27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Pohon Zaqqum, Seramnya Hidangan di Neraka Jahanam

Pohon Zaqqum, Seramnya Hidangan di Neraka Jahanam

Fiqhislam.com - Pernahkah mendengar Pohon Zaqqum, tentang makanan yang menjadi hidangan di neraka? Atau pernahkah mendengar pohon yang tumbuh di neraka?

Neraka yang kita ketahui ialah siksaan di akhirat yang berupa api. Namun siapa sangka? Ternyata ada pohon buah yang dijadikan hidangan di sana.

Allah SWT menerangkan, "Apakah yang telah Dia sebutkan berupa kenikmatan surga beserta isinya yang terdiri dari berbagai macam makanan, minuman, dan kelezatan itu merupakan pemberian dan jamuan yang lebih baik? Itukah Pohon Zaqqum, yaitu pohon yang tumbuh di dalam neraka Jahanam."

Diriwayatkan bahwa pohon Zaqqum itu adalah sebuah pohon yang rantingnya memanjang ke setiap penjuru neraka Jahanam. Sebagaimana pohon Tuba yang terdapat di dalam surga, akan tetapi pohon Tuba itu ada dahannya. Qatadah mengatakan, "Diceritakanlah ada pohon Zaqqum, lalu kaum yang sesat terkena fitnahnya.

Mereka mengatakan, Kawan kamu itu telah menerangkan kepadamu bahwa di dalam neraka itu ada sebuah pohon. Sedangkan pohon itu dapat terbakar dengan api. "Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu-Nya, sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim. Ia mendapatkan sari-sari makanan dari api dan daripadanya pula ia diciptakan.

Mujahid menafsirkan ayat, "Sesungguhnya Kami menjadikan pohon Zaqqum itu sebagai fitnah bagi orang-orang yang zalim demikian. Abu Jahal laknatullah mengatakan, "Sesungguhnya pohon Zaqqum itu adalah kurma dan kismis yang akan aku nikmati."

Aku (Ibnu Katsir) mengomentari ayat ini dengan, "Sesungguhnya Kami mengabarkan kepadamu, hai Muhammad, tentang pohon Zaqqum ini adalah sebagian batu ujian bagi umat manusia. Maka di antara mereka ada yang percaya dan juga yang tidak percaya. Sesungguhnya pohon Zaqqum itu adalah sebuah pohon yang akarnya tumbuh di dalam dasar api neraka. Mayangnya seperti kepala setan.”

Ayat ini untuk menggambarkan betapa buruknya pohon tersebut dan betapa menakutkannya bila harus dideskripsikan. Firman Allah SWT, "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah Zaqqum itu, sebab tidak ada lagi makanan bagi mereka kecuali pohon itu." Ayat ini seperti firman Allah Ta'laa, "Tidak ada makanan bagi mereka kecuali pohon duri yang tidak akan menggemukkan dan tidak akan membuat kenyang."

Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam membaca ayat ini, kemudian bersabda: "Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Kalau saja tetesan getah pohon Zaqqum itu jatuh ke laut dunia, pastilah penghidupan penduduk bumi akan menjadi rusak. Maka bagaimanakah keadaan orang yang menjadikan pohon itu sebagai makanannya?" Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Nasa'i, Ibnu Majah, dan Tirmidzi. Dan Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan dan sahih.

Firman Allah SWT, "kemudian sesudah makan buah pohon Zaqqum itu pasti mereka mendapatkan minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas." Ibnu Abbas r.a. menafsirkan, "Mereka meminum air yang sangat panas setelah memakan pohon Zaqqum." Namun di dalam riwayat lain beliau menafsirkannya sebagai campuran minuman yang sangat panas. Dan ulama lain mengatakan, "Minuman panas mereka dicampur dengan nanah dan keringat yang keluar dari mata dan kemaluan mereka.”

Firman Allah SWT, kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka be-nar-benar ke neraka Jahim, yaitu tempat kembali mereka nanti adalah ke neraka yang menggelegak, neraka Jahim yang dinyalakan, dan neraka Sa'ir yang berkobar-kobar. Kadang-kadang berada dalam neraka itu dan kadang-kadang berada dalam neraka ini. Ayat ini seperti firman Allah Ta'ala, "Mereka akan berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya."

Demikianlah cara Qatadah membaca ayat ini. Dan ini merupakan penafsiran yang sangat baik. Firman Allah SWT, karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat, yaitu sesungguhnya Kami memberikan balasan kepada mereka seperti itu sebab mereka telah mendapatkan ayah-ayah mereka dalam kesesatan kemudian mereka mengikutinya dengan taklid, tanpa dalil, dan keterangan yang kuat.

Penjelasan ini dikemukakan dalam buku "Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir," oleh M. Nasib Ar-Rifa’i, terbitan dari Gema Insani pada Senin (14/12/2020).

Itulah sebabnya Allah Ta'ala berfirman, lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. [yy/okezone]