pustaka.png.orig
basmalah.png


12 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 22 Juni 2021

Bentuk 'Revolusi' Akidah yang Dibawa Para Nabi dan Rasul

Bentuk 'Revolusi' Akidah yang Dibawa Para Nabi dan Rasul

Fiqhislam.com - Ketika sebuah bangsa mengenal sebuah revolusi, sebenarnya sejak dini, Allah SWT telah menugaskan utusannya yakni para nabi untuk melakukan revolusi dalam akidah di setiap bangsa dimana mereka diutus.

Berbeda dengan pahlawan yang melawan penjajah di perang revolusi. Para nabi melakukan revolusi dalam melawan tiran yang menganggu manusia untuk taat kepada Allah SWT.

Islam telah mengenalkan nama-nama abadi untuk para pemimpin revolusi ini, dimulai dengan Nuh dan diakhiri dengan Muhammad. Banyak nama muncul di antara mereka, seperti Hud dan Salih, Ibrahim, Dawud, Sulaiman, Syuaib, Musa , dan Isa serta nabi lain yang tidak disebutkan dalam Alquran.

Mereka tidak diragukan lagi memiliki posisi kekal mereka, dalam pertempuran pembebasan, dari menyembah para hamba hingga menyembah Allah Tuhannya manusia.

Setiap kisah ‘revolusioner’ menunjukkan keesaan Tuhan melawan banyaknya berhala dan tiran, yang menindas orang, menyembah mereka, dan mengeksploitasi mereka, dan sebagai balasannya menunjukkan apa yang mereka hadapi dalam hal halangan, pemberontakan, penyerangan, dan penyimpangan.

Salah satunya adalah adalah Kisah Nuh, Hud dan Syuaib tertulis dalam Alquran surat Al-Araf ayat 59, 65, dan 85.

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat).” (QS Al-A'raf : 59)

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS Al-A'raf: 65)

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syu'aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di Bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman.” (QS Al-A'raf : 85)

Semua Nabi, tanpa kecuali, menderita penolakan dan tuduhan ini, karena mereka membawa Islam. Revolusi monoteistik yang membawa umat manusia ke era baru, dan menghilangkan ketidakpercayaan dan ateisme dari pikiran orang-orang yang dekat dan jauh.

Adapun perlawanan, itu karena faktor sosial dan psikologis, karena manusia adalah dasar dari kezaliman ini. Para kaisar sering melihat nabi sebagai musuh mereka, karena mereka adalah kelompok yang tercerahkan dan reformis yang menginginkan kebaikan bagi orang-orang, dan dalam membuka mata terhadap kebenaran dan membimbing mereka ke jalan kebenaran adalah ancaman bagi mereka.

Mereka mengeksploitasi yang lemah, menyebarkan kebodohan dan mitos di antara mereka, dan menghubungkan orang-orang dan pengikutnya dengan mereka, Sampai-sampai mengklaim sebagai Tuhan, seperti yang dikatakan Firaun:

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

(seraya) berkata, "Akulah tuhanmu yang paling tinggi." (QS Al-Nazi`at : 24). [yy/republika]