27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Guru Besar Setan

Guru Besar Setan

Fiqhislam.com - Dahulu, ketika penciptaann Nabi Adam AS telah disempurnakan, Allah SWT menyuruh seluruh mahkluk bersujud sebagai penghormatan. Lalu, para Malaikat pun bersujud kecuali Iblis. Inilah pembangkangan yang pertama kepada Allah SWT yang disebabkan kedengkian dan keangkuhan.

Akibatnya, Iblis pun diusir dari surga sebagai makhluk terkutuk. Hal tersebut tidak membuatnya sadar, akan tetapi semakin pongah. Ia pun bertekad menggoda keturunan Adam AS hingga akhir zaman (QS 7: 11-17, 15: 29-40).

Tekad Iblis menghalangi manusia dari jalan yang lurus (shirat al-mustaqiim) dilakukan dari empat arah, yakni dari depan, belakang, kanan dan kiri. Artinya, ia akan menempuh segala cara dan mengemas kesesatan dalam berbagai bentuk dan warna bagi manusia, sehingga terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan (Muhammad Nasib Ar-Rifai, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 2).

Berbagai strategi jitu terus diajarkan kepada keturunannya, yakni setan. Pembinaan di kalangan dunia setan pun berjalan sangat baik, sehingga melahirkan setan-setan yang piawai.

Layaknya pendidikan tinggi, mereka juga punya Guru Besar yang berpengalaman dan memahami seluk beluk hati manusia. Melalui pembinaan tersebut ditentukan siapa dan rayuan macam apa yang digunakan untuk menggoda setiap manusia.

Penulis Tafsir Al-Misbah, Prof Muhammad Quraish Shihab menyebut bahwa Guru Besar Setan selalu memberikan pembekalan kepada Setan Pemula agar sukses menggoda manusia yakni;

Pertama, suatu kekeliruan ketika menduga bahwa kegembiraan adalah jerat untuk menjerumuskan manusia. Harus dibedakan mana kegembiraan yang dirahmati Tuhan dan yang menimbulkan hura-hura.

Kedua, tidak perlu memberikan perhatian besar kepada manusia yang beragama ketika hatinya dipenuhi keraguan akibat peperangan atau bencana. Tetapi, ketika keyakinannya goyah, maka ia akan terjerumus sendiri.

Ketiga, jangan berputus asa menghadapi para penganjur kebajikan yang bangga dengan diri mereka. Sikap mereka itu sebenarnya telah mendekati apa yang diharapkan oleh setan.

Keempat, menanamkan kebencian tanpa harus melihat nama-nama yang disandangnya. Sebab, tidak ada perbedaan antara faham-faham apa pun selama jiwa manusia sepi dari rasa cinta serta dipenuhi kebencian dan permusuhan.

Kelima, kesuksesan setan ketika manusia memandang alam raya itu kosong dari keajaiban atau menilainya sekadar himpunan dari peristiwa biasa yang sama dan berulang-ulang.

Jika sedemikian rupa setan menggoda manusia, masihkah kita mampu terlepas darinya? Mereka membisikkan kepada penguasa bahwa kebijakannya benar padahal menyengsarakan rakyat. Begitu pun kepada pejabat negara yang korupsi dikemas seakan tampak sebuah kelaziman. Pun, kepada alim ulama diembuskan kesombongan dan ujub hingga merasa paling benar.

Boleh jadi kita tengah terperangkap oleh rayuan setan, tapi tak menyadirinya. Sungguh, kita tidak mampu melawannya, kecuali atas perlindungan Allah SWT semata (HR Bukhari Muslim).

Akhirnya, hanya al-mukhlashin (orang-orang yang sudah terbersihkan hatinya dari selain Allah SWT.) yang selamat dari godaan setan (QS 15: 40). Wallahu a’lam bish-shawab. [yy/republika]

Oleh Hasan Basri Tanjung