fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Ramadhan 1442  |  Rabu 12 Mei 2021

Jangan Bersifat Tawadhu Hanya untuk Dinilai Orang

Jangan Bersifat Tawadhu Hanya untuk Dinilai Orang

Fiqhislam.com - Tawadhu merupakan sifat mulia, namun sedikit orang yang memilikinya. Ia adalah hati yang ikhlas, memperuntukkan ibadah hanya kepada Allah serta tidak memandang rendah orang lain dan merasa dirinyalah hamba paling kurang amalnya.

Orang yang memiliki sifat tawadhu adalah orang yang paling berbahagia, dadanya paling lapang, sangat dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan terhindar dari maksiat.

Allah Ta'ala menyifati orang-orang yang tawadhu dalam Alquran Surah Al-Furqan ayat 63:

وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا

Artinya: "Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan," (QS. Al-Furqan: 63).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku supaya kalian bersikap tawadhu sehingga tidak ada seseorang yang membanggakan dirinya terhadap yang lain, dan tidak seseorang yang menzalimi yang lain," (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhid, KH Abdullah Gymnastiar atau yang karib disapa Aa Gym mengatakan, sifat tawadhu memang baik, namun akan berbahaya jika muncul perasaan ingin dinilai orang sebagai pribadi yang tawadhu. Dai asal Bandung ini mengatakan, sifat sombong yang sesungguhnya ialah ketika seseorang menganggap sikap tawadhu ada pada dirinya.

Sebab, seringkali ada yang berpura-pura memiliki sifat tawadhu dengan cara berjalan, cara berpakaian serta seringkali menundukkan badannya dan ia berharap untuk dinilai oleh orang lain jika ia adalah seorang tawadhu. Ia mengangkat diri dengan berpura-pura rendah hati dan ingin diakui oleh orang lain.

“Kita tidak memerlukan untuk merasa tawadhu, yang penting tuh benar-benar jadi orang yang rendah hati, bukan untuk dinilai orang,” kata Aa Gym, dikutip dari channel YouTubenya, Aa Gym Official.

Diingatkan pula oleh Ibnu ‘Atha’illah,

الْمُتَوَاضِعُ الْحَقِيْقِيُّ هُوَ مَا كَانَ نَاشِئًا عَنْ شُهُوْدِ عَظَمَتِهِ وَتَجَلِّيْ صِفَتِهِ

Artinya: “Sikap tawadhu yang sejati timbul karena menyadari akan keagungan Allah dan sifat-sifatNya yang begitu nyata,”.

“Kalau tubuhnya pura-pura tawadhu, tapi hatinya merasa lebih mulia dari orang lain, itu tidak akan bisa konsisten, nanti akan ada saatnya Allah menampakkan kesombongan kita yang sesungguhnya," tuturnya.

Aa Gym menambahkan, Allah Ta'ala sangat mencintai orang-orang bersifat tawadhu, di antaranya kita harus mau menerima masukan, nasihat, bahkan kritikan sepedas apapun jika memang itu suatu kebenaran, maka itulah karunia Allah sesungguhnya. Ia juga mengingatkan, agar jangan memandang orang lain lebih rendah, begitupun merasa diri kita lebih hebat atau lebih mulia dari orang lain.

Mudah-mudahan Allah memberikan taufik kepada kita untuk bisa mengevaluasi diri sendiri. Kita paham kekurangan dan kesalahan diri sendiri dan memiliki niat untuk memperbaikinya. Dengan memperbaiki diri, semoga Allah menjadikan diri kita jalan kebaikan bagi yang lain," tutupnya. [yy/okezone]

 


 

Tags: Tawadhu | Riya' | Munafik | Nifaq