pustaka.png.orig
basmalah.png


10 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 20 Juni 2021

Muslim Harus Memilih Jalan Hidup yang Menuju ke Surga

Muslim Harus Memilih Jalan Hidup yang Menuju ke Surga

Fiqhislam.com - Setiap manusia lahir, hidup, lalu mati. Kecil, akhirnya membesar. Muda, lama-lama tua. Muncul kesenangan, terkadang berganti kesedihan. Sehat dan sakit. Semua fana . Semua pasti selalu berubah, bergerak, dan berjalan. Tetapi semuanya akan berhenti dan berakhir.

Dan dalam menjalani semua takdir kehidupan itu, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan. Sehingga, yang bisa kita lihat dalam perjalanan di muka bumi ini adalah hidup hanyalah kesempatan untuk membuat pilihan–pilihan . Segalanya digulirkan dan digilirkan.

Rasulullah dalam hadis shahih menyebutkan, “Orang yang cerdas itu adalah orang yang mengendalikan dirinya dan mempersiapkan hidup setelah mati.

Allah Azza wa Jalla telah menyediakan surga dan neraka sebagai balasan dari amalan manusia selama hidup di dunia. Surga dan neraka adalah pilihan-pilihan manusia untuk memutuskan akhir kehidupannya.

Neraka adalah tempat yang sangat menyengsarakan bagi manusia yang selalu berbuat kemungkaran dan tidak taat pada perintah Allah Azza wa Jalla. Sedangkan bagi orang-orang yang mushlih, Allah Azza wa Jalla telah menyediakan surga dan seluruh keindahan di dalamnya sebagai ganjaran bagi mereka.

Di dalam Al-Quran dan Sunnah, Allah Azza wa Jalla menjelaskan segala perintah dan larangan-Nya. Allah Azza wa Jalla menjelaskan mana yang harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Ayat-ayat Allah Azza wa Jalla juga menjelaskan hal-hal apa saja yang akan menjerumuskan kita dan apa saja yang memberikan manfaat kepada kita.

Untuk sampai pada surga Allah Azza wa Jalla, manusia memerlukan petunjuk, jalan dan sarana amalan apa saja untuk sampai pada surga. Petunjuk tersebut tidak sulit dicari ketika kita dapat menggunakan pemberian Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semua petunjuk tersebut sudah Allah sebutkan dalam Al-Quran dan teladan Rasulullah dalam Sunnahnya.

Jika kita memiliki potensi yang baik dalam mentadabburi ayat-ayat Allah Azza wa Jalla, sudah tentu kita mengetahui jalan mana saja untuk menuju surga.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu. Jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku.”

Allah Azza wa Jalla memerintahkan hamba-Nya untuk berupaya maksimal terhadap nikmat dan karunia yang diberikan-Nya. Karena pemberian tersebut yang akan mengantarkan kita pada jalan kebenaran. Panca indera yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla harus digunakan untuk memahami tanda-tanda kebesaran-Nya. Karena di akhirat nanti Allah Azza wa Jalla akan meminta pertanggung jawaban dari indera yang kita miliki.

Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya akan Kami isi neraka jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Kedatangan azab Allah Azza wa Jalla kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya dengan cara istidraj.” (QS. Al-A’raf: 179).

Selain itu, pemberian Allah Azza wa Jalla yang juga harus dimanfaatkan untuk mencari kebenaran adalah akal. Akal yang ada pada manusia memiliki potensi besar dalam menemukan petunjuk Allah Azza wa Jalla agar sampai pada surga yang dijanjikan-Nya. Akal, apabila dididik dengan baik, maka ia akan menghasilkan ilmu yang akan menghindarkan seseorang dari jalan kesesatan.

Akal merupakan karunia agung yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada bani Adam. Ia adalah pembeda antara manusia dan hewan, dengannya mereka dapat terus berinovasi dan membangun peradaban, dan dengannya mereka dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya sesuai jangkauan akal mereka.

Secara harfiah, ‘aql berarti al-imsak ‘menahan’, al-ribath ‘ikatan’, al-nahy ‘melarang’. Orang yang berakal (al-aqil) adalah orang yang mengekang dirinya dan menolak keinginan hawa nafsunya.

Menurut Abdul Fattah Jalal, kata ‘aql dalam Al-Quran tidak berbentuk isim (kata benda) melainkan terdiri dari fi’il (kata kerja). Ini dapat dijadikan petunjuk penting bahwa akal bukan sekedar benda atau sel hidup, yang lebih penting dari itu adalah akal untuk bekerja dan berpikir. Sebagai kata kerja, ‘aqala dengan segala akar katanya terdapat dalam Al-Quran sebanyak 49 tempat.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) dan Dia tebarkan di dalamnya segala jenis hewan, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh terdapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164).

Demikian pentingnya kedudukan akal dalam Al-Quran. Oleh karena itu Allah selalu memuji hamba-Nya yang berpikir dan menggunakan akal dengan baik. Begitu juga sebaliknya, Allah sangat mencela terhadap orang yang menyalah gunakan akal atau lebih memenangkan hawa nafsu dari pada akal pikirannya.

Dalam Al-Quran mengapa Allah tidak mengatakan Afala ta’kilun (mengapa kamu tidak makan?) atau Afala tasyrobun (mengapa kamu tidak minum). Akan tetapi, firman Allah menyebutkan La’allakun ta’qilun (agar kalian mengerti), Afalaa ta’qilun (maka tidakkah kamu mengerti?), La’allakum tatafakkarun (agar kalian berfikir), adalah salah satu pesan tersirat agar manusia menggunakan akalnya dengan baik sehingga ia memiliki ilmu untuk sampai pada kebenaran.

Orang yang berakal akan dapat mengendalikan hawa nafsu yang hanya akan menimbulkan kehancuran bagi dirinya. Oleh karena itu, sudah semestinya akal menjadi pengendali nafsu, yang selalu mengawasi kesalahan dan kelalaiannya, menahan serangannya dan menghindari tipu muslihatnya.

Dengan akal yang dianugerahi Allah Azza wa Jalla, maka manusia dapat mengetahui hakikat dari segala sesuatu, dapat membedakan mana yang baik (hasanah) dan mana yang buruk (sayyi’ah), mana yang benar (shawab) dan mana yang salah (khata’), mana cahaya (an-nur) dan mana kegelapan (adz-dhulumat).

Meski demikian, tidak sedikit orang cerdas dan berilmu yang memiliki potensi akal yang baik namun mereka lebih memilih berlari dari kebenaran demi mengikuti hawa nafsunya. Kelompok ini adalah mereka yang selalu mencari pembenaran bukan kebenaran. Mereka lah yang selalu memutar balikkan dan mempermainkan firman Allah Azza wa Jalla dengan mengungkapkan yang haram dalam Al-Quran menjadi perkara yang halal untuk dilakukan, yang halal menurut Allah Azza waJalla menjadi perkara yang haram menurut mereka.

Dalam bidang kedokteran, penyakit kanker adalah hal yang berbahaya dalam tubuh manusia. Namun kanker epistemologis tidak kalah bahaya dengan penyakit kanker sesungguhnya. Karena bahaya dari penyakit ini bisa mencemari akal pikiran. Kanker epistemologis telah melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta mengakibatkan kegagalan akal (intellectual failure), yang pada gilirannya menggerogoti keyakinan dan keimanan, dan akhirnya menyebabkan kekufuran. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Al-Mulk: 10)

Ayat ini menerangkan tentang penyesalan para penghuni neraka yang tidak mau mendengar dan menggunakan akal ketika hidup di dunia. Kedudukan akal sangat tinggi dan karena mampu memelihara manusia dari api neraka.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqomah senantiasa menggunakan akal dalam menentukan pilihan terbaik untuk meraih ridha-Nya. Agar Allah mengembalikan kita pada kehidupan abadi yang penuh kenikmatan, surga-Nya Allah Ta'ala. Wallahu 'Alam. [yy/sindonews]