pustaka.png
basmalah.png


5 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 15 Juni 2021

Sedekahnya Orang Miskin

Sedekahnya Orang Miskin

Fiqhislam.com - Suatu hari, Baginda Rasulullah SAW didatangi oleh sekelompok fakir dari kaum Muhajirin. Mereka mengadu dan mencurahkan kegundahan hati kepadanya. “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat dan juga berpuasa seperti kami berpuasa. Namun mereka mampu bersedekah dengan kelebihan hartanya.”

Lantas Rasulullah menghibur mereka dengan pertanyaan yang indah. “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian jalan untuk bersedekah? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap takbir ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah dan mendatangi istrimu adalah sedekah.” (HR. Muslim).

Sedekah merupakan ajaran Islam yang berdimensi sosial (keumatan). Dalam Alquran dan Hadits bertebaran ajakan-ajakan untuk bersedekah dan keutamaannya. Allah SWT telah menjanjikan balasan bagi yang menginfakkan hartanya minimal 700 kali lipat (QS 2: 261).

Maka dari itu, tidak heran apabila banyak orang kaya pada zaman Nabi SAW yang bersedekah sebagian besar atau hampir seluruh hartanya, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang kebutuhan hariannya pun belum tercukupi sebagaimana mestinya?

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz menulis dalam kitabnya Syarhul Arba’in An-Nawawiyah, bahwa sedekah bermakna, “menyampaikan kebaikan dan kemanfaatan bagi orang lain”. Hemat beliau, sedekah bukanlah sebatas pemberian harta atau material kepada orang lain. Dalam Hadits ini pun, Nabi SAW. menjelaskan kepada kita betapa luasnya makna sedekah.

Salah satunya ialah dengan bertasbih (subahanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (laa ilaha illa Allah) dan dzikir lainnya. Dengan menyebutnya kita akan mendapatkan pahala dan ampunan dosa meski sebanyak buih di lautan (HR Ahmad, Darimi, Maliki). Itulah salah satu implementasi dari “Menyampaikan kebaikan dan manfaat”, kendati tertuju pada diri sendiri.

Allah Jalla Wa ‘Alaa pun bersedekah kepada hamba-Nya. Ketika itu Rasulullah ditanya oleh sahabat tentang mempersingkat shalat dalam perjalanan, beliau pun menjawab “Itu (qashar shalat) sedekah Allah kepada kalian, maka terimalah sedekah tersebut.” (HR Muslim)

Imam Ibnu Daqiq Al-‘Iid dalam karyanya Syarhul Arba’in Hadisan An-Nawawiyah menjelaskan, sesungguhnya menghadirkan niat baik pada hal-hal yang dibolehkan, seperti makan, tidur, berbisnis dan sebagainya akan membuahkan ketaatan kepada Allah SWT. Maka perbuatan tadi pun bernilai sedekah kepada diri sendiri.

Beranjak dari pemaparan di atas, paling tidak ada dua intisari yang dapat kita serap:

Pertama, bentuk ibadah sosial yang variatif. Artinya, sedekah tidak hanya berwujud dengan uang (material), tapi juga seluruh amal (ucapan dan perbuatan) yang menunjukkan kepada kebaikan dan melarang dari keburukan. Begitu ditegaskan oleh Syeikh Hisyam Kamil dalam kitabnya, Tuhfatul Kiram.

Kedua, ajaran bersedekah diperuntukkan bagi semua kalangan, bukan hanya orang berada akan tetapi juga yang papa. Sesungguhnya Rasulullah tidak memberatkan orang fakir untuk jadi orang kaya, tapi mengarahkan mereka kepada jalan yang sesuai dengan kapabilitas masing-masing. Bersedekah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, baik harta, tenaga, waktu, ilmu, pengalaman dan lainnya.

Hadits di atas mengajarkan kita bahwa bagaimanapun kondisi kita, tetap harus bersedekah. Rasulullah SAW menyuruh orang-orang kaya dengan keluasan rezekinya mengulurkan tangan untuk menolong mereka yang membutuhkan. Lalu, Beliau pun menyemangati kaum fakir dan miskin bersedekah dengan kalimah toyyibah dan amal kebaikan lainnya seperti menyingkirkan duri dari jalan. Maka Itulah sedekahnya orang-orang miskin. Wallahu’alam bishowab. [yy/republika]

Oleh  Ihza Aulia Sururi Tanjung