<
pustaka.png
basmalah.png

Waktu yang Tepat Mandi Junub

Waktu yang Tepat Mandi Junub

Fiqhislam.com - Berjimak atau berhubungan intim bagi pasangan suami-istri termasuk salah satu ibadah dalam Islam, dan wajib mandi janabah untuk menyucikan diri setelah melakukannya. Namun, terkadang sebagian masih mempertanyakan, kapan waktu yang tepat untuk mandi junub atau mandi besar?

Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani), Ustadz Ainul Yaqin mengatakan, pada dasarnya dalam Islam tidak pernah mempersulit kaumnya untuk menjalankan segala sesuatu, termasuk mandi junub setelah berjimak.

"Apakah langsung ketika dia berhubungan suami istri (Jimak) keluar mani, atau bisa ditunda pada waktu berikutnya semisal karena malam dingin, maka pagi sebelum subuh dia mandi Junub? Dalam beberapa riwayat hadits diperbolehkan seseorang tidak langsung mandi junub, langsung tidur setelah berjimak dengan cara berwudhu dulu sebelumnya," katanya saat dihubungi Okezone belum lama ini.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهْوَ جُنُبٌ قَالَ نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ

Artinya: "Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa ‘Umar bin Khattab pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah salah seorang di antara kami boleh tidur sedangkan ia dalam keadaan junub?” Beliau menjawab, “Iya, jika salah seorang di antara kalian junub, hendaklah ia berwudhu lalu tidur." (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, kata ustadz Ainul Yaqin, dihadits lain juga diterangkan boleh mengakhirkan waktu mandi Junub tidak langsung, cukup dengan mencuci kemaluannya, dan berwudhu' dengan catatan jangan sampai lewat mandi Junub sehingga shalat subuhnya lewat juga, apalagi kalau sudah mendawamkan (istiqomah) shalat sunnah, jangan sampai ketinggalan, walaupun sunnah, sangat disayangkan.

Nabi Muhammad bersabda:

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهْوَ جُنُبٌ ، غَسَلَ فَرْجَهُ ، وَتَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ

Artinya: "Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa jika dalam keadaan junub dan hendak tidur, beliau mencuci kemaluannya lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat." (HR. Bukhari).

"Islam adalah agama yang mempermudah, tidak menjadikan pemeluknya kerepotan, kebingungan, keberatan karenanya Nabi memberikan tauladan terkait mandi junub seperti hadits di atas," ucap Ainul.

Kemudian dalam hal ini tidak ada keharusan yang bersifat Fauri (sekaligus), serta menjadikan seseorang ketika selesai berjimak atau berhubungan badan langsung mandi seketika itu jugaa. Namun ada keluasan waktu sepanjang tidak menyebabkan maksiat seperti meninggalkan kewajiban lain, seperti shalat fardhu misalnya.

"Boleh mengakhirkan mandi junub, dengan menyelai aktivitas lain seperti tidur ataupun aktivitas lainya sepanjang tidak ada syara' yang mencegah," terangnya.

Allah SWT berfirman:

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ

"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS.Al Baqarah:185). [yy/okezone]


Tags: Jimak | Junub | Janabat | Janabah
top