fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Al-Qahhar, Allah Yang Maha Menundukkan

Al-Qahhar, Allah Yang Maha Menundukkan

Fiqhislam.com - Nama terbaik Allah SWT yang menunjukkan kebesaran dan keperkasaan-Nya adalah al-Qahhar. Kata “al-Qahhar” merupakan bentuk superlative (mubalaghah) dari Qahir. Qahir yang berarti: perkasa, sangat kuat dan dahsyat, sehingga berkuasa dalam menjinakkan dan menundukkan segala sesuatu demi suatu tujuan tertentu.

Manusia yang mengimani Allah sebagai al-Qahhar harus bersikap rendah hati, tidak arogan dan sombong, karena segala sesuatu yang ada di alam raya ini berada dalam genggaman kekuasaan-Nya. Namun, tidak sedikit manusia yang bersifat angkuh, berlaku diktator, dan sewenang-wenang dalam menjalankan kekuasaannya.

Seharusnya, dengan memahami hakikat al-Qahhar, hamba menyadari sepenuh hati pentingnya menyerah, tunduk, dan patuh kepada Allah, karena Dialah Pencipta dan Pengatur langit dan bumi berikut isinya.

Menyerah, tunduk, dan patuh kepada Allah adalah jalan iman dan Islam (istislam) yang benar dan lurus. Komitmen teologis (tauhid ubudiyah) tersebut idealnya membuat hamba selalu memohon perlindungan kepada Al-Qahhar dan menyerahkan segala tipu daya (makar) musuh-musuh Islam, ketika mereka membenci, antipati, dan bermakar menghancurkan Islam.

Oleh karena itu, umat Islam harus meyakini Allah itu sebaik-baik pembalas tipu daya orang-orang kafir yang memusuhi Islam.

Al-Qahhar Maha Menundukkan

Selain maha menundukkan kehidupan dunia, al-Qahhar juga Penguasa hari kiamat dan hari pembalasan. Di akhirat kelak, Allah Maha Menundukkan semua makhluk, termasuk manusia, sehingga Dia berkuasa menghidupkan kembali semua manusia dan mengumpulkannya di padang Mahsyar.

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa,” (QS Ibrahim [14]: 48).

Jika semua manusia akan kembali kepada Allah, dan akan dihidupkan dan dibangkitkan dari kematiannya di akhirat untuk dimintai pertanggung jawabannya terhadap amal perbuatannya selama hidup di dunia, maka setiap harus memiliki kesadaran eskatologis, kesadaran akan pentingnya percaya hari akhir itu ada. Sedangkan penguasanya adalah Allah, yang juga Maha Mengumpulkan, Menghisab dan Mengadili semua manusia.

Kesadaran eskatologis ini mestinya dapat menyadarkan hamba untuk mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat dengan trilogi iman, ilmu, dan amal shalih sekaligus sinergi iman, islam, dan ihsan yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena akuntabilitas pengadilan Allah di akhirat itu tidak dapat diintervensi dan dikalahkan oleh siapa pun.

Al-Qahhar itu pemegang supremasi pengadilan dan pembalasan di akhirat yang membuat semua manusia bertekuk lutut di hadapan-Nya. Karena itu, ketundukan yang paling indah adalah tunduk secara totalitas kepada al-Qahhar dengan mendekatkan diri kepada-Nya. [yy/republika]

Muhbib Abdul Wahab

    • Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan Sekretaris Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah.
    • Sumber: Majalah SM Edisi 21 Tahun 2017