27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Sakralnya Kalimat Sumpah 'Demi Allah'

Sakralnya Kalimat Sumpah 'Demi Allah'

Fiqhislam.com - Seringkali kita mendengar seseorang mengucapkan pernyataan atau kesaksian pada sebuah kejadian dengan dikuatkan menggunakan kalimat sumpah. Bahkan tak tanggung-tanggung, seseorang dengan mudah mengucapkan kalimat sumpah bukan lagi atas nama dirinya melainkan dengan menyebut nama Allah seperti demi Allah. Bagaimana sebenarnya menggunakan kalimat sumpah atas nama Allah?

Pengasuh Pondok Pesantren Pasca Tahfidz Bayt Al Quran yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ustaz Syahrullah Iskandar menjelaskan dalam Alquran terdapat beberapa ayat yang menekankan sakralnya sumpah. Salah satunya yakni terdapat pada surat al Maidah ayat 89.

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

Ustaz Syahrullah menjelaskan kata وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ dalam ayat itu dijelaskan Ibnu Ajibah al Hasani dalam Al Bahr al Madid pada Juz II halaman 210 sebagai perintah untuk menjaga lidah dari banyak bersumpah. Ustaz Syahrullah mengatakan kalimat sumpah semacam jadi pembatas bagi penuturnya untuk tidak melanggarnya. Sebab itu sumpah tidak sembarangan diucapkan melainkan hanya saat diperlukan seperti persaksian ataupun situasi penting lainnya.

Begitu pun dalam penyampaian redaksi sebuah berita atau kabar informasi. Pada umumnya itu dapat dilakukan normal tanpa memerlukan kalimat sumpah sebagai penguat atau pengukuhan. Namun terkadang seseorang juga kerap membubuhi berita atau kabar yang disampaikan dengan kalimat pengukuhan (kalimat taukid). Bahkan ada yang menempelkan kalimat sumpah atas nama Allah.

Kondisi ini kemungkinan dapat terjadi manakala penyampai berita atau informasi merasa sangat perlu menggunakan kalimat sumpah karena mendapati orang yang mendengar ucapannya tidak percaya dengan kabar yang dibawanya. Namun bisa jadi seseorang yang sering kali menggunakan kalimat sumpah dalam kabar berita yang disampaikannya menjadi penanda sudah hilangnya kepercayaan orang lain pada dirinya.

Lebih lanjut, ustaz Syahrullah menjelskan Al-Raghib al-Ashfahani dalam karyanya Muhadharat al-Udaba wa Muhawarat al-Syu’ara wa al-Bulagha pada juz II, halaman 133 melansir beberapa ungkapan terkait sumpah ini. Ia mencantumkan salah satu ungkapan yang dinisbahkan kepada al-Muhasibi: علامة الكاذب جوده بيمينه من غير مستحلف فيه (Indikasi seorang yang berbohong adalah murah bersumpah meski tidak dimintai sumpah).

Salman al-Farisi meriwayatkan bahwa ada tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak disucikan, bahkan memperoleh siksa yang pedih di hari kemudian. Salah satunya adalah رجل جعل الله بضاعته atau yang berarti orang yang menjadilan Allah sebagai barang dagangannya. Keterangan ini dapat ditemukan redaksi lengkapnya pada hadits riwayat Al Thabarani.

"Orang yang menjadikan sumpah atas nama Allah SWT sebagai komoditi kepentingan duniawinya dapat saja tergolong kelompok ini," jelas ustaz Syahrullah.

Selain itu ustaz Syahrullah mengatakan aada sebuah bait syair dari al Mutanabbi yang patut menjadi bahan renungan tentang akibat dari mudahnya bersumpah. Dalam syairnya Al Mutanabbi mengatakan :

عقبى اليمين على عقبى الوغى ندم

Artinya: Akhir dari sumpah ataupun penghujung dari peperangan (tiada lain) adalah penyesalan.

"Penyair kenamaan ini mendudukkan sumpah dan peperangan dalam garis yang sama. Ada benarnya juga, dalam peperangan memang berlaku prinsip menang jadi arang, kalah jadi abu, sama-sama merugikan. Bersumpah sembarangan berbuntut buruk bagi pelakunya. Waspadalah menjadikan sumpah sebagai hiasan tuturmu. Jangan paksa orang percaya dengan sumpahmu. Kita harus hati-hati bersumpah atas nama Allah SWT," jelas ustaz Syahrullah. [yy/republika]