fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


27 Ramadhan 1442  |  Minggu 09 Mei 2021

Mengasah Potensi Sabar

Mengasah Potensi Sabar

Fiqhislam.com - Ibnu Qudamah dalam kitabnya, Minhaj al-Qashidin, menyebutkan bahwa sabar itu adalah khashiyyah al-insan (karakter khusus manusia). Sifat khas yang hanya dimiliki manusia.

Sebab, Allah SWT memang memberikannya hanya kepada manusia saja, tidak kepada mahluknya yang lain. Dan karenanya, manusia diciptakan dengan dibekali perangkat-perangat yang menjadikannya mampu bersabar.

Imam al-Ghazali dalam kitabnya yang fenomenal, Al-Ihya, seperti juga dikutip Ibnu Qudamah menyebut, sabar sebagai muara dari sifat-sifat terpuji. Menurut dia, semua akhlak utama, jika ditelusuri pada akhirnya akan ditemukan mengalir dari alur sungai yang sama yaitu sungai kesabaran. Sifat-sifat terpuji manusia itu ternyata semuanya bermuara dari induk yang sama, yaitu lahir dari rahim kesabaran.

Dari sabar muncul karakter-karakter luhur yang dibutuhkan dalam hidup. Seperti; kehati-hatian, cermat, ulet, survive, tenang, tertib, dan teratur. Sebagaimana dari sabar juga mengalir sifat-sifat terpuji semisal; rasa malu, menjaga kesucian diri, lapang dada, menahan diri dari memperturutkan hawa nafsu, ramah, dan tidak cepat marah. Maka, dalam konteks modal hidup, sabar sesungguhnya merupakan potensi luar biasa yang dimiliki manusia sebagai bekal mengarungi kehidupan.

Pesan sabar dalam Alquran bisa kita ditemukan di banyak momen dan peristiwa. Allah SWT mewasiatkan sabar di banyak tempat dan kondisi. Dalam situasi aman atau dalam kondisi perang.

Dalam kehidupan yang normal atau terlebih di saat menghadapi kesulitan, problem dan persoalan hidup, kesabaran harus selalu hadir. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran: 200).

Pada ayat yang lain, “Wahai orang-orang yang beriman minta tolonglah kalian dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Baqarah: 153).

Para ulama membagi kesabaran itu menjadi tiga macam.

Pertama, sabar dalam menjalankan perintah dan ketaatan kepada Allah.

Kedua, sabar dalam menjauhi perkara yang dilarang Allah.

Ketiga, sabar dalam menghadapi persoalan hidup.

Bahwa putaran roda kehidupan memang tidak selalu harus sesuai dengan keinginan dan harapan. Begitulah hidup ini, ada perintah, ada larangan, ada ujian, dan cobaan. Pendeknya, sabar memang harus ada di semua lini kehidupan.

Menurut Ibnu Qudamah, ada dua bekal yang diberikan Allah kepada manusia supaya manusia bisa bersabar dan mengendalikan dirinya. Pertama adalah bekal akal. Kedua, iman, hidayah, atau agama.

Barangkali, untuk sekadar selamat dari kerugian dunia, bekal akal saja sudah cukup. Tetapi jika mengharapkan keselamatan dari kebinasaan di akhirat, dibutuhkan bekal hidayah, agama dan iman.

Sebab, ada hal-hal yang kita dituntut harus menahan diri, bersabar untuk tidak melanggarnya, tapi yang menjadi motif utamanya bukanlah sekadar alasan logika atau akal semata, tetapi benar-benar karena didorong oleh motif keimanan.

Itulah sebabnya iman dan sabar itu tidak bisa dipisahkan. Keduanya menyatu saling menguatkan. Wallahu a’lam bissawab. [yy/republika]

Oleh Imanuddin Kamil

 

Tags: Sabar | Iman | Ikhlas | Ihsan | Ikhsan