12 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 19 Oktober 2021

basmalah.png

Maqom Pengetahuan Tertinggi Adalah Diam

Maqom Pengetahuan Tertinggi Adalah Diam

Fiqhislam.com - Maqom pengetahuan tertinggi adalah diam. Maqom artinya kedudukan atau derajat manusia di hadapan Allah 'Azza wa Jalla. Mari kita simak kisah Nabi Musa 'alahissalam dan Nabi Khidir berikut.

Permintaan terberat yang tidak dapat dipenuhi oleh Nabi Musa manakala bersama Nabi Khidir adalah diam. Ya berdiam, tanpa komentar, sebelum semuanya jelas dan menjadi terang benderang hikmahnya.

Nabi Musa adalah Nabi bagi Bani Israel, seorang yang paling berilmu di masanya. Sampai-sampai, suatu ketika Nabi Musa ketika berdakwah di hadapan kaumnya, ada di antara kaumnya yang bertanya:

"Siapakah orang yang paling berilmu saat ini, wahai Musa?" Riwayat lain menyatakan, "Adakah orang yang terlebih berilmu darimu, wahai Musa?!"

Nabi Musa 'alahissalam dengan tegas menjawab: "Saya lah satu-satunya, orang paling alim, paling berilmu saat ini!"

Tak lama kemudian, Allah Ta'ala menegur Nabi Musa bahwa masih ada yang lebih berilmu. Dia memiliki ilmu Ladunni yang berada di antara dua pertemuan antara air laut dan air tawar. Nabi Musa penasaran dengan sosok orang berilmu tersebut. Perjalanan Nabi Musa untuk menemui Nabi Khidir bukanlah mudah.

Perjalanan berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, hingga muncullah pertanda ikan yang dibawa menghilang secara misterius di antara dua pertemuan air; yang tanpa disadari oleh Nabi Musa dan seorang pendampingnya yang menurut sebagian mufassir adalah Yusya' bin Nun yang kemudian nantinya diangkat sebagai salah seorang Nabi Bani Israel.

Singkat cerita, dimulailah pengembaraan ilmu di antara dua orang Nabi itu dengan beberapa ujian kelayakan bagi Nabi Musa diterima sebagai murid Nabi Khidir. Sebelumnya ada dialektika di antara keduanya dimana Nabi Musa bernegosiasi agar diterima sebagai murid dan Nabi Khidir semula meragukannya.

Walhasil, akhirnya Nabi Khidir tidak mensyaratkan apa-apa, terkecuali hanya meminta Nabi Musa diam tanpa komentar sebelum semuanya telah dijelaskan secara terang benderang dibalik hikmah dari setiap kejadian.

Nabi Musa sepakat. Dimulailah perjalanan pertama, dimana Khidir mengajak Musa ke tepi pantai, lalu meminjam perahu milik seorang nelayan miskin. Tanpa sepengetahuan si pemiliknya, setelah usai dipergunakan Khaidr melobanginya hingga perahu itu rusak.

Tentu saja, hal itu membuat Nabi Musa terheran-heran dan tidak bisa menahan diri untuk berkomentar. "Mengapa Anda merusak perahu itu? Mengapa dan mengapa?"

Masih berlanjut pada kasus selanjutnya dimana Khidir mencekik leher seorang anak yang sedang bermain-main hingga tewas. Musa makin tidak mengerti karakter guru macam apa yang akan menjadi gurunya itu.

Nabi Musa protes dan seakan menghakimi apa yang dilakukan Khidir adalah kesalahan. Bahkan kezhaliman yang tidak sepantasnya dilakukan oleh siapa pun, membunuh jiwa yang tak berdosa secara zalim, apalagi bagi seorang Nabi di kalangan Bani Israel.

Nabi Musa tak tahan diri untuk berkomentar dan memprotes, hingga terkesan tidak terima dengan kenyataan yang dihadapinya. "Mengapa Anda bunuh jiwa yang tak berdosa?"

Namun, setiap kali menghadapi pertanyaan dan protes Musa, Khidir hanya mengingatkan kesepakatan di awal yang harus bisa disepakati. Mau tak mau, Nabi Musa pun harus menerima kenyataan yang di luar nalar dan logika pengetahuannya itu.

Ujian terakhir, yang dilakukan Khidir ini, ternyata hanya hal yang sangat sederhana, tidak penuh misterius seperti dua kasus peristiwa sebelumnya, yaitu membantu membetulkan dinding yang telah roboh pada sebuah rumah tua yang lama ditinggalkan. Itu saja.

Namun, justru hal ketiga inilah yang merupakan klimak dari pengembaraan itu. Musa tidak mampu untuk tidak berkomentar apa gerangan yang dilakukan oleh lelaki misterius dihadapannya yang telah Allah karuniakan berbagai lautan ilmu hikmah padanya.

Apa jawaban Khidir kepada Nabi Musa ?

هَذاَ فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ

"Inilah akhir perjumpaan antara diriku dan dirimu."

Akhirnya, Khidir menyingkapkan semua hikmah dari setiap peristiwa mulai perahu milik nelayan miskin yang dirusak, ternyata hikmahnya adalah penyelamatan dari perampasan raja zalim yang merampas semua perahu yang masih bagus kondisinya.

Pembunuhan seorang anak itu juga dalam rangka penyelamatan terhadap orang tuanya yang saleh yang kelak akan menjadi petaka bagi keduanya. Semua merupakan rahasia ilmu Allah yang hanya diketahui Khidir.

Pembenahan dan penegakan dinding yang roboh juga dalam rangka isyarat harta warisan yang terpendam di bawah tanahnya yang ditingggalkan oleh seorang yang saleh yang telah wafat terhadap anak-anaknya.

Nabi Musa yang tidak memahami kedalaman ilmu Khidir cenderung tidak bisa diam untuk tidak bertanya atau sekadar berkomentar. Kisah ini bukan sekadar kisah pengajaran di dalam Al-Quran untuk kisah masa lalu, tapi merupakan itibar untuk umat hari ini.

Betapa banyak kita akan temui orang-orang yang senang berkomentar dan selalu mengomentari setiap peristiwa apa pun yang dilihat dan di dengarnya. Seakan komentar itu menunjukkan betapa banyaknya pengetahuannya. Padahal, belum tentu demikian adanya.

Padahal dalam perjalanan maqom keilmuannya selanjutnya, manakala ada orang yang memilih untuk lebih banyak diam, lebih banyak merenung, mengamati dan memperhatikan hikmah dibalik setiap peristiwa dan kejadian yang terjadi di sanalah sesungguhnya puncak ilmu akan diketahui.

Ketika seseorang menyadari kelemahan dirinya, maka dia akan terdiam. Manakala seseorang telah terpukau pada keindahan dan keelokan Tuhannya, maka membuatnya akan terdiam. Diam adalah puncak dari pemahaman dan maqom (derajat) mulia di sisi Allah. Wallahu A'lam. [yy/Rusman H Siregar/sindonews]

Majelis Ahbabul Zahra Walbatul