fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Ramadhan 1442  |  Rabu 14 April 2021

Buah dan Keutamaan Sikap Tawakal

Buah dan Keutamaan Sikap Tawakal

Fiqhislam.com - Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk senantiasa bertawakal kepada Allah Ta'ala. Dengan bertawakal kepada Allah setiap perbuatan akan diridhai-Nya. Bahkan, Allah Ta'ala akan memberikan rezeki kepada orang yang bertawakal.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, kalian pasti diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, ia pergi pada pagi hari dalam keadaan perut kosong, kemudian pulang pada sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR Tirmidzi)

Muslimah, perilaku tawakal yang diajarkan oleh Rasulullah kepada para shahabatnya benar-benar menjadi perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan Beliau menerapkan perilaku tawakal ini karena ia sendiri melakukan hal sama. Dalam kehidupannya, Rasulullahselalu berserah diri kepada Allah, ia tidak pernah gelisah dan resah dalam menghadapi berbagai persoalan.

tawakal sendiri memiliki pengertian menyerahkan segala permasalahan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, dengan sepenuh hati dan berpegang teguh kepada-Nya serta tetap berusaha semaksimal mungkin sehingga tidak merasa sedih dan kecewa terhadap apa pun keputusan yang diberikan-Nya.

Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakal sebagai berikut, “tawakal ialah menyandarkan kepada Allah tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.

Ada banyak keutamaan dari sikap tawakal ini. Disarikan dari berbagai sumber, inilah keutamaan orang yang tawakal, antara lain :

1. Dapat membuktikan keimanan yang benar karena salah satu ciri orang beriman adalah bertawakal kepada Allah Ta'ala.

2. Memperoleh kecukupan dari apa yang dibutuhkan

Orang yang bertawakal kepada Allah akan dicukupkan apa yang menjadi keperluannya dalam hidup. Bila dari sisi jumlah tidak cukup, paling tidak dengan bertawakal itu dia akan merasa cukup dengan apa yang diperolehnya. Allah Ta'ala berfirman :

“….Barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan (keperluan)nya….” (ath-Thalaaq : 3)

3. Tidak dikuasai setan

Orang yang bertawakal tidak bisa digoda apalagi dikuasai oleh setan. Sebab, bagaimana mungkin setan dapat menggoda orang-orang yang begitu dekat dan terikat kepada Allah swt sebagaimana dalam firmanNya :

إِنَّهُۥ لَيْسَ لَهُۥ سُلْطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan.” (QS an-Nahl : 99)

4. Menghargai usaha yang dilakukan

Saat seseorang berusaha lalu tidak mencapai hasil yang diharapkannya kadang dia merasa sia-sia atau percuma saja berusaha bila hasilnya hanya demikian. Sikap ini disebabkan oleh tidak bertawakalnya dia kepada Allah Ta'ala. Bila dia bertawakal, maka dia akan menerima apa yang sudah diperolehnya dan mensyukurinya.

Namun, lain halnya dengan orang yang bertawakal, bila belum memuaskan seperti yang dia harapkan, maka dia akan berusaha lagi dengan usaha yang lebih maksimal. Dapat dipahami bahwa bila pekerjaan atau usaha dirinya sendiri saja sudah tidak dihargai, bagaimana mungkin dia bisa menghargai pekerjaan orang lain, apalagi bila pekerjaan itu tidak mencapai hasil yang diinginkannya.

5. Dicintai Allah Ta'ala

Hamba yang bertawakal akan dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala akan menyayanginya. Dan apabila seorang hamba telah disayangi oleh Allah, maka Allah akan selalau bersamanya dan menyertainya didalam setiap gerak langkahnya. Allah akan melindunginya dan menolongnya. Allah akan menjauhkannya dari bahaya.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّـهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّـهِ ۚ إِنَّ اللَّـهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ ﴿١٥٩﴾

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali-Imran: 159)

Manfaat tawakal

Dalam riwayat Islam, tawakal sudah dijunjung tinggi sebagai tanda yang jelas dari seorang yang beriman, takwa dan berserah mutlak pada Allah. Hanya mereka yang menikmati hubungan sejati dengan Allah dapat selalu percaya pada-Nya, dalam kondisi apapun di seluruh kehidupannya.

Seseorang yang bertawakal pada Allah kesuksesannya di dunia dan di akhirat terjamin olehNYA, tidak peduli apapun kesulitannya yang dialami di kehidupannya atau seberapa dahsyatnya kekuatan musuh yang dihadapinya.

Orang yang bertawakal kepada Allah Ta'ala, akan senantiasa mempertimbangkan dan merencanakan setiap pekerjaannya diserahkan kepada kehendak Allah SWT. Oleh karena itu, orang yang bertawakal akan memperoleh banyak hikmah, di antaranya:

1. Setiap urusan akan terencana dengan baik dan matang
2. Mendapatkan ketenangan hati
3. Bersikap optimistis
4. Menyadari keagungan Allah dan keterbatasan usaha manusia

Wallahu A'lam. [yy/sindonews]

 


 

Tags: Tawakal | Tawakkal