24 Dzulhijjah 1442  |  Selasa 03 Agustus 2021

basmalah.png

Bolehkah Non-Muslim Mewakafkan Harta Mereka?

Bolehkah Non-Muslim Mewakafkan Harta Mereka?

Fiqhislam.com - Wakaf merupakan salah satu cara bagi seorang Muslim untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT secara terus-menerus dan tidak akan putus meski orang yang berwakaf (wakif) telah meninggal dunia. Lantas bagaimana orang yang berwakaf itu non-Muslim? Apakah tetap sah dan Muslim boleh menerimanya?

Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM-PBNU), KH Mahbub Ma'afi Ramdlan, menjelaskan pada dasarnya tidak ada perbedaan di antara para fuqaha terkait kebolehan dan keabsahan wakaf non-Muslim kepada Muslim. Namun, dengan catatan, sesuatu yang diwakafkan itu memang layak untuk dimiliki Muslim.

"Misalnya, kalau ada wakaf dari perusahaan minuman keras itu jelas tidak boleh, karena itu dilarang bagi Muslim. Jadi, sepanjang orang Muslim itu bisa memilikinya, maka wakaf itu sah. Mengapa? Karena para ulama sepakat, bahwa Islam itu bukan merupakan syarat bagi sahnya wakaf," tuturnya kepada Republika.co.id, Senin (8/3).

Dia menjelaskan, wakaf berorientasi pada manfaat dari harta-benda yang diwakafkan. Pemanfaatan itu terfokus hanya pada kebaikan semata untuk mendekatkan diri kepada Allah. "Konsekuensinya, dzat harta benda wakaf itu sendiri tidak bisa ditasharrufkan karena dalam wakaf yang ditasharrufkan adalah manfaatnya sehingga harta-bendanya masih tetap utuh," terangnya.

Dia melanjutkan, definisi wakaf menurut syariat adalah menahan harta-benda yang memungkinkan untuk diambil manfaatnya beserta kekalnya dzat harta-benda itu sendiri, dan dilarang untuk mentasharrufkan dzatnya.

Sedangkan mentasharrufkan kemanfaatannya yakni dalam hal kebaikan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana dijelaskan Taqiyyuddin Abi Bakr bin Muhammad Al-Husaini Al-Hishni dalam kitab Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayatil Ikhtishar.

Kiai Mahbub menyampaikan, wakaf itu selalu mengandaikan adanya pihak yang mewakafkan dan harta benda yang diwakafkan. Dalam konteks ada non-Muslim yang mau memberikan tanahnya kepada orang Muslim untuk dibuat sebagai tempat ibadah, Madzhab Syafi'i memperbolehkannya.

Madzhab tersebut memperbolehkan non-Muslim berwakaf untuk Muslim karena Islamnya wakif tidak termasuk dalam rukun wakaf. Ada empat rukun wakaf, yaitu harta benda yang diwakafkan (mawquf), pihak penerima wakaf (mauquf 'alaih), pernyataan tentang wakaf (shigah), dan pihak pemberi wakaf (waqif).

Kiai Mahbub memaparkan, persyaratan terkait pemberi wakaf tidak menyebutkan bahwa yang bersangkutan haruslah seorang Muslim. "Menurut ulama dari kalangan Madzhab Syafi'i, sebagaimana terdokumentasikan dalam kitab Fathul Wahhab, bahwa syarat pemberi wakaf adalah pihak yang nyata-nyata tidak dalam tekanan atau al-mukhtar," paparnya.

Artinya, terang Kiai Mahbub, pemberi wakaf atau wakif adalah pihak yang dengan sukarela memberikan harta-bendanya untuk diwakafkan dan juga memiliki kecakapan dalam berbuat kebajikan (ahlu tabarru'). Karenanya, dia menyatakan, wakaf yang berasal dari non-Muslim itu sah karena tidak ada persyaratan wakif harus Muslim.

Mengutip pendapat Syekh Zakariya Al-Anshari dalam Fath al-Wahhab bi Syarhi Manhaj ath-Thullab, Kiai Mahbub juga menyampaikan bahwa wakaf dari non-Muslim itu tetap sah sekalipun ditujukan untuk pembangunan masjid. Pihak pemberi wakaf yang disyaratkan adalah orang yang sukarela memberikannya dan ahlu tabarru' atau orang yang cakap dalam kebajikan.

"Pandangan ini tampak jelas melihat dari sisi tujuan fundamental wakaf itu sendiri, yaitu dalam rangka taqarrub. Taqarrub di sini mesti dilihat dari kacamata Islam. Karenanya, tidak dianggap penting apakah wakaf dianggap sebagai ibadah atau tidak menurut keyakinan pihak yang mewakafkan," ucapnya.

Kiai Mahbub menekankan, sepanjang wakaf tersebut memiliki nilai ibadah dalam pandangan Islam, maka wakaf dari non-Muslim itu dapat dibenarkan.

Dia juga mengingatkan bahwa hal yang menjadi acuan dalam wakaf adalah sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam pandangan Islam. Umpamanya, ada non-Muslim yang memberi wakaf untuk pembangunan masjid, maka ini sah karena, dalam pandangan Islam, itu dianggap sebagai qurbah (mendekatkan diri kepada Allah SWT).

"Berbeda jika dia mewakafkan tanahnya misalnya untuk gereja, jelas tidak sah karena itu bukan termasuk kategori qurbah atau ibadah dalam pandangan Islam," tutur dia.

Kiai Mahbub kemudian mengutip penjelasan Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu. Dia menjelaskan, para ulama dari kalangan Madzhab Syafi'i dan Hanbali menyatakan bahwa yang menjadi acuan dalam wakaf adalah qurbah yang sesuai dengan pandangan Islam, baik itu selaras dengan keyakinan pemberi wakaf atau tidak.

"Sah wakaf non-Muslim untuk masjid karena dalam pandangan Islam itu merupakan bentuk dari qurbah. Tidak sah wakaf untuk gereja, baitun nar (tempat penyembahan api), atau sejenisnya, karena itu bukan merupakan qurbah dalam pandangan Islam," paparnya. [yy/republika]