fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


3 Ramadhan 1442  |  Kamis 15 April 2021

Mengenal Ibunda Siti Maryam, Hannah binti Faqudz

Mengenal Ibunda Siti Maryam, Hannah binti FaqudzFiqhislam.com - Siapa yang tak kenal Siti Maryam? Wanita suci yang melahirkan Nabi Isa itu nyatanya memiliki garis keturunan yang begitu mulia. Diketahui, Ibunda dari Siti Maryam merupakan seorang ahli ibadah yang tumbuh di lingkungan yang baik yang senantiasa berdoa memohon keturunan.

Ibunda Siti Maryam bernama Hannah binti Faqudz. Namun ada juga yang menyebutnya Faqudza dan Faqura ibnu Qubail sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir. Beliau merupakan istri dari Imran bin Matsan yang mana tinggal di gunung Hibran tak jauh dari Al-Quds, Palestina.

Berdasarkan buku Ensiklopedia Wanita Alquran karya Imad al-Hilali disebutkan, Hannah binti Faqudz merupakan seorang wanita shalehah yang taat beribadah kepada Tuhannya. Ia tumbuh besar di rumah ahli ibadah yang selalu menjaga kehormatan diri.

Kala sudah menikah, Hannah binti Faqudz juga dikenal sebagai wanita yang tinggal berdua bersama suaminya. Beliau taat dan patuh kepada suami meski Allah belum mengkaruniainya nikmat keturunan, namun mengaruniakannya nikmat kesabaran dan keimanan yang kuat.



Hingga mereka hidup sampai renta dan tua, nikmat keturunan itu belum juga menghampiri mereka. Sampai suatu ketika di saat Hannah duduk di bawah pohon Mawalih yang cukup populer di wilayah Palestina, tiba-tiba seekor burung terlihat sedang memberi makan anaknya.

Peristiwa itu menggugah pikirannya kepada seorang anak. Rasa inginnya mempunyai keturunan begitu besar dan pada akhirnya ia kembali menghaturkan doa kepada Allah agar dikaruniai keturunan. Dan Allah pun mengabulkan doa Hannah binti Faqudz.

Tak lama setelah itu, Allah pun mengijabah doanya. Hannah pun mendapati terdapat janin yang bergerak di dalam perutnya. Ia pun segera memuji Allah dan bersyukur kepadaNya.

Ketika hendak berangkat ke Al-Quds, Hannah berdiri dari mihrabnya seraya berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku (untuk) menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah nazar itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Tuhan Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui”. [yy/republika]