27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Mana yang Didahulukan, Menyembah atau Memohon Pertolongan Allah?

Mana yang Didahulukan, Menyembah atau Memohon Pertolongan Allah?

Fiqhislam.com - Dalam ajaran Islam, tidak ada tuhan yang berhak disembah dan dimintai pertolongan kecuali Allah Yang Maha Esa. Tidak ada satu pun yang dapat menandingi keagungan dzat-Nya.

Dalam surat al Fatihah, setelah pada ayat kesatu hingga keempat Allah memperkenalkan sifat-sifat kesempurnaannya yang hanya Allah saja yang mempunyai, yakni sebagai Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Terpuji, Maha Menguasai Alam, dan Yang Maha menguasai hari pembalasan, kemudian pada ayat kelima Allah mengajarkan pada hamba-Nya hanya Allah sajalah yang patut disembah, dan hanya kepada-Nya seharusnya manusia memohon pertolongan.

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Artinya: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Dalam tafsir wajiz pada tafsir Alquran Kementerian Agama RI dijelaskan atas dasar itu semua (sifat-sifat kesempurnaan Allah yang telah dijelaskan dalam ayat sebelumnya), maka hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan beribadah dengan penuh ketulusan, kekhusyukan, dan tawakal. Dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan dalam segala urusan dan keadaan kami, sambil kami berusaha keras (ikhtiar).

Sementara dalam tafsir Tahlili pada tafsir Alquran Kementerian Agama RI tentang ayat keempat surat Al Fatihah itu dijelaskan kata iyyaka berarti hanya kepada Engkau. Kata iyyaka adalah damir untuk orang kedua dalam kedudukan mansub karena menjadi maful bih atau objek.

Dalam tata bahasa Arab, maful bih harus sesudah fi'il dan fa'il. Jika mendahulukan yang seharusnya diucapkan kemudian dalam Balaghah menunjukkan qasr, yaitu pembatasan yang bisa diartikan 'hanya'. Jadi arti ayat tersebut adalah "Hanya kepada Engkau saja kami menyembah, dan hanya kepada Engkau saja kami memohon pertolongan".

Pengulangan kata iyyaka untuk menegaskan ibadah dan istianah (meminta pertolongan) itu masing-masing khusus dihadapkan kepada Allah serta untuk dapat mencapai kelezatan munajat (berbicara) dengan Allah. Karena bagi seorang hamba Allah yang menyembah dengan segenap jiwa dan raganya tak ada yang lebih nikmat dan lezat perasaannya daripada bermunajat dengan Allah.

Baik juga diketahui dengan memakai iyyaka itu berarti menghadapkan pembicaraan kepada Allah, dengan maksud mengingat Allah, seakan-akan kita berada di hadapan-Nya, dan kepada-Nya diarahkan pembicaraan dengan khusyuk dan tawadhu. Seakan-akan kita berkata: "Ya Allah, Zat yang wajibul wujud, Yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, Yang menjaga dan memelihara seluruh alam, Yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya dengan berlipat ganda, Yang berkuasa di hari pembalasan, Engkau sajalah yang kami sembah, dan kepada Engkau sajalah kami minta pertolongan, karena hanya Engkau yang berhak disembah, dan hanya Engkau yang dapat menolong kami".

Dengan cara seperti itu orang akan lebih khusyuk dalam menyembah Allah dan lebih tergambar kepadanya kebesaran yang disembahnya itu.

Kata Na'budu lebih dulu disebut daripada kata Nasta'inu. Alasannya karena menyembah Allah adalah suatu kewajiban manusia terhadap Tuhannya. Tetapi pertolongan dari Allah kepada hamba-Nya adalah hak hamba itu. Maka Allah mengajar hamba-Nya agar menunaikan kewajibannya lebih dahulu, sebelum ia menuntut haknya.

Mengapa kalimatnya na'budu dan nasta'inu (kami menyembah, kami minta tolong), bukan a'budu dan astainu (saya menyembah dan saya minta tolong)? Ini adalah untuk memperlihatkan kelemahan manusia.

Tidak selayaknya manusia mengemukakan dirinya seorang saja dalam menyembah dan memohon pertolongan kepada Allah. Seakan-akan penunaian kewajiban beribadah dan permohonan pertolongan kepada Allah itu belum lagi sempurna, kecuali kalau dikerjakan bersama-sama. [yy/republika]