fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


27 Ramadhan 1442  |  Minggu 09 Mei 2021

Kitab Taurat Perjanjian Lama Sebut Risalah Rasulullah Saw

Kitab Taurat Perjanjian Lama Sebut Risalah Rasulullah Saw

Fiqhislam.com - Diutusnya Rasulullah SAW ke muka bumi sudah dikabarkan para nabi dan tertulis dalam kitab-kitab sebelum Alquran.

Dalam Alquran sendiri, kita bisa menemukan doa Nabi Ibrahim dalam surat Al Baqarah ayat 129 yang memohon kepada Allah agar diutus seorang Rasul yang akan mengajarkan Alquran dan sunnah.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Alquran) dan Al-Hikmah (sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana.

Selain itu pada surat Ash-Shaff ayat 6 dimana Nabi Isa mengabarkan pada Bani Israel tentang akan datangnya utusan Allah sesudahnya yang bernama Ahmad (Muhammad).

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ

“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam bekata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).”

Sementara itu, dalam Kitab Taurat (Perjanjian Lama) yang dicetak di Inggris 1944 terdapat ayat yang berbunyi: "Allah datang dari Sinai, dan terbit dari Seir, kemudian bersinar dari pegunungan Paran," (At Tatsniyah, bab 33 ayat 2) sedang dalam Injil perjanjian lama edisi Indonesia ayat ini berbunyi "..Tuhan datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir, ia tampak bersinar dari pegunungan Paran.." (Ulangan 33:2).

Muhammad Fethullah Gulen dalam bukunya An-Nur Al Khalid Muhammad Mafkhirat Al Insaniyah yang diterjemahkan Fuad Saifuddin berjudul Cahaya Abadi: Muhammad SAW Kebanggaan Umat Manusia, menjelaskan yang dimaksud dalam petikan ayat Kitab Taurat (perjanjian lama itu) adalah bahwa rahmat Allah akan memancar dari Sinai yang menjadi tempat di mana Allah berbicara (menyampaikan wahyu) dengan Nabi Musa sebagai rahmat kenabian yang Allah berikan pada Nabi Musa.

Sedang yang dimaksud Seir adalah Palestina yang menjadi tempat turunnya rahmat Allah dengan diutusnya nabi Isa sebagai salah satu Rasul yang mendapat bermacam-macam anugerah Allah. Islam memberikan jawaban bahwa yang dimaksud terbit dari Seir adalah bahwa Nabi Isa lahir di Palestina melalui nafkhah (tiupan) Ilahiyah.

Sedangkan yang dimaksud Pegunungan Paran adalah kota Makkah. Sebab di dalam bagian lain dari Taurat dikatakan bahwa Nabi Ibrahim meninggalkan putranya Ismail di sebuah tempat bernama Paran. Ini bisa dilihat di Perjanjian Lama, Kejadian 21:8-21. Sehingga jelas yang dimaksud Paran dalam kitab Taurat adalah kota Makkah.

Alhasil, nubuat dalam ayat kitab Taurat itu berhubungan dengan tiga Nabi sekaligus yakni Nabi Musa, Nabi Isa dan Rasulullah Muhammad sebagai nabi yang terakhir.

Kemudian dalam lanjutan ayat di kitab Taurat itu menuliskan "..bersamanya ribuan orang suci, di sebelah kanannya ada nyala api.." dalam Injil perjanjian lama edisi Indonesia berbunyi "...dan datanglah dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus, di sebelah kanan-Nya tampak kepada mereka api yang menyala. (Ulangan 33.2). Sedangkan dalam Injil edisi Inggris di tengah ayat tersebut disebutkan 'Sepuluh ribu orang suci' yang dengan tegas menunjuk peristiwa penaklukan Makkah oleh Rasulullah. Namun anehnya dalam semua Injil edisi bahasa Arab kata 'sepuluh ribu' hilang.

Terlepas dari itu, Fethullah Gulen menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah akan diperintahkan Allah bersama umat beliau. Sebelum diangkat sebagai nabi, Muhammad SAW gemar beruzlah di Gua Hira untuk merenung dan bertafakur.

Bahkan kemudian di gua itu Rasulullah menerima wahyu pertama. Karena itu menurut Fethullah Gulen kalau Paran dinyatakan sebagai bukan kota Makkah, maka tempat mana lagi yang paling tepat untuk disebut sebagai Paran? Tempat mana selain Makkah yang memancarkan cahaya seperti yang dipancarkan Islam dari kota Mekkah yang nyalanya menerangi Timur ke Barat?

Maka menurut Fethullah Gulen tak perlu disangsikan lagi yang dimaksud Paran oleh Taurat (kitab perjanjian lama) adalah kota Makkah. Bahkan ayat 2 bab 33 kitan ulangan dan ayat 20 bab 21 dari kitab kejadian berbunyi "lalu ia tinggal di dataran Paran".

Menurut Fethullah Gulen itu menunjuk pada tempat yang didiami Nabi Ismail. Ayat itu dengan tegas menjadi dalil bahwa Paran tidak lain adalah Makkah. [yy/republika]