12 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 19 Oktober 2021

basmalah.png

Dibalik Kematian Ulama

Dibalik Kematian Ulama

Fiqhislam.com - Berbagai bencana (musibah) melanda, setidaknya bencana itu dapat diklasifikasikan menjadi empat macam, yakni bencana alam yang disebabkan kerusakan ekosistem, bencana sosial dikarenakan terkikisnya akhlak (adab), bencana ilmu sebab sirna ketulusan dan kejujuran ilmiah, dan bencana agama karena wafatnya para ulama.

Malapetaka yang timbul akibat wafatnya ulama yakni menjadikan agama sebagai bahan perdebatan atau permainan, bukan lagi tuntunan kehidupan. Agama hanya menjadi kendaraan politik, simbol dan aksesoris belaka tanpa jiwa dan pengamalan, sehingga tata kehidupan sosial menjadi tak beraturan.

Orang bijak berkata, “mautul ‘aalim mautul ‘aalam” (kematian ulama laksana kematian alam). Sebab, ulama adalah pembawa cahaya yang menerangi kehidupan semesta.

Abdullah Ibnu Amr Bin Ash RA menuturkan pesan dari Nabi SAW, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu sekaligus dari seorang hamba, akan tetapi dengan cara mewafatkan para ulama. Bilamana ulama sudah tiada, maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh (juhala). Jika ditanya suatu perkara, maka mereka akan berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan." (HR Bukhari).

Sejak pandemi Covid-19 melanda setahun lalu, korban meninggal dunia telah menembus angka 30 ribu orang. Belum termasuk ulama yang wafat karena sebab-sebab lain. Sekitar 250 di antaranya adalah ulama atau tokoh panutan umat. Dua di antaranya adalah Syekh Ali Jaber dan Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf.

Jika ulama wafat, maka dibutuhkan waktu yang lama mencari penggantinya. Sebab, ulama mumpuni tidak lahir secara instan dan karbitan, tetapi melalui proses pendidikan yang berkesinambungan.

Sejatinya, jangankan ulama sudah tiada, bahkan ketika mereka masih hidup pun tapi dijauhi, akan mendatangkan petaka. Syekh Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam kitab “Nashaihul ‘Ibad” menukil pesan Nabi SAW bahwa jika manusia menjauhi ulama dan fuqaha, maka Allah SWT. akan menimpakan tiga bencana, yakni hilang keberkahan dari segala usaha, muncul penguasa yang zalim di tengah mereka, dan dikeluarkan dari dunia tanpa iman.

Lalu, apa yang harus pelajaran di balik kematian ulama? Prof KH Didin Hafidhuddin mengemukakan tiga hal penting, yakni pertama, ulama adalah pewaris para nabi, sehingga kita wajib memuliakan (HR Abu Daud). Kita mesti berguru kepada ulama yang saleh dan istiqamah di jalan dakwah. Sebab, mereka yang mewarisi keilmuan Nabi SAW dan rujukan kebenaran agama.

Kedua, ulama itu bagaikan suluh (nur) yang menerangi kegelapan hati dan pikiran manusia. Jika ulama wafat, itu berarti hilanglah cahaya ilmu dari muka bumi. Artinya, umat akan kehilangan panutan, penuntun dan penunjuk jalan menuju Allah SWT.

Ketiga, pentingnya kaderisasi ulama dilakukan oleh lembaga pendidikan dan dakwah, seperti Dewan Dakwah Islam Indonesia, Baznas dan ormas Islam lainnya. Jika kita bukan ulama, maka jadilah pendukung ulama dan ikut melahirkan calon ulama di masa depan.

Inilah sekelumit hikmah di balik kematian ulama yang mesti dijadikan pelajaran berharga. Allahu a’lam bish-shawab. [yy/republika]

Oleh Hasan Basri Tanjung