27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Telinga Berdenging Tanda Rasulullah Saw Rindu kepada Umatnya, Benarkah?

Telinga Berdenging Tanda Rasulullah Saw Rindu kepada Umatnya, Benarkah?

Fiqhislam.com - Banyak orang bertanya kenapa telinga terkadang bersuara "Nging". Apa sebab musababnya telinga berdenging? Benarkah telinga berdenging tanda Nabi Muhammad Saw memanggil umatnya?

Pertanyaan di atas sering ditanyakan di berbagai majelis ilmu maupun kajian online. Ada yang mengatakan bahwa telinga berdenging adalah anjuran untuk bersholawat kepada Rasulullah Saw.

Dalam perspektif medis, telinga berdenging (berdengung) disebut tinnitus. Kondisi ini biasanya akan segera hilang dengan sendirinya. Penyebabnya bisa karena mendengar suara keras dalam jarak dekat seperti suara ledakan, suara mesin. Jika tingkat tinnitusnya parah umumnya disebabkan karena penyakit serius.

Menurut pendapat ulama, telinga berdenging diterangkan dalam Kitab Mu'jam Al-Kabir Imam Thobrony:"Menceritakan kepada kami Ahmad bin Amr al-Qathirani, menceritakan kepada kami Abu ar-Rabi’ az-Zahrani, menceritakan kepada kami Hibban bin Ali, dari Muhammad bin Ubaydillah bin Abi Rafi’, dari saudaranya, yaitu Abdillah bin Ubaydillah bin Abi Rafi’, dari ayahnya (Ubaydillah bin Abi Rafi’), dari kakeknya (Abi Rafi’, budak Rasulullah) berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam: "Jika berdengung telinga seseorang dari kalian, maka ingatlah aku, dan bershalawatlah atasku, dan katakan: "Dzakarollohu bi Khayrin man Dzakaroni (semoga Allah menyebut dengan kebaikan orang yang menyebutku)." (Al-Mu'jamul Kabir lithThobroni)

Benarkah ini Hadis dari Nabi?

Berikut penjelasan Ustaz Farid Nu'man Hasan (Dai lulusan Sastra Arab Universitas Indonesia). Para ulama berbeda pendapat tentang keshahihannya. Ada yang menyebut palsu, ada yang menyebut shahih.

Hadits yang dimaksud adalah sebagai berikut:Dari Abu Rafi' radhiallahu 'anhu, bahwa Nabi Saw bersabda:

إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي وَلْيُصَلِّ عَلَيَّ، وَلْيَقُلْ: ذَكَرَ اللَّهُ مَنْ ذَكَرَنِي بِخَيْرٍ

"Jika berdenging telinga salah seorang kalian maka ingatlah kepadaku dan bershalawatlah kepadaku, dan hendaknya dia berkata: DZAKARALLAHU MAN DZAKARANIY BIKHAIR (Allah akan mengingat siapa pun yang mengingatku dengan kebaikan)."

Hadis ini dikeluarkan oleh:
1. Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 958, Al Awsath No. 9222, Ash Shaghir No. 1104. Beliau berkata dalam Al Awsath: "Hadits ini tidak diriwayatkan oleh Abu Rafi’ kecuali dari isnad seperti ini, dan Ma’mar bin Muhammad menyendiri dalam meriwayatkannya."
2. Al ‘Uqaili dalam Adh Dhu’afa, 4/261, dia berkata: "Dia (Ma’mar bin Muhammad) haditsnya tidak bisa diikuti, dan dia tidak diketahui kecuali dengan isnad ini."
3. Ar-Ruyani dalam Musnad-nya No. 718
4. Al-Khara-ithiy dalamMakarimul Akhlaq No. 982
5. Ibnus Sunniy dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah No. 166
6. Al-Bazzar dalam Musnad-nya No. 3884, tanpa kalimat: "Bershalawatlah kepadaku"
7. Al-Baihaqi dalam Ad Da’awat Al Kabir No. 490
8. Yahya Asy Syajariy dalamTartib Al Amaliy No. 630

Tentang hadis di atas, Al-Hafizh As-Sakhawi mengatakan:

حَدِيث: إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي، وَلْيُصَلِّ عَلَيَّ، وَلْيَقُلْ ذَكَرَ اللَّه بِخَيْرٍ مَنْ ذَكَرَنِي بِخَيْرٍ، الطبراني وابن السني في عمل اليوم والليلة، والخرائطي في المكارم، وآخرون عن أبي رافع مرفوعا بهذا، وسنده ضعيف، بل قال العقيلي: إنه ليس له أصل

"Hadits Jika berdenging telinga salah seorang kalian maka ingatlah kepadaku dan bershalawatlah kepadaku, dan hendaknya dia berkata: DZAKARALLAHU MAN DZAKARANIY BIKHAIR (Allah akan mengingat siapa pun yang mengingatku dengan kebaikan)." Diriwayatkan oleh Ath Thabarani, Ibnus Sunniy dlm amalul.

Hal ini berdasarkan keterangan dari Kitab Azizi 'Ala Jami'ush Shaghir). "Jika telinga salah seorang kalian berdengung (Nging) maka hendaklah ia mengingat aku ( Rasulullah Saw ) dan membaca sholawat kepadaku. Serta mengucapkan "Dzakarallohu Man Dzakaronii Bikhoir" (artinya, Allah Ta'ala akan mengingat yang mengingatku dengan kebaikan)".

Dilansir dari konsultasisyariah.com, Hadis ini disebutkan oleh Al-Azizi dalam as-Siraj al-Munir atau yang dikenal dengan Azizi ‘Ala Jami’ush Shaghir, al-Kharaithi dalam Makarim al-Akkhlaq, al-Uqailli dalam al-Maudhu’at, dari jalur Muhammad bin Ubaidillah dari Ma’mar, dari bapaknya.

Imam Al-Bukhari mengatakan: "Ma’mar dan bapaknya, keduanya adalah munkarul hadis." (al-Lali’ al-Mashnu’ah, 2/242).

Sementara Ad-Daruquthni menyebut Muhammad bin Ubaidillah dengan 'Matruk' (perawi yang tidak diindahkan hadisnya).

Dari NU Onlinedisebutkan, masalah ini juga telah dibahas dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-11 di Banjarmasin pada tanggal 19 Rabiul Awwal 1355 H/9 Juni 1936. Dalam Muktamar itu dijelaskan bahwa suaran "Nging" dalam telinga menunjukkan bahwa Rasulullah sedang menyebut orang tersebut dalam perkumpulan yang tertinggi (Al-mala` Al-A'la) agar ia ingat kepada beliau dan bershalawat kepadanya.

Pandangan Muktamirin itu didasarkan kepada pendapat Abdurrauf Al-Munawi yang dikemukakan oleh 'Ali al-'Azizi dalam Kitab as-Siraj al-Munir:

قَالَ الْمُنَاوِيُّ فَإِنَّ اْلأُذُنَ إِنَّمَا تَطُنُّ لَمَّا وَرَدَ عَلَى الرُّوْحِ مِنَ الْخَبَرِ الْخَيْرِ وَهُوَ أَنَّ الْمُصْطَفَى قَدْ ذَكَرَ ذَلِكَ اْلإِنْسَانَ بِخَيْرٍ فِي الْمَلاَءِ اْلأَعْلَى فِيْ عَالَمِ اْلأَرْوَاحِ

"Imam Al-Munawi berkata: sesungguhnya telinga itu berdengung hanya ketika datang berita baik ke ruh, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menyebutkan orang (pemilik telinga yang berdengung) tersebut dengan kebaikan di Al-Mala' al-A'la (majelis tertinggi) di alam ruh." (Lihat Akamul Fuqaha)

Demikian penjelasan para ulama. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa bersholawat baik dalam keadaan telinga berdenging maupun tidak berdenging. Wallahu A'lam. [yy/Rusman H Siregar/sindonews]