27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Istiqomah, Jangan Pernah Lelah Menjaga Ketaatan

Istiqomah, Jangan Pernah Lelah Menjaga Ketaatan

Fiqhislam.com - Tidak merasa lelah dan tidak akan bosan beribadah. Itulah yang akan dirasakan oleh orang-orang yang istiqomah dalam menjaga ketaatan dan beribadah kepada Allah Ta'ala.

Orang-orang yang istiqomah itu juga bergembira dengan surga yang dijanjikan Allah, yakni tempat segala kenikmatan, sebagai balasan yang Allah gambarkan dengan firmannya dalam hadits qudsi:

“Sesuatu yang tidak ada satu mata pun yang pernah melihatnya, tidak ada satu telinga pun yang pernah mendengarnya dan tidak pernah terlintas sedikitpun dalam hati manusia.” (HR Bukhari Muslim).

Karena sangat tekun menjalankan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah Ta'ala, orang yang istiqomah tidak takut dan tidak sedih saat akan meninggalkan dunia menuju panggilan Allah. Para ulama juga menjelaskan, bahwa maksud tidak takut adalah mereka tidak takut dengan apa yang akan mereka hadapi setelah hari kematian mereka. Adapun maksud mereka tidak bersedih adalah mereka tidak bersedih dengan apa yang mereka tinggalkan selama di dunia.

Perasaan ini akan dialami oleh semua orang yang istiqomah. Termasuk orang-orang yang ketika di dunia sangat bahagia, berharta dan berkedudukan tinggi. Karena kebahagiaan yang akan mereka terima di akhirat, jauh lebih baik dari apa yang selama ini mereka rasakan di dunia. Sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman, tidak istiqomah, berlaku maksiat dan sombong, kelak yang akan dirasakannya adalah ketakutan yang mencekam dan kesedihan yang mendalam. Hingga walaupun di dunia mereka adalah orang yang paling sengsara. Karena, kesengsaraannya selama mereka di dunia, masih jauh lebih baik dari kerugian yang akan diterimanya di akhirat.

Dengan kesabaran menjalan ketaatan dan kekuataniman, maka seorang yang istiqomah tidak akan merasa letih dan lelah dalam melaksanakan semua ibadah. payah dan letihnya hanya akan disandarkan kepada Allah Ta'ala. Keimanan kepada Allah menuntut sikap istiqomah. Keyakinan hati, kebenaran lisan dan kesungguhan dalam amal adalah unsur-unsur keimanan yang mesti dijalankan dengan istiqomah. istiqomah yang berarti keteguhan dalam memegang prinsip, merupakan bukti jelas kekuatan iman seseorang.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushilat [41]: 30)

Seorang yang istiqomah tidak akan menyia-nyiakan waktunya di dunia. Hari-harinya akan diisi dengan ibadah yang maksimal karena dia tahu bahwa dia akan ditanya tentang umurnya, tentang amalnya, dan tentang tubuhnya atau letih dan capeknya selama hidup di dunia.

Dari Abu Barzah Al-Aslamiradhiyallahu' anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang, tentang umurnya (untuk apakah dia habiskan. Tentang Ilmunya (untuk apakah dia amalkan). Tentang hartanya (dari mana dia dapatkan dan dalam perkara apa dia belanjakan). Serta tentang tubuhnya (yakni capek dan lelah tubuhnya), dalam perkara apa dirusakkannya.” (HR.At-Tirmidzi).

hadits tersebut menjelaskan di antara perkara yang pasti akan ditanyakan kepada kita adalah tentang umur selama hidup di dunia, untuk apa kita habiskan. Hal ini menunjukkan pentingnya bagi anggota tubuh kita untuk menghargai waktu yang dimaksimalkan dalam beribadah. Salah seorang Sahabat Nabi yang mulia, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, tidaklah aku menyesal melebihi penyesalanku terhadap suatu hari di mana matahari terbit di dalamnya, sedangkan umurku berkurang, akan tetapi amalan kebaikanku tidak bertambah.

Ketahuilah para muslimah, bahwa sahabat Nabi SAW dan para ulama terdahulu sangat bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan waktunya. Mereka tidak melewatkan satu hari atau sebagian harinya tanpa membekali diri mereka di hari itu dengan ilmu yang bermanfaat atau amalan shalih, agar tidak berlalu (habis) umur mereka dengan sia-sia dan terbuang dengan percuma.

Segeralah introspeksi atau mengoreksi diri. Yakni, bagaimana kita selama ini menghabiskan waktu kita, agar kita termasuk orang-orang yang menghabiskan waktu atau umur kita dengan kesia-siaan. Dan agar kita menjadi orang yang istiqomah dalam menjaga ketaatan dan ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Rasulullah Shallaluhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Katakanlah: Rabbku adalah Allah” dan Istiqomahlah.” (HR Tirmidzi). Allah memberitakan bahwa ketika orang-orang yang istiqomah itu mati, akan turun kepada mereka para malaikat seraya berkata, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Wallahu A'lam [yy/sindonews]