pustaka.png
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Jaminan Allah untuk Hamba yang Beramal Saleh

Jaminan Allah untuk Hamba yang Beramal Saleh

Fiqhislam.com - Ibnu Qoyyim Al Jauziah, dalam kitabnya yang berjudul Terapi Hati menyebutkan, Allah SWT memberikan jaminan kepada setiap orang yang beramal saleh dengan menganugerahkan kehidupan yang baik. Sesungguhnya Allah senantiasa menepati dan tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Maka, adakah kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan seseorang yang seluruh hasratnya terkumpul menjadi satu dalam naungan ke-ridhoan Allah. Hatinya tidak bercabang, hanya dihadapkan kepada Allah.

Keinginan dan pikirannya yang sebelumnya terbagi-bagi, yang pada setiap lembah terdapat cabangnya, kini bergabung kembali, yaitu dzikir kepada Dzat yang paling dicintai lagi Mahatinggi, mencintai-Nya, merindukan perjumpaan dengan-Nya, dan merasa tenteram dengan kedekatan-Nya, sebab Dialah yang berkuasa atasnya.

Itulah yang.menjadi poros hasratnya, keinginannya, tujuannya, bahkan lintasan hatinya. Jika ia diam, maka diamnya sejalan dengan perintah Allah. Jika dia bicara, maka bicaranya sejalan dengan perintah Allah. Jika mendengar, maka dia mendengar dengan kebersamaan Allah. Begitu juga ketika dia melihat, mengambil, bcrjalan, bergerak, diam, hidup, mati, dan dibangkitkan; semua itu dilakukan karena Allah.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Nabi SAW beliau meriwayatkan dari Rabbnya Tabaraka wa Ta'ala, bahwasanya Allah berfirman:

" ... Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku, melainkan dengan mengerjakan perkara-perkara yang wajib. Hamba-Ku tersebut pun senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara-perkara sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku bersama pendengaranriya, yang ia mendengar dengannya; penglihatannya, yang ia melihat dengannya; tangannya, yang ia mengambil dengannya; dan kakinya, yang ia berjalan dengannya. (Dengan-Ku ia mendengar, melihat, mengambil, dan berjalan). Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Tidaklah Aku ragu dalam setiap perkara yang Kulakukan seperti halnya keraguan-Ku untuk mencabut nyawa hamba-Ku yang Mukmin, karena dia tidak menyukai kematian. Sementara Aku tidak ingin menyakitinya, namun kematian itu merupakan suatu keharusan baginya." [yy/republika]