12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Apakah Setan Berani Mengaku Nabi dalam Mimpi Seseorang?

Apakah Setan Berani Mengaku Nabi dalam Mimpi Seseorang?

Fiqhislam.com - Kita perlu membahas mengenai apakah setiap orang yang bermimpi “bertemu nabi SAW” itu telah mendapatkan Ru’ya Shodiqoh, karena ada hadis yang menerangkan bahwa jika seseorang berjumpa dengan Rasulullah SAW, maka dia betul-betul berjumpa dengan beliau SAW, sedangkan setan tidak bisa menyerupai beliau SAW. Ataukah ada kemungkinan setan berani mengaku sebagai Rasulullah SAW, dengan tetap tidak bisa menyerupai wujud fisik beliau SAW.

Sebelum membahas apakah setan bisa mengaku dirinya sebagai Rosulullah SAW dan menemui seseorang dalam mimpi, kita perlu mengingat bahwa di dalam kehidupan nyata, ada manusia yang mengaku sebagai tuhan, juga ada manusia yang mengaku sebagai nabi. Firaun mengaku sebagai tuhan, Musailamah mengaku sebagai nabi.

Banyak pula riwayat mengenai dua orang alim yang berselisih tentang mana yang lebih buruk antara orang alim yang fasik dan orang bodoh ahli ibadah. Mereka kemudian berpura-pura memberikan wahyu kepada dua orang tersebut, dan terbukti bahwa orang alim yang masih fasiq itu lebih baik daripada orang bodoh yang ahli ibadah, karena si bodoh percaya bahwa yang didengarnya adalah suara tuhan. Kisah ini di antaranya disebutkan dalam kitab Maroq al-Ubudiyah karya Syekh Nawawi.

Dalam riwayat yang populer juga disebutkan bahwa ada setan yang mengganggu Syekh Abdul Qadir al-Jilaniy dengan cara mengaku sebagai Tuhan.

Mengenai kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jilaniy ini, berikut teks dari Syekh Muhammad Sholih Al-Munajjid, seorang ulama Salafi (Wahabi) dari Suriah, dalam salah satu fatwanya mengenai kemungkinan setan berani mengaku sebagai Tuhan dan sebagai Rasulullah SAW:

وقد وقع أعظم من ذلك للشيخ عبد القادر الجيلاني رحمه الله حيث رأى جالساً على عرش بين السماء والأرض يقول له : أنا ربك ؟ فقال: اخسأ عدو الله إنك إبليس . فقال : كيف عرفت أني إبليس قال : لأن الله عز وجل لا نراه في الدنيا حتى نموت ، ولأنك قلت : أنا ربك ، ولم تجرؤ أن تقول : أنا الله

Sebagaimana Dajjal dan Firaun, Setan juga berani mengaku sebagai tuhan untuk menyesatkan manusia. Maka dia juga pasti berani mengaku sebagai nabi. Setan juga tentunya berani mengaku sebagai Rasulullah SAW dalam mimpi seseorang yang bodoh di zaman ini, yang tentu saja tidak pernah melihat fisik Rasulullah SAW serta tidak mengaji mengenai sifat-sifat fisik Rasulullah SAW dalam kitab-kitab hadits, lalu mengajarinya sesuatu yang menyimpang.

Mengenai hal ini, Syekh Shalih Al-Munajjid berkata:

أما أن يأتي الشيطان في صورة أخرى سواء في اليقظة أو في المنام ثم يكذب ويقول : إني رسول الله صلى الله عليه وسلم فهذا من الكذب ، وليس هي رؤية النبي صلى الله عليه وسلم

Jadi, bisa saja setan menjumpai seseorang dalam mimpi maupun dalam keadaan terjaga, lalu mengaku dirinya adalah Rasulullah SAW. Orang bodoh yang tidak megerti sifat-sifat nabi, tidak mengerti ajaran Islam secara mendalam, bisa saja tertipu oleh setan yang mengaku-aku sebagai Rasulullah SAW.

Bisa jadi setan akan menampakkan diri sebagai orang yang berwibawa dan bercahaya, lalu orang bodoh percaya bahwa itu adalah Rasulullah SAW, karena dia tidak pernah berjumpa langsung dengan beliau SAW, sehingga tidak tahu bedanya, berbeda dengan para sahabat RA yang pernah berjumpa langsung dengan beliau SAW.

Ibnu Taimiyah mengatakan jika ada orang (bukan sahabat nabi) mengaku bertemu Rasulullah SAW dengan ciri-ciri yang tidak sesuai yang dikhabarkan dalam hadis-hadis sahih, maka yang dilihatnya itu adalah setan yang berdusta. Ibnu Taimiyah mengatakan:

أن هذه الصورة كذب ، وهي من الشيطان

Artinya, setan berani mengaku sebagai Rasulullah SAW dalam mimpi seseorang.
Abdullah Ibnu Baz, ulama rujukan kerajaan Arab Saudi mengatakan dalam fatwanya bahwa setan bisa dan berani berbohong mengaku sebagai Rasulullah SAW dalam mimpi seseorang. Setan tidak akan bisa menyerupai fisik Rasulullah SAW, tetapi dia berani mengaku sebagai Rasulullah SAW. Berikut ini teks fatwa Ibnu Baz:

أما من رآه عليه الصلاة والسلام على غير صورته فإن رؤياه تكون كاذبة كأن يراه أمرد لا لحية له، أو يراه أسود اللون أو ما أشبه ذلك من الصفات المخالفة لصفته عليه الصلاة والسلام؛ لأنه قال عليه الصلاة والسلام: «فإن الشيطان لا يتمثل في صورتي» فدل ذلك على أن الشيطان قد يتمثل في غير صورته عليه الصلاة والسلام ويدعي أنه الرسول صلى الله عليه وسلم من أجل إضلال الناس والتلبيس عليهم. ثم ليس كل من ادعى رؤيته صلى الله عليه وسلم يكون صادقًا، وإنما تقبل دعوى ذلك من الثقات المعروفين بالصدق والاستقامة على شريعة الله سبحانه،

Klaim tentang mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW dalam mimpi juga tidak boleh diterima dari setiap orang yang mengakuinya. Para ulama mengatakan, yang boleh diterima klaimnya adalah orang yang saleh dan berjalan di atas ilmu dan syariat Islam yang benar.

Mimpi itu bermacam-macam, tidak semuanya pasti benar dan merupakan bagian dari nubuwwah. Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits, di mana Rasulullah SAW bersabda:

وَالرُّؤْيَا ثَلاَثَةٌ: فَرُؤْيَا الصَّالِحَةِ بُشْرَى مِنَ اللهِ، وَرُؤْيَا تَحْزِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَرُؤْيَا مِمَّا يُحَدِّثُ الْمَرْءُ نَفْسَهُ

Imam Al-Baghowiy dalam Syarhus Sunnah mengatakan:

وقوله: «الرُّؤْيَا ثَلَاثَةٌ» فيه بيان أن ليس كل ما يراه الإنسان في منامه يكون صحيحًا، ويجوز تعبيره

Jadi namanya mimpi, bisa saja dia benar dari Allah sebagai “Busyro”, bisa juga dari setan, bisa juga “haditsunnafsi” atau bunga-bunga tidur.

Apa Tindakan Terhadap Pendusta Atas Nama Allah dan Rasulnya?

Adapun orang yang berbohong bahwa dirinya telah bermimpi berjumpa atau didatangi Rasulullah SAW, maka dia adalah seorang pendusta besar. Dia telah berdusta atas nama Allah dan berbohong atas nama Rasulullah SAW.

Jika dalam kebohongannya tersebut terbukti dia memiliki motif yang bisa menimbulkan kerusakan dan kegaduhan, maka pemerintahan yang sah perlu memberlakukan hukuman dan tindakan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Pelaku kebohongan atas nama nabi SAW tidak dibenarkan mengaku melakukan kebohongan tersebut demi kebaikan atas nama apapun; misalnya untuk menghibur orang, atau membuat orang lebih semangat dalam ber-Islam. Dalam hal ini, Ibnu Hajr mengatakan:

قال ابن حجر : ومعناه - أي الحديث - : لا تنسبوا الكذب إليَّ ، ولا مفهوم لقوله : (عليَّ) ؛ لأنه لا يتصور أن يكذب له لنهيه عن مطلق الكذب . (انتهى) . و(لسان العرب) يفيد أن قوله: (عليَّ) يشمل كل كذب ينسب إليه ، ولحديث أنس : (من تعمد عليَّ كذبًا.

Jadi tidak ada yang bisa dibenarkan melakukan dusta atas nama Allah dan Rasulnya demi “kebaikan” yang diklaimnya. Wallahu A’lam [yy/republika]

Oleh Ustaz Ali Mashar MA

    • Sekretaris Pimpinan Pusat MDS Rijalul Ansor