fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Syahadat Kunci Surga

Syahadat Kunci Surga

Fiqhislam.com - Bayangkanlah sebuah gerbang yang amat kokoh. Gerbang itu tertutup rapat dan hanya bisa dibuka jika kita memiliki kuncinya. Tak ada cara lain untuk membuka gerbang itu. Percuma saja kita memiliki tubuh yang kuat, pasukan yang banyak, atau harta yang berlimpah. Gerbang itu tak akan bisa terbuka.

Surga, tempat kembali manusia, juga begitu. Gerbangnya hanya bisa “dibuka” dengan satu “kunci”. Percuma kita memiliki harta yang berlimpah, tubuh yang gagah, pasukan yang banyak, bahkan dengan semua itu kita bisa melakukan berjuta kebaikan. Bila pada diri kita tak ada “kunci Surga”, tetap saja kita tak bisa masuk ke dalamnya. Bahkan sebaliknya, kita terpelanting ke neraka.

Apa kuncinya? Rasulullah Saw bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dengan ikhlas dari hatinya, maka ia (dijamin) masuk Surga.”

Dalam Hadits yang lain, Rasulullah Saw juga bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah laa ilaaha illallaah (tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah), maka ia akan masuk Surga.” (Riwayat Abu Dawud dari sahabat Muadz bin Jabal).

Syahadat adalah kunci Surga. Karena itu pula Imam Hasan Al-Bashri, sebagaimana tertulis dalam Al-Hujjah Fii Bayaanil Mahajjah, menegaskan bahwa “Barang siapa yang mengucapkan kalimat laa ilaaha illallaah disertai dengan menunaikan hak dan kewajiban (dari kalimat tauhid tersebut), niscaya dia masuk Surga.”

Tanpa syahadat, kebaikan sebesar apa pun, tak akan bernilai di mata Allah Ta’ala. Meskipun ia memiliki harta paling banyak di dunia, dan semua harta itu ia sumbangkan untuk kegiatan sosial, selagi ia tak bersyahadat, tetaplah ia pelaku kezaliman paling tinggi, yakni menolak untuk mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Tuhan yang wajib diibadahi, dan tak ada lagi Tuhan yang wajib diibadahi selain Dia.

Namun, seorang miskin yang tak memiliki apa-apa, namun mengakui secara ikhlas dari hatinya bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, maka pintu Surga terbuka untuknya.

Hanya saja, ikrar syahadat barulah gerbang awal memasuki gerbang kehidupan menuju Surga. Ia masih harus melangkah meniti jalan yang lurus sembari memohon kepada Allah Ta’ala agar tidak digelincirkan keluarke jalan yang bengkok hingga ajal menjemputnya. Sebagaimana perkataan Imam Hasan al-Bashri di atas, orang yang telah berikrar syahadat masih harus menunaikan hak dan kewajiban dari ikrar yang ia ucapkan.

Bahkan, ia pun harus menyertai ikrarnya dengan iman, bukan sekadar ucapan. Imam Muslim, dalam kitab sahihnya, menyebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda kepada para sahabat, “Kalian tidak akan masuk Surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai antarsesama. Maukah kalian, aku tunjukkan suatu perbuatan, jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai, yaitu tebarkan salam di antara kalian.”

Jadi, sayarat pertama seseorang akan masuk Surga setelah bersyahadat adalah beriman. Orang yang ragu-ragu tak akan mampu melangkah dengan mudah. Kakinya akan gampang tergelincir dan tercampak ke jalan yang bengkok.

Iman yang dimaksud tentulah iman dalam arti sesungguhnya, yaitu mempercayai adanya Allah Ta’ala dan meyakini bahwa Allah Ta’ala merupakan Tuhan alam semesta, Yang Maha Pencipta dan Mahakuasa atas segalanya. Kemudian percaya adanya malaikat-malaikat Allah dan meyakini bahwa mereka tidak pernah membangkang kepada Allah Ta’ala, dan selalu melaksanakan semua perintah-Nya.

Setelah itu percaya bahwa Allah Ta’ala menurunkan kitab suci sebagai pedoman bagi umat manusia agar mereka selamat di dunia dan akhirat. Percaya bahwa Allah Ta’ala mengutus para nabi dan rasul untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar. Percaya akan adanya hari kiamat dan kehidupan-kehidupan setelahnya sebagai hari pembalasan. Dan, percaya akan qadha dan qadar yang telah Allah tentukan bagi segenap makhluk-Nya.

Selain itu, pengejawantahan dari iman tersebut harus nyata terasa dan terlihat. Cabang iman saja ada lebih dari 70 sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Saw dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah. Kata Rasulullah Saw, “Iman itu ada tujuh puluh cabang atau lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan La ilaaha illallaah, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu termasuk bagian dari iman.”

Pengejawantahan iman yang paling mendasar adalah ketaatan, yakni tunduk dan patuh menjalankan segala perintah Allah Ta’ala, serta menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan perintah paling mendasar bagi seorang Muslim adalah apa yang termaktub dalam rukun Islam, yakni bersyahadat, shalat lima waktu, berpuasa dalam bulan Ramadhan, membayar zakat, dan menjalankan ibadah haji bagi mereka yang mampu.

Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Thalhah bin ‘Ubaidillâh, seorang Arab Badui berambut kusut pada suatu hari datang menemui Rasulullah Saw. Orang Badui itu bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku, shalat apa yang diwajibkan oleh Allah Azzawa Jalla atasku?”

Rasulullah Saw menjawab, “Shalat yang lima waktu, kecuali jika engkau mengerjakan salah satu yang disunnahkan.”

Orang Badui itu bertanya lagi, “Kabarkan kepadaku, puasa apa yang Allah Azza wa Jalla wajibkan atasku?”

Rasulullah Saw menjawab, “Puasa Ramadhan, kecuali jika engkau mau mengerjakan puasa yang sunnah.”

Kemudian, orang Badui itu kembali bertanya, “Kabarkanlah kepadaku, zakat apa yang Allah Azza wa Jalla wajibkan atasku?”

Rasulullah Saw lalu menjelaskan tentang syariat-syariat Islam kepada orang Badui itu.

Setelah itu, orang Badui itu berkata, “Demi (Allah Azza wa Jalla ) yang telah memuliakanmu dengan kebenaran, aku tidak mengerjakan suatu amalan sunnah dan aku tidak mengurangi apa yang telah Allah Azza wa Jalla wajibkan atasku sedikit pun.”

Maka Rasulullah Saw bersabda, “Jika ia benar (jujur), ia akan masuk Surga.”

Anas bin Malik menceritakan juga hadits serupa namun ada satu tambahan, yakni beribadah haji ke Baitullah bagi yang mampu menuju ke sana. Setelah menanyakan soal haji ini, barulah orang Arab Badui itu berkata, “Demi (Allah Azza wa Jalla ) yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambahnya dan tidak akan menguranginya.” Kemudian, Rasulullah Saw bersabda, “Jika ia benar (jujur), sungguh, ia akan masuk Surga.” Wallahu a’lam. [yy/hidayatullah]