pustaka.png
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Kenikmatan Buah dari Sifat Qona'ah

Kenikmatan Buah dari Sifat Qona'ah

Fiqhislam.com - Hidup minimalis dan simpel, tampaknya menjadi tren baru anak-anak muda masa kini . Konsep yang lebih mengusung gaya hidup sederhana dan apa adanya, mencerminkan adanya perasaan puas dan cukup terhadap apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan.

Dalam Islam, konsep gaya hidup seperti ini sebenarnya sudah sangat lama hadir. Dinamakan dengan konsep Qona'ah, yaitu selalu merasa cukup atas rezeki dan segala nikmat yang telah Allah berikan. Qona'ah adalah ridho dengan ketetapan Allah Ta’ala dan berserah diri pada keputusan-Nya yaitu segala yang dari Allah itulah yang terbaik.

Sebagai muslimah, tentu dianjurkan memiliki sifat Qona'ah ini. Sebagaimana Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam juga menganjurkan umatnya untuk memiliki sifat ini. Karena nyatanya akan banyak kenikmatan yang didapatkan jika kita senantiasa bersifat Qona'ah.

Dirangkum dari berbagi sumber, inilah kenikmatan-kenikmatan yang akan kita peroleh dari sifat Qona'ah yang tertanam dalam diri ini, di antaranya:

1. Menjadi mudah bersyukur

Mencari kekayaan dan harta tidak akan ada habisnya jika terus dikejar. Selamanya tak akan pernah puas. Kita akan terus merasa kurang dan berkeinginan untuk menambahnya lagi. Hal ini bisa terjadi jika kita terus melihat ke atas, pada orang-orang yang lebih segalanya di atas kita.

Cobalah untuk melihat ke bawah sejenak, mereka yang mendambakan kehidupan kita, mereka yang mungkin butuh perjuangan yang luar biasa untuk bertahan hidup, maka nantinya kita akan menjadi orang yang bersyukur atas pemberian Allah, sebagaimana yang dikatakan dalam hadist berikut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian. Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremahkan nikmat yang telah Allah anugerahkan padamu.” (HR. Ibnu Majah no. 4138).

2. Menjadi orang yang beruntung

Jika kita mampu merasa cukup atas segala nikmat dan rizki yang telah Allah berikan, maka bersenanglah, karena kita adalah orang yang beruntung.

Dari ’Abdullah bin ’Amr bin Al ’Ash, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Qona'ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah).

3. Mendapatkan dunia seluruhnya

Sesungguhnya Qona'ah akan membuat diri kita merasa bahagia, selalu merasa cukup atas pemberian Allah. Bahkan jika hanya hal-hal terkecil sekalipun. Sanking bahagianya,maka ia akan merasa bahwa seakan-akan dunia terkumpul pada dirinya.

Dari Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).

4. Hidup apa adanya, maka akan terhindar dari hutang

Orang yang memiliki sifat Qona'ah akan selalu merasa cukup atas apa yang dimilikinya. Oleh karena itu ia pasti akan menghindari hutang yang sifatnya hanya untuk memuaskan standar hidup masyarakat atau membeli barang-barang yang sebenarnya tidak ia butuhkan dan tak mendesak sifatnya.

Agar kita bisa memiliki sifat Qona'ah, maka berdoalah kepada Allah sebagaimana yang Rasulullah bacakan dalam doa ini,

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau Qona'ah).” (HR. Muslim).

‘Afaf artinya menjaga iffah, menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik, termasuk juga menjauhkan diri dari syubhat (hal yang masih samar). Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “’Afaf adalah menahan diri dari yang haram, juga menjauhkan dari hal-hal yang menjatuhkan kehormatan diri. Ulama lain mengungkapkan ‘iffah (sama dengan ‘afaf) adalah menahan diri dari yang tidak halal.” (Syarh Shahih Muslim, 12: 94)

5. Melindungi diri dari sifat iri dan hasad

Saat kita merasa cukup atsa apa yang dimiliki, maka rasa iri atau tak suka pada kenikmatan orang lain maka akan luntur dengan sendirinya. Karena kita yakin dan sadar bahwa semua orang memiliki rezekinya masing-masing yang telah Allah tetapkan. Dengan begitu hati kita akan menjadi tenang kapanpun dan dimanapun.

Seperti dalam firman Allah Ta'ala:

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf : 32)

Semoga kita bisa terus menjadi pribadi yang selalu merasa cukup atas pemberian Allah, karena sejatinya orang yang kaya adalah bukan soal harta, tetapi mereka yang kaya hati, selalu bersyukur dan bahagia. Wallahu A'lam. [yy/sindonews]

 


 

Tags: Qona'ah | Syukur | Dengki | Hasad