19 Muharram 1444  |  Rabu 17 Agustus 2022

basmalah.png

Ketika Rasulullah Ditegur karena Lupa Ucapkan 'Insya Allah'

Ketika Rasulullah Ditegur karena Lupa Ucapkan 'Insya Allah'

Fiqhislam.com - Ungkapan "insya Allah" mengandung makna yang dalam. Bahkan, faedah ucapan itu sudah ditegaskan dalam Alquran surah al-Kafhi ayat 23-24.

Artinya, "Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi', kecuali (dengan menyebut): 'Insya Allah.'"

Sebab turunnya (asbabun nuzul) ayat tersebut berkenaan dengan kisah sebagai berikut.

Suatu ketika, kaum Quraisy mengutus an-Nadlr bin al-Harts dan Uqbah bin Abi Mu'ith. Keduanya ditugaskan untuk meminta saran dari seorang pendeta Yahudi di Yastrib.

Orang-orang Quraisy mengakui, kaum Yahudi lebih cerdas daripada mereka --kaum musyrikin-- dalam soal pengetahuan tentang Kitab. Para pemuka Quraisy ingin, pengetahuan yang diberi pendeta Yahudi dapat mereka pakai untuk mendebat Rasulullah SAW.

Di Yastrib, pendeta Yahudi yang dimaksud menerima an-Nadlr dan Uqbah. Kepada keduanya, ia menyarankan, "Kalian hendaknya bertanya kepada Muhammad tentang tiga perkara. Jika Muhammad dapat menjawab tiga pertanyaan ini, maka sungguh ia adalah utusan Allah. Namun, jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang biasa yang mengaku-aku sebagai nabi."

"Apa itu?"

"Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. Kedua, tanyakan tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq (timur) dan Maghrib (barat) dan apa yang terjadi atas dirinya. Ketiga, tanyakan kepadanya tentang roh."

Para utusan Quraisy itu pun pulang dengan perasaan lega. Sesampainya di Makkah, mereka melapor ke petinggi Quraisy. Tak butuh waktu lama, mereka lantas menemui Nabi Muhammad SAW di dekat Ka'bah.

Kepada beliau, mereka menanyakan ketiga persoalan, sebagaimana yang dipesankan si pendeta Yahudi.

Rasulullah SAW menjawab, "Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok."

Namun, waktu yang disebutkan itu telah lewat. Lima belas malam lamanya Rasulullah SAW menunggu-nunggu datangnya wahyu yang dapat menerangkan tentang tiga pertanyaan itu.

Rasul SAW terus menanti, tetapi Jibril tak kunjung datang. Maka, kaum musyrikin Makkah mulai mencemooh. Rasulullah sangat berduka dan malu karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada kaum Quraisy.

Akhirnya, datanglah Malaikat Jibril membawa wahyu. Yakni, surah al-Kafhi ayat 23-24. Isinya menegur Nabi SAW karena memastikan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan "insya Allah."

Selanjutnya, Jibril menyampaikan wahyu yang dapat menjawab pertanyaan tentang pemuda-pemuda yang bepergian, yakni Ashabul Kahfi (QS 18:9-26); seorang pengembara, yakni Dzulqarnain (QS 18:83-101); dan perkara roh (QS 17:85).

Menurut pakar tafsir Alquran Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Kitab Jaami'ul Bayan kisah asbabun nuzul di atas mengandung hikmah, "Inilah pengajaran Allah kepada Rasulullah SAW agar jangan memastikan suatu perkara akan terjadi tanpa halangan apa pun, kecuali menghubungkannya dengan kehendak Allah SWT." [yy/republika]

Ketika Rasulullah Ditegur karena Lupa Ucapkan 'Insya Allah'

Fiqhislam.com - Ungkapan "insya Allah" mengandung makna yang dalam. Bahkan, faedah ucapan itu sudah ditegaskan dalam Alquran surah al-Kafhi ayat 23-24.

Artinya, "Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi', kecuali (dengan menyebut): 'Insya Allah.'"

Sebab turunnya (asbabun nuzul) ayat tersebut berkenaan dengan kisah sebagai berikut.

Suatu ketika, kaum Quraisy mengutus an-Nadlr bin al-Harts dan Uqbah bin Abi Mu'ith. Keduanya ditugaskan untuk meminta saran dari seorang pendeta Yahudi di Yastrib.

Orang-orang Quraisy mengakui, kaum Yahudi lebih cerdas daripada mereka --kaum musyrikin-- dalam soal pengetahuan tentang Kitab. Para pemuka Quraisy ingin, pengetahuan yang diberi pendeta Yahudi dapat mereka pakai untuk mendebat Rasulullah SAW.

Di Yastrib, pendeta Yahudi yang dimaksud menerima an-Nadlr dan Uqbah. Kepada keduanya, ia menyarankan, "Kalian hendaknya bertanya kepada Muhammad tentang tiga perkara. Jika Muhammad dapat menjawab tiga pertanyaan ini, maka sungguh ia adalah utusan Allah. Namun, jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang biasa yang mengaku-aku sebagai nabi."

"Apa itu?"

"Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. Kedua, tanyakan tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq (timur) dan Maghrib (barat) dan apa yang terjadi atas dirinya. Ketiga, tanyakan kepadanya tentang roh."

Para utusan Quraisy itu pun pulang dengan perasaan lega. Sesampainya di Makkah, mereka melapor ke petinggi Quraisy. Tak butuh waktu lama, mereka lantas menemui Nabi Muhammad SAW di dekat Ka'bah.

Kepada beliau, mereka menanyakan ketiga persoalan, sebagaimana yang dipesankan si pendeta Yahudi.

Rasulullah SAW menjawab, "Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok."

Namun, waktu yang disebutkan itu telah lewat. Lima belas malam lamanya Rasulullah SAW menunggu-nunggu datangnya wahyu yang dapat menerangkan tentang tiga pertanyaan itu.

Rasul SAW terus menanti, tetapi Jibril tak kunjung datang. Maka, kaum musyrikin Makkah mulai mencemooh. Rasulullah sangat berduka dan malu karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada kaum Quraisy.

Akhirnya, datanglah Malaikat Jibril membawa wahyu. Yakni, surah al-Kafhi ayat 23-24. Isinya menegur Nabi SAW karena memastikan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan "insya Allah."

Selanjutnya, Jibril menyampaikan wahyu yang dapat menjawab pertanyaan tentang pemuda-pemuda yang bepergian, yakni Ashabul Kahfi (QS 18:9-26); seorang pengembara, yakni Dzulqarnain (QS 18:83-101); dan perkara roh (QS 17:85).

Menurut pakar tafsir Alquran Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Kitab Jaami'ul Bayan kisah asbabun nuzul di atas mengandung hikmah, "Inilah pengajaran Allah kepada Rasulullah SAW agar jangan memastikan suatu perkara akan terjadi tanpa halangan apa pun, kecuali menghubungkannya dengan kehendak Allah SWT." [yy/republika]

Tiga Pertanyaan yang Diajukan Kaum Quraisy kepada Nabi Saw

Tiga Pertanyaan yang Diajukan Kaum Quraisy kepada Nabi Saw


Fiqhislam.com - Malaikat Jibril membawa empat wahyu dari Allah yang hendak disampaikan kepada Nabi Muhammad. Wahyu pertama berisi perintah mengucapkan Insya Allah (surat al-Kahfi ayat 23-24) dan tiga wahyu lainnya berisi tiga jawaban atas tiga pertanyaan.

Pertanyaan pertama yang diajukan oleh Pemimpin Quraisy adalah kisah tentang para pemuda yang meninggalkan kaumnya pada zaman dahulu. Nabi Muhammad menjawabnya dengan surat al-Kahfi ayat 9 sampai 25. Kisah ini masyhur dengan sebutan kisah Ashabul Kahfi yang tertidur di dalam gua selama lebih dari tiga ratus tahun dengan ditemani seekor anjing yang setia. Sekelompok pemuda ini melarikan diri dari kezaliman seorang raja pada kaumnya dan Allah menidurkan mereka selama berabad-abad di dalam gua.

Pertanyaan kedua yang disodorkan oleh Pemimpin Quraisy adalah cerita tentang seorang petualang yang berhasil menjelajahi ujung bumi di timur dan barat. Nabi Muhammad menjawabnya dengan surat al-Kahfi ayat 93 sampai 99 yang berisi tentang kisah seorang petualang besar yang bernama Dzulqornain. Tak hanya tentang perjalanannya dari barat hingga timur, tetapi juga menyebutkan perjalanan misterius di antara dua gunung yang di tempat tersebut terdapat Ya’juj dan Ma’juj.

Pertanyaan terakhir yang diujikan oleh Pemimpin Quraisy adalah hakikat roh. Nabi Muhammad menjawab pertanyaan terakhir ini dengan surat al-Isra’ ayat 85. Ayat ini menjelaskan bahwa urusan roh adalah hal di luar jangkauan pikiran manusia. [yy/islami]