fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Filosofi Ilmu Yakin

Filosofi Ilmu Yakin

Fiqhislam.com - Banyak di antara kita salah memahami ilmu yakin. Kita sering ragu akan janji Allah bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Padahal firman Allah, "fainna ma'aal 'usri yusra. Inna ma'al 'usri yusra" itu diulang sampai dua kali.

Bahkan ahli tafsir menyatakan, ketika ada satu kesulitan, maka akan ada dua kemudahan. Namun, mengapa kita sering tidak yakin bahwa selalu ada jalan keluar otomatis dari Allah atas setiap kesulitan dan masalah yang menimpa kita?

Kita sering merasa tidak yakin atas setiap kesulitan yang dialami dan atas setiap masalah yang terjadi. Bahkan, atas setiap kekurangan rezeki. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini.

Keraguan akan janji Allah itu begitu kuat sekali. Padahal, Allah menjamin rezeki semua mahkluknya, dari yang terbesar sampai terkecil (QS Hud: 6). Itu artinya apa? Kita masih ragu dan belum yakin pada janji-janji Allah dalam Alquran.

Yakin kepada Alquran merupakan rukun iman. Dengan demikian tidak pantas jika kita meragukan janji Allah tentang rezeki di Alquran. Namun demikian, terkadang kita tidak tahu, hikmah di balik setiap peristiwa.

Manusia lebih suka mengeluh, persis seperti diceritakan Alquran (QS al-Baqarah: 286); (QS al-Ankabut: 2). Diberi sakit, mengeluh, kehilangan uang mengeluh, bisnis rugi mengeluh, diberi kesusahan sedikit saja mengeluh, seolah lupa bahwa Allah Maha Teliti, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Pemberi, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Jadi tidak mungkin muncul peristiwa dan apapun yang diciptakan Allah tidak ada gunanya.

Manusia hanya diminta bersyukur agar Allah menambah nikmat-Nya (QS Ibrahim: 7). Demikian pula, sebaik-baik doa, artinya termasuk saat kesusahan sekalipun adalah dengan mengucap “Alhamdulillah" (segala puji hanya milik Allah). Kalaulah dibuka sedikit saja pintu hikmah, kita akan melihat setiap peristiwa yang terjadi pada kita adalah baik bagi kita (sekali lagi baik bagi kita).

Mari belajar dari kisah Nabi Musa. Ketika Nabi Musa dan rombongannya dikejar Firaun dan tentaranya, sehingga terjebak di pinggir lautan. Secara akal manusia, Nabi Musa dan rombongannya akan tertangkap Firaun. Rombongan Nabi Musa sudah ketakutan akan terbunuh oleh Firaun dan tentaranya.

Namun, Nabi Musa yakin (sekali lagi yakin) bahwa Allah akan menolongnya. Barulah turun perintah untuk memukulkan tongkat Nabi Musa sehingga lautan berubah menjadi daratan, dan selamatlah Nabi Musa dan rombongan.

Padahal itu hanya tongkat biasa, tapi karena Allah yang menurunkan perintah, maka apapun bisa terjadi. Kalau Allah mau, selalu saja ada jalan atas setiap masalah. Kun fayakun!. Pertanyaannya, sudahkah kita mendekat pada Allah? Sudahkah kita yakin pada Allah? Itu masalahnya.

Dari sinilah, para ulama membagi ilmu yakin terdiri atas tiga tingkatan.

Pertama, 'ilmu al-yakin contohnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Kedua, 'ain al-yakin contohnya setelah melihat sendiri adanya kemudahan baru yakin.

Ketiga, haq al-yakin contohnya setelah merasakan langsung kemudahan itu baru yakin itu benar. Kita termasuk tingkatan yang mana?. Wallahu a’lam. [yy/sindonews]

Oleh Abdul Muid Badrun