fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Shalat Tidak Khusyu, Haruskah Diulang?

Shalat Tidak Khusyu, Haruskah Diulang?

Fiqhislam.com - Shalat tidak khusyu mungkin pernah dialami kaum muslimin. khusyu memang bukan perkara mudah, butuh kebulatan hati dan bersungguh-sungguh dalam penyerahan diri kepada Allah.

Bagaimana kalau kita merasa Shalat tidak khusyu, apakah perlu diulang? Mari kita simak penjelasan berikut.

Menurut Ustaz Farid Nu'man Hasan, tidak khusyu bukan penyebab batalnya Shalat karena khusyu bukan rukun Shalat. Memikirkan hal duniawi dalam Shalat meskipun tidak berdampak pada gerakan dan bacaan dalam Shalat sebaiknya dihilangkan.

Sayyidina Umar bin Khathab radhiallahu 'anhu berkata:

إِنِّي لَأُجَهِّزُ جَيْشِي وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ

"Sesungguhnya saya mempersiapkan pasukan saya, pada saat itu saya sedang shalat." (HR. Al-Bukhari)

Tentang ucapan Umar ini, Imam Al-Bukhari membuat judul: Bab Yufkiru Ar Rajulu Asy Syai’a fish shalah-Seseorang memikirkan Sesuatu di Dalam Shalat.

Dari ‘Uqbah bin Al Harits katanya:

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَصْرَ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ سَرِيعًا دَخَلَ عَلَى بَعْضِ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ وَرَأَى مَا فِي وُجُوهِ الْقَوْمِ مِنْ تَعَجُّبِهِمْ لِسُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ تِبْرًا عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يُمْسِيَ أَوْ يَبِيتَ عِنْدَنَا فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ

"Aku Shalat ashar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika Beliau Salam, beliau berdiri cepat-cepat lalu masuk menuju sebagian istrinya, kemudian Beliau keluar dan memandang kepada wajah kaum yang nampak terheran-heran lantaran ketergesa-gesaannya. Beliau bersabda: "Aku teringat biji emas yang ada pada kami ketika sedang Shalat, saya tidak suka mengerjakannya sore atau kemalaman, maka saya perintahkan agar emas itu dibagi-bagi." (HR. Al-Bukhari No. 1221)

Meski hal ini dibolehkan, namun tetaplah dihindari demi kebagusan kualitas shalat. Syekh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata: "Meskipun shalatnya tetap sah dan mencukupi, tetapi seharusnya orang yang shalat itu menghadapkan hatinya kepada Allah dan melenyapkan segala godaan dengan memikirkan ayat-ayat dan memahami hikmah setiap perbuata shalat, karena yang dicatat dari perbuatan itu hanyalah apa-apa yang keluar dari kesadaran.” (Fiqhus Sunnah, 1/267)

Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنّ الرّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إلاّ عُشْرُ صلاتِهِ تُسْعُها ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

"Sesungguhnya ada orang yang selesai Shalatnya tetapi tidak mendapatkan melainkan hanya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima seperempat, sepertiga, dan setengah dari shalatnya." (HR. Abu Daud No. 211)

Kewajiban untuk Tuma'ninah
Adapun Shalat yang tidak tuma'ninah, sehingga gerakannya sangat cepat, maka dianjurkan untuk diulang berdasarkan riwayat berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ الْمَسْجِدَ , فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى , ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : ارْجِعْ فَصَلِّ , فَإِنَّك لَمْ تُصَلِّ . فَرَجَعَ فَصَلَّى كَمَا صَلَّى , ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : ارْجِعْ فَصَلِّ , فَإِنَّك لَمْ تُصَلِّ - ثَلاثاً - فَقَالَ : وَاَلَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لا أُحْسِنُ غَيْرَهُ , فَعَلِّمْنِي , فَقَالَ : إذَا قُمْتَ, إلَى الصَّلاةِ فَكَبِّرْ , ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ معك مِنْ الْقُرْآنِ , ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعاً , ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِماً , ثُمَّ اُسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِداً, ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِساً . وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاتِكَ كُلِّهَا

Dari Abu Hurairah masuklah seorang laki-laki ke masjid lalu dia shalat, lalu dia datang ke Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengucapkan salam, Beliau bersabda:

"Kembalilah, dan shalatlah, sesungguhnya kamu tadi belum shalat!"

Lalu dia kembali dan shalat sebagaimana shalat sebelumnya, lalu dia datang lagi ke Nabi dan mengucapkan salam, Beliau bersabda:"Kembalilah, dan shalatlah, sesungguhnya kamu tadi belum shalat!"

Lalu dia kembali dan Shalat sebagaimana shalat sebelumnya, lalu dia datang lagi ke Nabi dan mengucapkan salam, Beliau bersabda:"Kembalilah dan Shalatlah, sesungguhnya kamu tadi belum shalat!" Diulangi 3 kali. (HR. Muttafaq 'Alaih)

Kata Imam An Nawawi, hadis ini menjadi dalil bagi mayoritas ulama wajibnya tuma'ninah, baik saat ruku', sujud, duduk diantara dua sujud, kecuali menurut Abu Hanifah yang tidak mewajibkannya. Wallahu A'lam. [yy/Rusman H Siregar/sindonews]