12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Usaha Apakah yang Mulia di Sisi Allah?

Usaha Apakah yang Mulia di Sisi Allah?

Fiqhislam.com - Segala bentuk usaha atau pekerjaan yang bermanfaat adalah ibadah. Apalagi niat berusaha dan bekerja dalam rangka memenuhi nafkah diri dan keluarga.

Dalam satu hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi Muhammad Saw bersabda:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَة،ٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَة،ٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَة،ٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ (رواه مسلم)

"Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Tidaklah seorang muslim yang menancapkan satu tanaman, kecuali setiap (hasil) tanaman yang dimakannya akan bernilai sedekah baginya; apa yang dicuri orang darinya menjadi sedekah baginya; apa yang dimakan binatang liar menjadi sedekah baginya; apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya; dan juga tidaklah seseorang mengambil darinya, melainkan akan menjadi sedekah bagi dirinya." (HR. Muslim No. 2900)

Setiap usaha yang dilakukan seseorang akan bernilai ibadah di mata Allah apabila bernilai manfaat. Jika ia seorang petani, maka setiap tanaman atau bibit atau biji yang ditanamnya akan terhitung sebagai amal perbuatan yang memiliki nilai ibadah yang mulia (sedekah) sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas.

Muncul pertanyaan, usaha apa yang paling mulia di sisi Allah? Menurut Ustaz Rikza Maulan, Dai yang juga Dewan Pengawas Syariah Rumah Zakat, para ulama berbeda pendapat terkait usaha yang paling mulia di mata Allah.

1. Sebagian berpendapat bahwa pertanian adalah yang paling mulia dengan dasar hadits di atas ditambah lagi bahwa petani benar-benar mengharapkan hasil pertaniannya dari Allah karena Allah lah yang menumbuhkan dan memberikan buah-buahan tersebut.

2. Sebagian lainnya mengatakan bahwa berdagang merupakan usaha yang paling mulia. Alasannya karena Nabi Muhammad Saw dulunya adalah seorang pedagang. Dan banyak sekali ayat-ayat Al-Qur'an yang memberikan permisalan hubungan seorang hamba dengan Allah sebagai hubungan tijarah (perdagangan).

"Namun dalam Islam, segala bentuk usaha apakah pertanian, perdagangan, pegawai, profesional, atau apapun selama niatnya ikhlas karena Allah, pekerjaan dan usaha yang dilakukannya halal tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, jujur dan amanah, serta menjaga akhlak dan etika bekerja, maka betapa bahagianya seorang muslim," jelas Ustaz Rikza.

Setiap pekerjaannya mengantarkannya pada dua benefit dan kebaikan. Benefit duniawi dengan gaji, tunjangan, bonus dan faslitas yang ia dapatkan dan benefit ukhrawi dengan pahala dan ampunan dosa dari pekerjaannya.

Nabi Saw bersabda: "Barang siapa yang di sore hari duduk melepaskan lelah dari pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan sore hari tersebut dosa-dosanya diampuni oleh Allah Ta'ala." (HR. at-Thabrani). Wallahu A'lam. [yy/sindonews]