27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Bukti Bani Israil Sesat dalam Al-Quran dan Perjanjian Lama

Bukti Bani Israil Sesat dalam Al-Quran dan Perjanjian Lama

Fiqhislam.com - Bagi umat Islam, informasi yang disebutkan dalam Alquran merupakan informasi yang valid karena merupakan wahyu Allah SWT.

Demikian, salah satu informasi yang disebutkan Alquran adalah tentang kerusakan yang dilakukan Bani Israil sebanyak dua kali di dunia.

Hal ini sebagiamana firman Allah SWT dalam surat al-Isra’ ayat 4, 5, dan 7. Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Al-Isra ayat 4:

وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرً

“Wa qadhaina ilaa Bani Israila fil-kitabi latufsidunna fil ardhi marrataini walata’luna uluwwan kabiran.”

“Telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Al-Kitab: ‘Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.’

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا

“Faidza ja-aa wa’du ulaahuma ba’atsna alaikum ibadan lanaa uli ba’sin syadidin fajaasuu khilaala ad-diyaari wa kaana wa’dan maf’ulan.”

“Maka apabila datang saat hukuman bagi yang pertama dan keduanya, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang memiliki kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela masuk ke kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang terlaksana.”

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

“In ahsantum ahsantum li-anfusikum, wa in asa’tum falaha faidza ja-a wa’dul-akhirati liyasu-u wujuhakum waliyadkhulul-masjida kamaa dakhaluhu awwala marratin waliyutabbiruu maa alau tatbiran.”

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.”

Pakar ilmu tafsir Prof Quraish Shihab, dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW menjelaskan, para ulama saling berbeda pendapat mengenai ayat-ayat tersebut perihal hamba-hamba Allah yang menyiksa dan membinasakan Bani Israil.

Namun yang jelas secara informasi, beliau menekankan, sejarah menginformasikan bahwa masyarakat Bani Israil termasuk putra-putra Nabi Sulaiman sepeninggal ayah dan pimpinan mereka yang nabi dan raja itu, telah menyimpang jauh dari tuntunan kitab suci.

Sebagian kedurhakaan Bani Israil bahkan diabadaikan dalam Kitab Perjanjian Lama, seperti bahwa mereka pernah menyembah apa yang mereka percayai sebagai dewa bintang-bintang dan mempersembahkan anak kandung sebagai sesaji.

Kemudian, Prof Quraish menjelaskan, di tempat peribadatan yang suci, mereka menyediakan apa yang dinamai sebagai kedeshdoth, yakni wanita-wanita yang pekerjaannya adalah menjual diri guna pemenuhan birahi laki-laki. Serta imbalan yang mereka peroleh dimasukkan ke kas rumah peribadatan itu.

Ada juga yang disebut sebagai kadeshim, yakni pelacur-pelacur lelaki. Untuk maksud tersebut disediakan kamar khusus atau dalam istilah mereka dikenal dengan sebutan petak-petak pelacuran bakti. Yang mana itu terdapat di rumah ‘Tuhan’ itu.

Prof Quraish menjabarkan, betapapun berbeda-beda pendapat tentang siapa yang melakukan penyiksaan, namun yang jelas Bani Israil memang menyimpang dari tuntunan Allah SWT dan Rasul lalu mereka telah mengalami siksa.

Yang mana itu bukan hanya dua kali, atau oleh dua kekuasaan, melainkan telah mengalaminya berkali-kali. Walau ada dua di antaranya sangat besar, dan itulah yang digarisbawahi oleh ketiga ayat dala surah yang sama dalam Alquran itu.

Bani Israil merupakan umat Nabi Musa yang beragama Yahudi, di mana pada abad ke-5 dan ke-6 Masehi. Nabi Musa kala itu datang dan diutus Allah kepada umatnya untuk menyembah Allah SWT. Agama Yahudi yang dibawa Nabi Musa AS, menurut Prof Quraish, telah menjadi ajaran yang sangat kaku, ia menjadi tradisi yang tanpa ruh.

Pada perjalanannya, kepercayaan tentang keesaan Tuhan yang diajarkan Nabi Musa luntur akibat pengaruh budaya serta adat kebiasaan masyarakat sekitarnya. [yy/republika]