27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Penjelasan Hadits Doa Makan yang Dihukumi Dhaif

Penjelasan Hadits Doa Makan yang Dihukumi Dhaif

Fiqhislam.com - Salah satu doa makan yang populer di masyarakat adalah bacaan

الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Allahumma barik lana fima razaqtana wa qina adzabannar/ Ya Allah berkahilah apa yang Engkau rezekikan kepada kami dan jauhkanlah kami dari api nereka).

Hadits ini memang dihukum lemah oleh sejumlah ulama, lantas apakah doa ini tidak boleh digunakan?

Penjelasan tentang jawaban atas pertanyaan itu disampaikan Direktur Aswaja Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Maruf Khozin yang juga Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim sebagai berikut:

“Kita mengamalkan doa makan yang sudah populer di kalangan kita dikarenakan doa ini dicantumkan ulama pentarjih Mazhab Syafi'i, Imam An-Nawawi, dalam kitabnya Al-Adzkar.

Kecenderungan beliau memang mengikuti kesepakatan ulama tentang diperbolehkannya untuk mengamalkan hadis dhaif. Pentahqiq kitab ini, Syekh Syuaib Al-Arnauth juga tidak berkomentar banyak tentang hadis tersebut, hanya menilai dhaif.

Doa hadits;

الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Allahumma barik lana fima razaqtana wa qina adzabannar/ Ya Allah berkahilah apa yang Engkau rezekikan kepada kami dan jauhkanlah kami dari api nereka) itu terdapat dalam kitab Ibnu Sunni dan Al-Kamil.

Di dalamnya ada perawi bernama Muhammad bin Abi Zu'aizi'ah. Imam al-Bukhari menilai sebagai perawi hadis yang sangat mungkar (At-Tarikh Al-Kabir 1/88), demikian pula penilaian Abu Hatim. (Al-Jarh wa at-Ta'dil 7/261).

Sementara Al-Hafidz Ibnu Hajar juga menilainya sebagai perawi mungkar dan doa Allahumma Barik Lana itu bagian dari hadis mungkarnya Ibnu Abi Zu'aizi'ah (Lihat Lisan Al-Mizan 5/165)

Boleh jadi dalam penilaian Imam An-Nawawi dikarenakan ada hadits lain yang secara makna hampir sama, yaitu:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ

Rasulullah SAW bersabda: "Bila Allah memberi makanan kepada seseorang maka hendaknya ia berkata: Ya Allah, berilah berkah kepada kami dalam makanan ini dan berilah kami kebaikan dari makanan tersebut."

وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

“Dan barangsiapa yang diberikan minuman susu maka hendaknya ia berkata: Ya Allah, berilah berkah kepada kami dalam minuman ini dan tambahkan untuk kami." (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)

Kiai Maruf juga menukilkan sejumlah pendapat ulama mazhab tentang hukum menggunakan hadits dhaif dalam keutamaan amal yaitu sebagai berikut:

Mazhab Hanafi

وَإِنْ كَانَتْ ضَعِيفَةً لِلْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ

Meskipun hadits dhaif, maka hadits dhaif boleh diamalkan dalam keutamaan Amal (Durar Al-Hukkam 1/36)

Mazhab Maliki

فَقَدْ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ وَاغْتِنَامًا لِلثَّوَابِ الْوَارِدِ

Para ulama sepakat boleh mengamalkan hadits dhaif dalam keutamaan amal dan meraih pahala / motivasi (Mawahib Al-Jalil, 1/56)

Mazhab Syafi'i

وقد قدمنا اتفاق العلماء علي العمل بالحديث الضعيف في فضائل الاعمال دون الحلال والحرام وهذا من نحو فضائل الاعمال

Telah kami jelaskan kesepakatan ulama untuk mengamalkan hadits dhaif dalam hal keutamaan amal, bukan hukum halal dan haram (Al-Majmu' 3/248)

Mazhab Hanbali

( فَلَا بَأْسَ ، لِجَوَازِ الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ ) . قَالَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ : الْعَمَلُ بِالْخَبَرِ الضَّعِيفِ ، بِمَعْنَى : أَنَّ النَّفْسَ تَرْجُو ذَلِكَ الثَّوَابَ ، أَوْ تَخَافُ ذَلِكَ الْعِقَابَ . وَمِثْلُهُ : التَّرْغِيبُ وَالتَّرْهِيبُ وَالْمَنَامَاتِ

Boleh mengamalkan hadits dhaif dalam keutamaan amal. Syekh Taqiyuddin berkata: “Artinya bahwa seseorang menginginkan pahala dan takut dengan dosa. Demikian pula hal motivasi ibadah dan dorongan menjauhi dosa.” (Mathalib Uli An-Nuha, 3/234)

Imam al-Bukhari

Ada sebagian yang alergi terhadap hadits dhaif dengan berdalil pada Imam al-Bukhari yang mengarang kitab Shahih al-Bukhari. Faktanya tidak begitu, buktinya adalah sebagai berikut:

روى له البخاري ثلاث احاديث ثالثها في الرقاق .... وكأن البخاري لم يشدد فيه لكونه من احاديث الترغيب والترهيب

Al-Bukhari meriwayatkan dari Thafawi sebanyak 3 hadits, salahsatunya tentang akhlak... Sepertinya Bukhari tidak terlalu ketat tentang Thafawi karena ini soal hadits motivasi ibadah dan dorongan menjauhi dosa (Hady As-Sari, 2/162)

ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ: اﺣﻔﻆ ﻣﺌﺔ ﺃﻟﻒ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﻣﺎﺋﺘﻲ ﺃﻟﻒ ﺣﺪﻳﺚ ﻏﻴﺮ ﺻﺤﻴﺢ

al-Bukhari berkata: "Saya hafal 100 ribu hadits sahih dan 200 ribu hadits dhaif" (Faidl Al-Qadir 1/17)

Selain kitab Shahih al-Bukhari, Imam al-Bukhari juga memiliki beberapa kitab lain seperti At-Tarikh baik Kabir atau Shaghir, juga kitab Adab Al-Mufrad. Dalam kitab-kitab tersebut Imam al-Bukhari tetap mencantumkan hadits-hadits dhaif.

“Memang ada segolongan ulama yang memvonis hadits dhaif tidak boleh diamalkan dan disetarakan dengan hadits palsu. Tapi kita tetap ikut mayoritas ulama sejak ribuan tahun silam,” kata Kiai Ma’ruf Khozin. [yy/republika]

 


 

Tags: Hadits | Doa | Doa Makan | Dhaif