fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

3 Syarat Menjadi Umat Terbaik Menurut Surat Ali Imran

Quran iman ilmu

Fiqhislam.com - Dalam surat Ali Imran ayat 110, Allah menjelaskan ada tiga syarat untuk menjadi umat terbaik. Adapun bunyi ayat tersebut yaitu

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ

Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi ta`murụna bil-ma'rụfi wa tan-hauna 'anil-mungkari wa tu`minụna billāh.

“Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.”

Pendiri Pusat Studi Alquran (PSQ), Prof M Quraish Shihab, mengatakan dalam bukunya wasathiyyah, ayat ini sangat jelas menjadi penafsiran dari ayat yang berbicara tentang umat Islam sebagai ummatan wasathan.

Tiga syarat utama itu adalah amar makruf, nahi munkar, dan beriman kepada Allah SWT. Sayyidina Umar bin Khattab RA sebagaimana diriwayatkan Ibnu Jarir at-Thabari mengatakan “Siapa yang ingin meraih keistimewaan ini, hendaklah dia memenuhi syarat yang ditetapkan Allah itu.” Ayat di atas diperkuat surat Ali Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Waltakum mingkum ummatuy yad'ụna ilal-khairi wa ya`murụna bil-ma'rụfi wa yan-hauna 'anil-mungkar, wa ulā`ika humul-mufliḥụn.

“Hendaklah ada di antara kamu (atau setiap orang di antara kamu) menjadi bagian dari sekelompok umat yang mengajak pada kebajikan, menyuruh pada yang makruf, dan melarang yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Ayat 104 secara tegas pula memerintahkan umat Islam agar mengajak kebajikan, memerintah yang makruf dan melarang yang mungkar. Dua syarat tersebut sama dengan yang disebutkan dalam ayat 110 sedangkan syarat ketiga penempatannya berbeda. Namun, kandungannya serupa.

Kalimat yad'ụna ilal khayr pada ayat 104 sejalan dengan tu`minụna billāhpada ayat 110. Keduanya mengandung keimanan yang dibuktikan pengamalan menyangkut nilai-nilai ilahi.

Dari kedua ayat tersebut terlihat ummatan wasathan ditandai dengan ajakan kebaikan karena tidak dapat disangkal pengetahuan yang dimiliki seseorang, bahkan kemampuannya mengamalkan sesuatu dapat hilang. Ini jika tidak ada yang mengingatkannya atau tidak diulangi pengerjaannya.

Di sisi lain, pengetahuan dan pengamalan saling erat berkaitan. Pengetahuan mendorong pada pengamalan dan peningkatan kualitas amal sedangkan pengamalan yang terlihat dalam kenyataan kehidupan merupakan guru.

Oleh karena itu, masyarakat perlu selalu diingatkan dan diberi keteladanan. Ini yang menjadi dakwah Islamiyah. Dari sini lahir tuntunan ayat dan terlihat keterkaitannya dengan kedudukan umat Islam sebagai sebaik-baik umat sekaligus ummatan wasathan.

Jika tidak semua anggota masyarakat dapat melaksanakan fungsi dakwah, paling tidak harus ada sekelompok yang tampil memberi bimbingan sekaligus memberi teladan yang nasihatnya didengar dan pengamalannya diikuti. Itu pun harus berlangsung secara terus-menerus tanpa bosan dan lelah. [yy/republika]