21 Muharram 1444  |  Jumat 19 Agustus 2022

basmalah.png

Keutamaan Ikhtiar

Keutamaan Ikhtiar

Fiqhislam.com - Dari Abu Abdullah Az-Zubair bin Al-‘Awwam RA ia berkata, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya. Kemudian dengan hasil penjualan itu, Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu. Itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi maupun tidak,” (HR Bukhari).

Hadis di atas menganjurkan seseorang untuk selalu berusaha dan melarang meminta-minta. Ketika seseorang meminta rezeki kepada sesama makhluk, itu akan mengakibatkan jatuhnya harga diri di hadapan orang yang dimintai pertolongan. Sebaliknya, jika meminta kepada Sang Khalik, justru itulah yang akan mendatangkan harapan dan kekayaan untuknya.

Ibn Al-Jauzi pernah mengungkapkan, “Ketika seseorang menjaga kehormatan dirinya dengan tidak meminta-minta kepada orang lain, kemudian ia berharap agar kesusahannya tidak diketahui orang lain dan tetap berharap kepada Allah di dalam hatinya, dia akan mendapat keuntungan dari sikapnya yang demikian.”

Manusia menjadi mulia jika memiliki makanan yang cukup hasil tangannya sendiri, bukan dari pemberian dan belas kasih orang lain. Ia puas dengan hartanya meski mungkin hanya sedikit.

Jika rezeki terasa sempit, bersabarlah. Jika kesabaran menipis, berdoalah kepada Allah. Yakinlah, apa yang ada di sisi Allah takkan pernah habis. Allahlah yang mencukupkan semua kebutuhan hidup kita.

Allah SWT berfirman, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya” (QS Hud: 6). Tugas kita hanyalah berusaha dengan cara yang baik dan benar. Senantiasa berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang halal dan sekuat tenaga menjauhi yang haram.

Jika kita memperoleh rezeki dengan cara halal, sedikit ataupun banyak yang didapatkan, pasti mendatangkan ketenteraman. Lihatlah, banyak koruptor yang dikejar-kejar media dan peradilan. Sudah selayaknya seorang Mukmin senantiasa mencari cara mendapatkan rezeki yang halal. Takutlah terhadap rezeki yang haram, yang bersamanya ada hak-hak orang lain.

Karena itu, mohonlah pertolongan kepada Allah dalam setiap waktu hidup kita. Ingatlah, selalu ada harapan bersama usaha dan ikhtiar. Ketika kesulitan telah memuncak, berharaplah jalan keluar. Bekerja dan bersabarlah karena itu merupakan kunci kesuksesan. Wallahu a’lam. [yy/republika]