27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Mizan, Ketika Amal Manusia Ditimbang

Mizan, Ketika Amal Manusia Ditimbang

Fiqhislam.com - Amal ibadah manusia akan dipertanggung jawabkan di hari akhirat kelak. Allah Maha Mengetahui bahwa ada setan yang selalu merayu dan mengganggu manusia. Oleh karena itu, Allah masih menoleransi orang-orang yang melakukan dosa, selama beban dosanya tidak lebih berat dari beban kebaikannya.

Dalam konteksi ini, Allah menyebutnya sebagai Mizan atau Timbangan. Dalam surat al-A’raf ayat 8-9, Allah berfirman:

وَالْوَزْنُ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْحَقُّۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يَظْلِمُوْنَ

Wal-waznu yauma`iżinil-ḥaqq, fa man ṡaqulat mawāzīnuhụ fa ulā`ika humul-mufliḥụn. Wa man khaffat mawāzīnuhụ fa ulā`ikallażīna khasirū anfusahum bimā kānụ bi`āyātinā yaẓlimụn.

Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung, dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.

Pakar Tafsir Alquran asal Indonesia, Prof. M. Quraish Shihab mengatakan dalam bukunya, Kematian Adalah Nikmat, maksud dari ayat tersebut adalah Timbangan (yang digunakan menimbang amal-amal manusia) pada hari (Kebangkitan) adalah kebenaran. Bisa juga dikatakan yang berlaku pada hari itu adalah timbangan yang penuh keadilan, tidak ada kecurangan. Semuanya benar, tidak ada yang berlebih atau berkurang sedikit pun.

Oleh karena itu, mereka yang memiliki timbangan kebaikan berat, maka mereka mempunyai kedudukan tinggi dan memperoleh surga. Namun, mereka yang memiliki timbangan kebaikan lebih rendah daripada timbangan keburukan digolongkan orang yang merugi. Sebab, mereka jauh dari rahmat Allah.

Mayoritas ulama berpendapat, amal kebaikan dan kejahatan setiap orang akan ditimbang serta nasib seseorang ditentukan dari hasil timbangan mana yang lebih berat. Ada pula ulama yang berpendapat timbangan berfungsi untuk menampilkan beratnya amal kebajikan dan ringannya amal buruk.

Jadi, amal yang tidak memenuhi syarat atau disebut amal buruk pasti timbangannya ringan. Sedangkan amal baik akan berat. Setiap amal memiliki tolok ukur untuk diterima Allah dan yang tidak memenuhi tolok ukur akan ditolak.

Semakin banyak amal baik, semakin berat timbangan dan semakin banyak amal buruk, semakin ringan timbangan. Bahkan, bisa jadi timbangan seseorang tidak memiliki berat sama sekali. Shalat yang diterima Allah, ada syarat berat yang harus dipenuhi. Jika kurang dari syarat itu, akan ditolak, termasuk zakat, haji, dan setiap amal baik manusia.

Yang jelas, Muslim harus percaya akan hari Kemudian dan ada yang disebut penimbangan amal. Terkait cara menimbang dan alatnya, tidak perlu diketahui. Terpenting, Muslim harus percaya ketika itu, keadilan Allah akan sangat nyata dan sempurna dan tak ada seorang pun walau yang terhukum mengingkari keadilan itu. [yy/republika]