<
pustaka.png
basmalah.png

Mengapa Allah SWT Bersumpah demi Waktu Subuh?

Mengapa Allah SWT Bersumpah demi Waktu Subuh?

Fiqhislam.com - Allah SWT kerap bersumpah dengan menggunakan waktu-waktu berbeda dalam kehidupan manusia selama 24 jam. Salah satunya, yakni sumpah di waktu subuh.

Allah SWT berfirman dalam surat at-Takwir ayat 18: وَٱلصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ "Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing."

Dikutip dari laman Tafsir Web, berdasarkan ayat di atas dapat dijelaskan dari Tafsir Juz 'Amma atau Syekh Prof Dr Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama Arab Saudi yakni:

"Dan dengan waktu fajar yang datang dengan cahayanya, yakni pagi yang meninggalkan kegelapan malam, dan ini juga merupakan ayat Allah Jalla Jalaluhu yang paling agung. Dan maksud dari sumpah Allah Jalla Jalaluhu dengan siang dan malam dan sumpah-sumpahnya yang telah disebutkan, adalah merupakan penekanan akan kuasa Allah."

Dalam surat lain di Al Quran SWT juga menyebutkan sumpahnya di waktu Subuh. Selain itu, sumpah terhadap waktu lainnya juga disebutkan dalam kitab suci umat Islam ini. Allah SWT berfirman dalam surah Al Fajr ayat pertama: وَالۡفَجۡرِۙ "Demi fajar". Kemudian juga dalam surah Al-Lail ayat pertama وَالَّيۡلِ اِذَا يَغۡشٰىۙ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)".

Pentingnya perkara waktu ini juga seolah mengisyaratkan manusia bahwa hidup di dunia hanya sementara dan dari waktu yang diberikan, terdapat pertanggungjawaban atas segala apa yang diberi Allah SWT. Pentingnya waktu juga dikaitkan dengan waktu tibanya shalat. [yy/republika]

 

Mengapa Allah SWT Bersumpah demi Waktu Subuh?

Fiqhislam.com - Allah SWT kerap bersumpah dengan menggunakan waktu-waktu berbeda dalam kehidupan manusia selama 24 jam. Salah satunya, yakni sumpah di waktu subuh.

Allah SWT berfirman dalam surat at-Takwir ayat 18: وَٱلصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ "Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing."

Dikutip dari laman Tafsir Web, berdasarkan ayat di atas dapat dijelaskan dari Tafsir Juz 'Amma atau Syekh Prof Dr Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama Arab Saudi yakni:

"Dan dengan waktu fajar yang datang dengan cahayanya, yakni pagi yang meninggalkan kegelapan malam, dan ini juga merupakan ayat Allah Jalla Jalaluhu yang paling agung. Dan maksud dari sumpah Allah Jalla Jalaluhu dengan siang dan malam dan sumpah-sumpahnya yang telah disebutkan, adalah merupakan penekanan akan kuasa Allah."

Dalam surat lain di Al Quran SWT juga menyebutkan sumpahnya di waktu Subuh. Selain itu, sumpah terhadap waktu lainnya juga disebutkan dalam kitab suci umat Islam ini. Allah SWT berfirman dalam surah Al Fajr ayat pertama: وَالۡفَجۡرِۙ "Demi fajar". Kemudian juga dalam surah Al-Lail ayat pertama وَالَّيۡلِ اِذَا يَغۡشٰىۙ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)".

Pentingnya perkara waktu ini juga seolah mengisyaratkan manusia bahwa hidup di dunia hanya sementara dan dari waktu yang diberikan, terdapat pertanggungjawaban atas segala apa yang diberi Allah SWT. Pentingnya waktu juga dikaitkan dengan waktu tibanya shalat. [yy/republika]

 

Sumpah Allah Atas Wakt

Sumpah Allah Atas Waktu dalam Al Quran


Fiqhislam.com - Al Quran secara eksplisit mengisyaratkan pentingnya waktu untuk digunakan dengan sebaik-baiknya. Bahkan Allah SWT bersumpah atas nama waktu dengan redaksi yang berbeda-beda.

Redaksinya seperti wal-fajr (demi waktu fajar), wal-lail (demi waktu malam), dan kalimat lainnya. Tak tanggung-tanggung, pentingnya perkara waktu ini juga seolah mengisyaratkan manusia bahwa hidup di dunia hanya sementara dan dari waktu yang diberikan, terdapat pertanggungjawaban atas segala apa yang diberi Allah SWT.

Pentingnya waktu juga dikaitkan dengan waktu tibanya shalat. Pelaksanaan ibadah yang tidak sesuai dengan ketentuan waktu akan menimbulkan pertanyaan sah atau tidak shalat tersebut.

Dalam Al Quran Allah SWT berfirman pada Surah Al-Isra ayat 78: “Aqimushalata lidululika as-syamsi ila gasaqil-laili wa Qur’anal-fajri. Inna Qur’anal-fajri kana masyhuda,”. Yang artinya: “Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat),”.

Dalam kitab tafsir al-Mishbah karya Pakar tafsir terkemuka, Prof Quraish Shihab, kata al-waqt (waktu) dalam Al Quran diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan, bukan membiarkan pekerjaan berlalu begitu saja dengan hampa.

Sedangkan dalam kamus filsafat, setidaknya terdapat beberapa pengertian mengenai waktu. Antara lain sesuatu keajadian yang terdapat awal dan akhir, apa yang dibedakan oleh hubungan sebelum dan sesudah dan yang tak bisa dipisahkan dengan perubahan, aspek yang dapat diukur dengan durasi, hingga segmen-segmen urutan kejadian.

Ulama Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya Manajemen Waktu dalam Islam menyebut, manusia harus menggunakan waktu yang dimiliki dengan sebaik-baiknya sebelum semuanya berlalu. Manusia yang berakal, menurut beliau, memiliki empat pembagian waktu.

Keempatnya antara lain saat bermunajat kepada Allah, mengukur kapasitas dirinya, memikirkan ciptaan Allah (belajar), dan saat menikmati makanan dan minuman atau rezeki yang diberikan Allah SWT. Menurutnya, makanan dan minuman yang dikonsumsi juga mengandung keajaiban bila dipahami secara mendalam, di mana waktu terselip di dalamnya. [yy/republika]

 


 

top