu. Mereka juga tahu iman bapaknya telah goyang terhadap Manat. Karena itu mereka berusaha hendak mencabut Manat dari hati yang telah goyang itu sampai tuntas. Itulah jalan satu-satunya menuju iman yang benar.

Pada suatu malam putera-putera Amr dan kawan mereka Mu’adz bin Jabal pergi ke altar tempat Manat berada. Manat mereka ambil, lalu mereka bawa ke lobang kotoran Bani Salamah dan mereka lemparkan ke sana. Tidak seorang pun yang mengetahui dan melihat perbuatan mereka.

Setelah hari fajar, Amr pergi ke altar hendak memuja. Tetapi alangkah terkejutnya Amr ketika dilihatnya Manat tidak ada di tempatnya. “Celaka ke mana Tuhan kita? Siapa yang mengambilnya tadi malam?” tanya Amr penasaran.

Tidak seorang pun yang menjawab. Amr mencari Manat ke mana-mana. Dia marah-marah. Akhirnya patung itu ditemukannya ke comberan dalam keadaan terbalik, kepalanya ke bawah dan kakinya di atas. Manat diambilnya, lalu dimandikan dan diminyaki dengan minyak wangi. Sesudah itu diletakkannya kembali ke tempat semula.

“Demi Allah! Seandainya saya tahu siapa yang menganiaya engkau, niscaya saya hukum dia!” kata Amr kepada Manat.

Malam kedua anak-anak remaja itu bertindak pula seperti yang dilakukan mereka kemarin. Setelah fajar menyingsing, Amr mencari Manat dan menemukannya dalam lubang comberan bergelimang kotoran.

Amr mengambil Manat, lalu dibersihkannya, kemudian diminyakinya dengan harum-haruman. Sesudah itu diletakkannya kembali ke tempat pemujaan.

Begitulah remaja-remaja itu memperlakukan Manat setiap malam. Akhirnya habislah kesabaran Amr. Maka diambilnya pedang, kemudian digantungkannya di leher patung Manat.

Kata Amr, “Hai, Manat! Demi Allah! Sesungguhnya saya tidak tahu siapa yang menganiaya engkau. Seandainya engkau memang sanggup, cobalah lawan orang yang menganiayamu itu. Ini pedang untukmu.”

Kemudian orang tua itu pergi tidur. Setelah putera-putera Amr yakin ayahnya telah tidur pula, mereka pergi ke tempat Manat. Mereka ambil pedang yang tergantung di leher Manat, kemudian Manat mereka bawa ke luar. Sesudah itu Manat mereka ikat jadi satu dengan bangkai anjing lalu mereka lemparkan ke comberan Bani Salamah.

Setelah orang tua itu bangun, dilihatnya Manat tidak ditempatnya. Amr pergi mencari-cari dan ditemukan dalam comberan. Muka Manat menghadap ke tanah bersatu dengan bangkai anjing. Pedangnya tidak ada. Sekarang Manat tidak diambilnya, tetapi dibiarkannya tercampak dalam comberan.

Kata Amr, “Kalau benar engkau Tuhan, niscaya engkau tidak mau masuk comberan bersama dengan bangkai anjing.”

Tidak lama kemudian Amr masuk Islam. Amr bin Jamuh merasakan bagaimana manisnya iman. Dia menyesali dosa-dosanya selama dalam kemusyrikan. Maka setelah Islam, diarahkannya seluruh hidupnya, hartanya, dan anak-anaknya dalam menta’ati Allah dan Rasul-Nya. [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]

 


 

Tags: Manat | Uzza | Latta | Berhala | Musyrik | Syirik