fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Betapa Cepat Usia Berpacu

Betapa Cepat Usia Berpacu

Fiqhislam.com - ”Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar merugi. Kecuali mereka yang beriman, beramal shalih dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat-manasehati dalam kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3).

Umur manusia tidaklah lama. Kadang memang tak terbayangkan, 50 tahun seberapa panjang. Tetapi setelah dijalani, tanpa terasa begitu cepat terlampaui. Orang sering mengeluhkan ketertinggalannya dibanding laju umurnya sendiri.

Memang waktu tak bisa dicegah. Ia terus berjalan, berputar menapaki pergantian siang dan malam. Berulang-ulang, tahu-tahu tahun telah berganti.

Apakah yang kita rasakan dengan pergantian waktu itu? Umur bertambah itu jelas. Tetapi arti apakah yang kita dapatkan dari pertambahan umur itu? maka kali ini kita akan mencermati pertambahan umur, sesuatu yang tak mungkin bisa kita hindari.

Usia setiap makhluk ada batasnya. Batas itu telah ditetapkan oleh Allah, yang disebut ajal. Jatah itulah yang dibagi dalam tahun, bulan, hari, jam, menit dan detik yang ditapaki sejalan dengan denyutan jantung makhluk itu. Setiap pertambahan waktu satu detik berarti pengurangan jatah umur sedetik pula. Kalau kita tak pernah sempat mengingatnya, maka tahu-tahu umur kita telah berkurang sekian tahun. Ajal pun telah mendekat dalam panjang tahun yang sama pula.

Toh akhirnya batas itu akan tercapai juga. Tak mungkin tidak. Persoalnnya, kita tak pernah tahu, sampai dimana batas direntangkan. Tak seorang pun tahu, kapan ia mesti kembali menghadap Tuhannya.

Tiga kali Allah dalam Al-Quran menegaskan, bahwa setiap yang berjiwa akan mati, dengan lafal yang sama.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya di Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalami…..” (QS: Al ‘Imran [3]:185.

Itu sebuah penegasan yang sangat perlu mendapatkan perhatian. Bahwa semuanya akan menjadi tiada pada saatnya. Ini masih ditambah dengan firman penegasan yang lain.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Bagi setiap ummat ada ketetapan ajal. Maka apabila telah datang waktunya (ajal) tak seorangpun mampu mengundurkan ataupun memajukannya.” (QS: Al-A’raf:34).

Sangat tegas Allah memberitahukan, tak ada yang mampu menundanya ataupun mempercepat kedatangan mati. Bagaimana dengan dokter?

Sekalipun dokter yang sangat ahli. Kalaulah ada orang yang bisa diselamatkan dengan upaya sedemikian rupa, padahal sebelum itu kondisinya sudah tak beda dengan orang mati, maka pasti memang belum datang saat kematian. Ketentuan Allah memang menyebutkan, orang itu belum meninggal pada saat itu.

Apakah dengan demikian berarti kita tak perlu mengupayakan ‘memperpanjang umur’ dengan keyakinan kita tidak akan meninggal sebelum ketentuan Allah datang? Tentu saja pendapat demikian salah besar. Sebab tak seorangpun tahu, bagaimana ketentuan Allah terhadap dirinya.

Bagaimana bisa yakin bahwa ketentuan kematian belum akan datang? Selama hayat masih di kandung badan, upaya harus tetap dilakukan. Yang perlu kita bayangkan bukanlah telah datangnya saat kematian, melainkan masih adanya denyut kehidupan.

Yang bisa diketahui manusia soal mati hanyalah fenomenanya saja. Sebatas pada gejala dan definisi. Kalau ‘hidup’ diartikan sebagai bekerjanya fungsi organ tubuh, maka ‘mati’ adalah saat di mana semua fungsi itu terhenti. Organ itu sendiri masih ada, dan mungkin juga masih utuh. Tetapi tidak bisa dipergunakan lagi. Dipukulpun, orang mati tidak akan bereaksi, karena memang sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Kondisi demikian itu akan segera kita rasakan. Menjadi orang mati. Tamat sudah riwayat hidup kita. Kemabli ke dunia sunyi, disertai catatan amal kita sendiri-sendiri. Di situlah kalau kita hendak meratapi, menyesali sejarah hidup selama di dunia.

Tetapi penyesalan sudah tiada arti. Sejak saat kematian itu, dalam waktu yang tak terhingga kita akan selalu berhadapan dengan berbagai konsekuensi atas apa yang kita lakukan semasa hidup.

Mereka yang menyia-nyiakan umurnya, niscaya akan menyesal selama-lamanya. Sedang sesal dalam satu jam saja sudah sering membuat kita dongkol, bisa berakibat berhari-hari dirundung ketidakenakan; makan tak bernafsu, semua serba salah. Apalagi selama-lamanya!

Maka firman Allah dalam salah satu ayat-Nya;

وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan berinfaqlah dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu, sebelum datang kematian atas salah seorang dari kamu lalu ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, mengapa tidak engkau beri kelonggaran waktu beberapa saat? (Kalau demikian) niscaya aku akan bersedekah dan menjadilah aku golongan yang shalih’. Tetapi tidaklah Allah akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang saatnya. Dan Allah Maha Melihat apa saja yang kamu lakukan.” (QS:. Al-Munafiqun: 10-11).

Sebelum terlambat dan sebelum semuanya terjadi, marilah kita bertaubat dan memperbaiki diri. Hidup hanyalah sebuah ujian.

Dan betapapun singkatnya, hidup di dunia itulah yang akan menentukan nasib di alam kekal. Dan, karena hidup dibagi dalam batas hari, marilah kita bagi hari itu dengan sebaik-baiknya.

Jangan sampai terjadi, kita senantiasa tak kebagian waktu untuk memenuhi panggilan-Nya, hanya karena sibuk mengurus dunia. Betapa rugi, bersusah payah mengejar sukses di dunia, ternyata di akhirat itu semua tak ada artinya. Padahal, akhirat itulah masa depan kita yang sebenar-benarnya. [yy/hidayatullah]

    • Al-Qalam, edisi : 48/VII, 24 Ramadhan 1418