27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Ada Hadits Nabi Saw Bolehkan Caci Maki?

Ada Hadits Nabi Saw Bolehkan Caci Maki?

Fiqhislam.com - Hadits yang dimaksud adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad, Bukhari dalam Adab Mufrad dan lain-lain

من تعزى بعزى الجاهلية فأعضوه بهن أبيه ولا تكنوا

“Siapa yang berintisab dengan nasab jahiliyah maka ‘gigit’ ia dengan (mengatakan) hani bapakmu.. dan jangan pakai kata kiasan.”

Kata ‘hani’ artinya adalah kemaluan laki-laki. Hadits ini secara tegas membolehkan, bahkan memerintahkan, untuk mengatakan kalimat kotor ini pada orang yang berintisab dengan nasab jahiliah. Sebagai catatan, berintisab dengan nasab jahiliyah berarti kafir kepada Islam. Jadi ini bukan sesuatu yang sepele.

Tapi, bagaimana status hadits ini? Syekh Syu’aib al-Arnauth mengatakan hadits ini hasan. Syekh Albani mengatakan hadits ini sahih kalau seandainya Hasan al-Bashri mendengar hadits ini dari ‘Utaiy bin Dhamrah, karena Hasan adalah seorang mudallis dan dalam hadits ini ia menggunakan lafal ‘an.

‘Utaiy bin Dhamrah sendiri tidak disepakati ulama ketsiqahannya. Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban mengatakannya tsiqah. Tapi Ali bin al-Madini mengatakannya majhul (lihat Tahdzib Tahdzib karya Ibnu Hajar).

Syekh Utsman al-Khamis, seorang tokoh salafi saat ini, secara tegas mengatakan kalau hadits ini tidak shahih. Ia mengatakan, tidak mungkin Nabi mengatakan hal itu.

Pertanyaan yang perlu dilontarkan adalah mengapa kita abaikan sekian banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk berkata baik dan membalas keburukan dengan kebaikan?

Allah سبحانه وتعالى berfirman : وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا البقرة : 83 “Dan katakan pada manusia (perkataan) yang baik…”

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (آل عمران 134 “… dan orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”

Dalam hadits yang masyhur diriwayatkan bahwa sekelompok Yahudi datang menemui Rasulullah Saw. Mereka berkata: “as-saamu alaikum…” Kata as-saamu berarti racun atau kebinasaan. Rasul hanya menjawab: “wa ‘alaikum…”.

Sayyidah Aisyah yang mendengar hal itu dan menangkap apa yang mereka maksudkan, membalas: “Untuk kalian kebinasaan dan kutukan.”

Rasulullah justru banyak menganjurkan berkata sopan

Dalam riwayat Imam Ahmad, Sayyidah Aisyah berkata:

السام عليكم يا إخوان القردة والخنازير ولعنة الله وغضبه

“Kebinasaan untuk kalian wahai saudara kera dan babi, dan kutukan serta murka Allah.”

Mendengar hal itu, Rasulullah Saw bersabda: “Tahan wahai Aisyah. Engkau mesti bersikap lembut. Jangan bersikap kasar atau berkata kotor.” Aisyah berkata, “Ya Rasulullah, tidakkah engkau dengar apa kata mereka tadi?” Rasul bersabda: “Tidakkah engkau dengar juga apa balasanku pada mereka? Aku sudah katakan, “wa ‘alaikum…” (artinya: dan untuk kalian juga, tapi Nabi tidak mau mengatakan kata-kata yang kotor itu, dan mencukupkan saja dengan kata: wa ‘alaikum).

Setelah itu Rasul memberikan nasehat yang sangat berharga kepada isteri tercintanya:

يا عائشة، لم يدخل الرفق في شيء إلا زانه، ولم ينزع من شيء إلا شانه

“Hai Aisyah, tidaklah kelemah-lembutan ada pada sesuatu kecuali sesuatu itu akan terlihat indah, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu kecuali sesuatu itu akan jadi buruk.”

Jangankan untuk membalas orang-orang yang berkata kotor kepadanya, untuk mengajarkan ilmu pun Rasulullah sangat menjaga lisannya, karena beliau memang seorang yang sangat pemalu.

Suatu ketika ada seorang wanita Anshar datang menemui Nabi dan bertanya, “Bagaimana caranya aku mandi (bersuci) setelah haid?” Nabi bersabda: “Ambil secarik kain yang wangi lalu berwudhuklah tiga kali.” Wanita itu tampaknya belum paham, karena keterangan Nabi sangat global. Tapi Nabi malu untuk melanjutkan dan merincikannya lebih jauh. Sayyidah Aisyah yang melihat hal itu segera menarik tangan wanita itu dan mengajaknya ke belakang lalu diterangkannya bagaimana cara bersuci setelah haidh.

Dalam banyak hadits juga dijelaskan bahwa ketika Nabi ingin mengingkari perbuatan salah dari sahabatnya, ia akan naik mimbar dan berpidato lalu berkata:

ما بال أقوام يفعلون كذا وكذا

“Kenapa ada orang yang melakukan begini dan begini…” tanpa menyebutkan sosok yang beliau maksud.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Bukhari dalam Adab Mufrad, Rasulullah Saw bersabda:

ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذيء

Seorang mukmin bukanlah orang yang suka menuduh, mengutuk, berkata kotor dan kasar.” [yy/republika]

Oleh Ustadz Yendri Junaidi Lc MA

  • Dosen di STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang, alumni Al-Azhar Mesir

 


 

Tags: Caci Maki | Ghibah