pustaka.png
basmalah.png.orig


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Adab Makan dan Minum dalam Islam

Adab Makan dan Minum dalam Islam

Fiqhislam.com - Islam mengatur segala aktivitas hingga hal mendasar seperti hendak makan dan minum. Aturan tersebut bukanlah dibuat untuk menyulitkan umatnya, justru untuk mendapatkan keberkahan dalam setiap aktivitas termasuk makan dan minum.

Dikutip dari buku Makan dan Minum Sambil Berdiri Haramkah?, Syafri Muhammad Noor menyebutkan, ada tujuh adab makan dan minum sebagaimana diajarkan Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Terlepas dari perbedaan pendapat yang sudah dijelaskan oleh para ulama tentang hukum makan atau minum sambil berdiri, setidaknya secara medis sudah dijelaskan minum sambil duduk itu dianggap lebih baik daripada minum sambil berdiri atau sambil tiduran. Bahkan secara adat-istiadat, di sebagian tempat, makan dan minum sambil berdiri itu dianggap sebagai tindakan tidak sopan.

Mengucapkan Basmalah

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu anha:

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia mengatakan Bismillah (menyebut nama Allah Ta’ala). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya),” (HR. Tirmidzi).

Makan dan Minum dengan Tangan Kanan

Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia berkata, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanganku berseliweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Ghulam, sebutlah nama Allah (bacalah "Bismillah”), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu. (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Dalam potongan hadits lain yang diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu: “Sungguh, setan menghalalkan makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya. Setan datang bersama orang badui ini, dengannya setan ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Dan setan tersebut juga datang bersama budak wanita ini, dengannya ia ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan tersebut ada di tanganku bersama tangan mereka berdua,” (HR. Abu Daud no. 3766).

Tidak Meniup Minuman dan Makanan

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dijelaskan tentang larangan meniup untuk mendinginkan makanan atau minuman yang masih panas: “Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad SAW melarang mengembuskan nafas dan peniupan (makanan atau minuman) pada bejana,” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Minum dengan Tiga Tegukan

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian minum seperti minumnya hewan. Tetapi minumlah kalian dengan dua atau tiga kali, dan jika kalian minum sebutlah nama Allah (membaca basmalah), kemudian pujilah Dia (membaca hamdalah), ketika kalian mengangkatnya (selesai minum),” (HR. At-Tirmidzi).

Menuang Air ke Gelas Secukupnya

Hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ’anhuma: "Rasulullah melarang minum langsung dari mulut qirbah (wadah air yang terbuat dari kulit) atau wadah air minum yang lainnya,” (HR Bukhari no. 5627).

Mengucapkan Hamdalah

Sebagaimana yang sudah dipraktikkan Rasulullah, ketika beliau selesai dari makan atau minum, beliau membaca:

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ

“Puji syukur kepada Allah yang telah memberi makan dan memberi minum kepada kami serta menjadikan kami termasuk orang-orang Islam,” (HR. Abu Dawud). [yy/republika]