12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Adakah Wahyu yang tak Masuk Akal?

Adakah Wahyu yang tak Masuk Akal?Fiqhislam.com - Dalam majalah Gema Islam No.11 yang terbit pada 1 Juli 1962, Prof DR Hamka atau yang lebih akrab disapa Buya Hamka mendapat pertanyaan dari seorang pembaca.

Penanya yang bernama T Bahry Muchsin dari Bogor itu menanyakan, bagaimana kedudukan sabda Nabi: "Agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal."

Kemudian, sang penanya mempertanyakan, jika hadits itu dihubungkan dengan peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, mungkinkah wahyu Illahi itu ada yang tidak ma'qul?

Mendapat pertanyaan itu, Buya Hamka menegaskan bahwa peristiwa Isra Mi'raj bukanlah tidak masuk akal. Bahkan, bisa dipikirkan oleh akal dan tidak mustahil terjadi.

Hanya saja, memang pada saat itu mustahil menurut adat kebiasaan. Di dalam ini banyak perkara-perkara yang belum diterima pada mulanya oleh akal kita. Karena, belum diketahui rahasianya.



"Misalnya, pada 150 tahun yang lalu, kalau dikatakan manusia bisa terbang cepat dari Jakarta ke Makkah dalam tempo satu malam saja, maka orang akan berkata itu tidak masuk akal, meskipun bisa dikhayalkan dalam pikirannya. Dan, sekarang hal itu bukanlah sesuatu yang aneh lagi," kata Buya Hamka.

Di dalam pengajian ilmu, akal dibagilah 'Ujud' (yang ada) itu kepada beberapa bagian:

1. Ujud Khariji:

Ada yang dapat disaksikan oleh pancaindra karena dia ada di diri kita.

2. Ujud Zihni:

Ada yang bisa dikhayalkan oleh pikiran kita, meskipun dia belum terjadi pada kenyataan. Misalnya orang terbang ke langit atau Gunung Gede menjadi emas, atau runtuh jadi danau. Hal ini bukanlah mustahil pada akal, meskipun mustahil pada adat.

3. Ujud Ilmi:

Ada dalam pengetahuan, meskipun belum ada dalam kenyataan. Misalnya seorang arsitek menggambarkan terlebih dahulu dalam ingatannya berapa besar rumah yang akan didirikan, berapa semen terpakai, berapa paku, besi, kayu, dan sebagainya. Padahal rumahnya sendiri belum ada. Sebab itu maka alam sebelum terjadi, sudah ada dalam ilmu Allah ta'ala.

Adapun yang mustahil yang tidak mausk akal misalnya mengatakan bahwa alam terjadi sendirinya, Tuhan yang menciptakan alam tidak ada. Atau sebagai kepercayaan bahwa Tuhan Allah beranak atau Tuhan itu tidaklah satu tetapi tiga dan bukan Dia semata-mata tiga, tetapi dia satu.

Maka kepercayaan orang Islam tentang adanya Isra dan Mi'raj bukanlah mereka menganut suatu kepercayaan yang tidak masuk di akal, melainkan suatu kepercayaan yang mustahil pada adat, karena belum pernah terjadi sebelumnya. Tetapi, dia dapat diterima oleh akal. sebab dapat dikhayalkan (Dibayangkan dalam ingatan). Termasul dalam lingkungan 'Ujud Zihni'.

Menurut Buya Hamka, dalam rangka ini maka selain dari memegang teguh kepercayaan karena disebut dalam Alquran orang Islam pun percaya penuh bahwa Nabi Isa Almasih lahir ke dunia dari Maryam, dengan tidak disentuh oleh laki-laki manapun. Karena kelahiran demikian dapat dikhayalkan oleh ingatan (ujud zihni).

Cuma mustahil pada adat, sebab belum pernah terjadi sebelumnya menurut yang diketahui orang. Tetapi, orang Islam tidak dapat percaya bahwa Isa itu anak Allah, karena mustahil Tuhan Allah Yang Maha Kuasa mutlak, memerlukan seorang anak buat teman sejawatnya dan membagi kekuasaan dengan Dia, dan lebih tidak perlu lagi menurut akal dia akan beranak, yaitu anak yang menganggur tidak ada kekuasaannya yang mutlak, sebab kuasa mutlak ada pada Allah.

Mengenai Isra dan Mi'raj itu dalam kalangan ulama-ulama Islam timbul perbedaan-perbedaan pendapat. Jumhur ulama yang terbanyak berpendapat Nabi Muhammad itu Isra dan Mi'raj dengan tubuh dan nyawanya, dan ada pula yang percaya bahwa perjalanan Isra dan Mi'raj itu adalah semacam mimpi, yaitu nyawa beliau saja.

Dan, tidak ada dalam kalangan Islam yang menuduh kafir golongan yang percaya Nabi Isra dan Mi'raj dengan nyawa saja itu.

Kalau golongan itu akan dituduh kafir, bukanlah semata-mata karena kepercayan itu. Dan ada pula yang berkepercayaan bahwa Nabi Muhammad Isra ke Baitul Maqdis adalah dengan nyawa dan badannya, sedang Mi'raj-nya ke langit adalah hanya nyawanya. Dan, setengah ulama salaf tidak mau membicarakan soal badan dan nyawa itu. Nabi Muhammad SAW Isra dan Mi'raj! habis perkara.

Oleh sebab itu, menurut Buya Hamka, mengenai pertanyaan penanya yang bernama T Bahry Muchsin dari Bogor, "Adakah wahyu Ilahi itu yang tidak ma'qul?"

Maka, dengan tegas Buya Hamka menjawab, "Tidak ada wahyu Ilahi yang tidak ma'qul." [yy/republika]

Sumber: Hamka Menjawab Soal-Soal Islam / Pustaka Panji Mas

 

 



 

Tags: Wahyu | Akal | Mustahil