<
pustaka.png
basmalah.png

Berperadaban Tinggi, Kaum 'Aad Tertawakan Nabi Hud

Berperadaban Tinggi, Kaum 'Aad Tertawakan Nabi Hud

Fiqhislam.com - Kaum 'Aad mempunyai peradaban yang tinggi. Ini terlihat dari betapa indah ukiran yang mereka hasilkan di situs-situs Iram.

Hanya, kecerdasan mereka tak sesuai dengan iman. Mereka masih menyembah berhala.

Dalam kondisi itu, Nabi Hud AS diutus. Dia mengingatkan Kaum 'Aad untuk kembali menyembah Allah SWT seperti leluhurnya, Nabi Nuh AS. "Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada tuhan lain bagi kalian selain-Nya." (QS Hud:50).

Perkataan itu tidak berubah. Peringatan yang sama telah kem bali diucapkan seperti Adam, Idris, dan Nuh. Hanya, kaum Nabi Hud AS kerap mengejek utusan Allah itu. Ahmad Bahjat dalam Sejarah Nabi-Nabi Allah menjelaskan, mereka berkata kepada Nabi Hud. "Bagaimana engkau menuduh tuhan-tuhan kami yang kami mendapati ayah-ayah kami menyembahnya?" Nabi Hud menjawab: "Sungguh orangtua kalian telah berbuat kesalahan."

Kaum Nabi Hud berkata, "Apakah engkau akan mengatakan wahai Hud bahwa setelah kami mati dan menjadi tanah yang beterbangan di udara, kita akan kembali hidup?" Nabi Hud menjawab: "Kalian akan kembali pada hari kiamat dan Allah SWT akan bertanya kepada masing-masing dari kalian tentang apa yang kalian lakukan." Allah SWT menceritakan sikap kaum itu terhadap hari kiamat pada QS al Mukminun: 33-37.

Mereka pun tertawa mendengar jawaban Nabi Hud. Mereka berkata kepadanya: "Tidak mungkin-tidak mungkin". Al Quran menerangkan mereka sebagai al- Mala'. Mereka adalah para pembesar kaum. Orang-orang kaya dan para elite yang menentang para nabi. Allah SWT menggambarkan mereka dalam firman- Nya: "Dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia." (QS al-Muk minun:33).

Mereka tak juga percaya ke pada peringatan Nabi Hud. Mereka pun mulai menuduh Nabi Hud gila dan idiot. "Kaum 'Aad ber kata: "Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan memercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu." (QS Hud: 53-54).

Nabi Hud pun mengetahui azab akan turun kepada kaumnya. Terjadilah masa kering di muka bumi di mana langit tidak lagi menurunkan hujan. Matahari menyengat sangat kuat hingga laksana percikan-percikan api yang menimpa kepala manusia.

Kaum Nabi Hud lantas bertanya kepadanya. "Mengapa terjadi kekeringan ini wahai Hud?" Nabi Hud menjawab." Sesungguhnya Allah SWT murka kepada kalian. Jika kalian beriman, maka allah SWT akan rela kepada kalian dan menurunkan hujan.."

Kaum Nabi Hud justru mengejeknya meski kekeringan semakin meningkat dan mematikan pepohonan. Kekeringan lantas berganti menjadi awan. Kaum Nabi Hud mengiranya hujan. Mereka bergembira dan keluar dari rumah-rumahnya. Tiba-tiba udara menjadi semakin dingin. Angin bertiup sangat kencang. Semua benda bergoyang. Angin terus bertiup hingga tujuh malam. Kaum Nabi Hud berlari menyelamatkan diri, tapi semua terlambat.

"Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus. Maka, kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (QS al-Haqqah;7).

 

Berperadaban Tinggi, Kaum 'Aad Tertawakan Nabi Hud

Fiqhislam.com - Kaum 'Aad mempunyai peradaban yang tinggi. Ini terlihat dari betapa indah ukiran yang mereka hasilkan di situs-situs Iram.

Hanya, kecerdasan mereka tak sesuai dengan iman. Mereka masih menyembah berhala.

Dalam kondisi itu, Nabi Hud AS diutus. Dia mengingatkan Kaum 'Aad untuk kembali menyembah Allah SWT seperti leluhurnya, Nabi Nuh AS. "Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada tuhan lain bagi kalian selain-Nya." (QS Hud:50).

Perkataan itu tidak berubah. Peringatan yang sama telah kem bali diucapkan seperti Adam, Idris, dan Nuh. Hanya, kaum Nabi Hud AS kerap mengejek utusan Allah itu. Ahmad Bahjat dalam Sejarah Nabi-Nabi Allah menjelaskan, mereka berkata kepada Nabi Hud. "Bagaimana engkau menuduh tuhan-tuhan kami yang kami mendapati ayah-ayah kami menyembahnya?" Nabi Hud menjawab: "Sungguh orangtua kalian telah berbuat kesalahan."

Kaum Nabi Hud berkata, "Apakah engkau akan mengatakan wahai Hud bahwa setelah kami mati dan menjadi tanah yang beterbangan di udara, kita akan kembali hidup?" Nabi Hud menjawab: "Kalian akan kembali pada hari kiamat dan Allah SWT akan bertanya kepada masing-masing dari kalian tentang apa yang kalian lakukan." Allah SWT menceritakan sikap kaum itu terhadap hari kiamat pada QS al Mukminun: 33-37.

Mereka pun tertawa mendengar jawaban Nabi Hud. Mereka berkata kepadanya: "Tidak mungkin-tidak mungkin". Al Quran menerangkan mereka sebagai al- Mala'. Mereka adalah para pembesar kaum. Orang-orang kaya dan para elite yang menentang para nabi. Allah SWT menggambarkan mereka dalam firman- Nya: "Dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia." (QS al-Muk minun:33).

Mereka tak juga percaya ke pada peringatan Nabi Hud. Mereka pun mulai menuduh Nabi Hud gila dan idiot. "Kaum 'Aad ber kata: "Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan memercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu." (QS Hud: 53-54).

Nabi Hud pun mengetahui azab akan turun kepada kaumnya. Terjadilah masa kering di muka bumi di mana langit tidak lagi menurunkan hujan. Matahari menyengat sangat kuat hingga laksana percikan-percikan api yang menimpa kepala manusia.

Kaum Nabi Hud lantas bertanya kepadanya. "Mengapa terjadi kekeringan ini wahai Hud?" Nabi Hud menjawab." Sesungguhnya Allah SWT murka kepada kalian. Jika kalian beriman, maka allah SWT akan rela kepada kalian dan menurunkan hujan.."

Kaum Nabi Hud justru mengejeknya meski kekeringan semakin meningkat dan mematikan pepohonan. Kekeringan lantas berganti menjadi awan. Kaum Nabi Hud mengiranya hujan. Mereka bergembira dan keluar dari rumah-rumahnya. Tiba-tiba udara menjadi semakin dingin. Angin bertiup sangat kencang. Semua benda bergoyang. Angin terus bertiup hingga tujuh malam. Kaum Nabi Hud berlari menyelamatkan diri, tapi semua terlambat.

"Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus. Maka, kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (QS al-Haqqah;7).

 

Kaum 'Aad, Cicit Nabi Nuh Penyembah Berhala

Kaum 'Aad, Cicit Nabi Nuh Penyembah Berhala


Fiqhislam.com - Bencana menghempas manusia pada masa Nabi Nuh AS. Bumi ditenggelamkan air bah. Allah SWT hanya menyelamatkan Nabi Nuh bersama segelintir manusia yang bertakwa.

Usai bencana besar itu, waktu pun berganti. Manusia berganti generasi. Para cucu dan cicit itu hendak mengenang kakek-kakek mereka yang bisa selamat dari badai. Mereka pun membuat patung-patung demi menghormatinya.

Penghormatan itu berubah menjadi penghambaan. Mereka mulai menyembah patung usai digoda setan. Salah satu penyembah patung itu adalah kaum 'Aad. Mereka dikenal memiliki tubuh yang tegak dan tinggi.

Sampai-sampai, Al Quran mengutip per kataan mereka. "Maka, adapun kaum 'Aad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan mereka berkata, "Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami? Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka." (QS Fushilat: 7-11).

Imam Ibnu Katsir menyebutkan sanad kaum 'Aad, yakni 'Aad ibnu Iram ibnu Aus ibnu Sam ibnu Nuh. Mereka merupakan kabilah yang tinggal di negeri bernama al-Ahqaf, suatu padang yang di penuhi dengan gunung-gunung pasir. Mereka tinggal di kemah-kemah yang diperkuat dengan tiang-tiang kuat dan tinggi.

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu beruat terhadap kaum 'Aad? (Ya itu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan tinggi. Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lainnya.'' (QS al-Fajr: 6-8).

Pada 1992, seorang arkeolog, Nicholas Clapp memburu jejak-jejak sebuah kabilah di tengah gurun pasir di Dhohar, Oman. Clapp penasaran dengan legenda Lost City of Atlantis versi Arab ini.

Menurut cerita suku badui kuno, kabilah itu dihancurkan Tuhan karena buah kezalimannya. Dengan meminjam satelit Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan peta kuno Ptolemeus, Clapp berhasil mendeteksi adanya jejak karavan di lokasi tersebut. Dia lantas menggali situs yang ada di balik 12 meter tanah itu. Inilah Iram, sebuah daerah kuno di mana kaum Ad tinggal.

Kaum Ad mempunyai peradaban yang tinggi. Ini terlihat dari betapa indah ukiran yang mereka hasilkan di situs-situs Iram. Hanya, kecerdasan mereka tak sesuai dengan iman. Mereka masih menyembah berhala. [yy/republika]

 



 

top