pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Jangan Ibadah Sebab Takut tapi Penuh Harap

Jangan Ibadah Sebab Takut tapi Penuh Harap

Fiqhislam.com - Dalam ajaran Islam, Allah SWT menganjurkan hamba-Nya untuk menerapkan amalan-amalan hati. Salah satu amalan hati adalah raja’. Raja’ adalah sikap memandang luasnya rahmat Allah. Kebalikan raja’ adalah putus asa.

Dikutip dalam buku Tafsir Al-‘Usyr Al-Akhir dari Alquran Al-Karim, beribadah disertai dengan harapan adalah lebih tinggi derajatnya dibandingkan bila disertai dengan rasa takut (semata) karena raja’ akan menghasilkan husnudzan atau berbaik sangka terhadap Allah. Allah berfirman dalam bentuk hadits dari Abu Hurairah RA:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku bergantung pada persangkaan hamba-Ku pada-Ku.” (HR Muslim).

Sikap raja’ terbagi dalam dua tingkatan;

Pertama mereka yang derajat lebih tinggi adalah orang yang melakukan ketaatan dan mengharap pahala dari Allah. Rasullah SAW bersabda:

لا يا بِنتَ الصِّديقِ، ولكِنَّهم الذين يصومون ويُصَلُّونَ ويتصَدَّقون وهم يخافون ألَّا تُقبَلَ منهم

“Wahai putri Ash-Shiddiq, tetapi mereka adalah orang-orang yang shalat, berpuasa, bersedekah, dan mereka takut jika ibadah mereka tidak diterima.” (HR Tirmidzi).

Kedua, derajat lebih rendah adalah orang yang berdosa, bertaubat, dan mengharap ampunan dari Allah. Adapun orang yang terus melakukan maksiat dan tidak mau bertobat, serta mengharap rahmat Allah, maka ia adalah angan-angan dan bukan sikap raja’. Jenis itu tercela.

Adapun jenis pertama adalah terpuji. Seorang mukmin menggabungkan antara ihsan (ketaatan) dan khasyah (rasa takut). Sementara orang munafik menggabungkan antara perbuatan buruk dan rasa aman. [yy/republika]