19 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 25 Oktober 2021

basmalah.png

Fathul Qarib, Kitab Fiqih Idola Bagi Pemula

Fathul Qarib, Kitab Fiqih Idola Bagi PemulaFiqhislam.com - Kitab ini sangat populer di kalangan pesantren yang tersebar di nusantara. Kitab berjudul Fathul Qorib ini menjadi idola bagi santri pemula atau umat Islam yang baru mempelajari ilmu fiqih. Bahkan, Universitas Al-Azhar di Mesir menjadikannya sebagai buku wajib yang harus dipelajari.

Kitab fikih bermazhab Asy-Syafi’i ini disusun oleh Ibnu Qosim Al Ghazi dengan sangat ringkas dan sistematis. Kitab Fathul Qarib merupakan syarah atau penjelasan dari kitab yang dikarang oleh Al Qadhi Abu Syuja, yaitu Al-Ghayah wa At-Taqrib.

Dalam sebagian naskah kitab Abu Syuja tersebut, terkadang dinamai At Taqrib dan terkadang pula dengan Ghayatul Ikhtishar. Karena itu, Al-Ghazi manamai kitab Fathul Qorib ini dengan dua nama, yaitu Fathul Qorib Al Mujib Fi Syarhi Alfadzi At Taqrib dan Al Qaul Al Mukhtar Fi Syarhi Ghayatil Ikhtishar.



Dalam pendahuluan kitab Fathul Qorib ini, Al Ghazi berharap para pemula bisa mengambil manfa’at dalam masalah cabang syari’at dan agama. Selain itu, kitab ini juga diharapkan bisa menjadi media bagi umat Islam yang ingin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Karena, sesungguhnya Allah sangat dekat.

“Jika hambaku bertanya kepada mu, maka sesungguhnya Aku sangatlah Dekat”. (QS. Al Baqaroh:186).

Sebelum membahas isi dalam kitab ini, sebaiknya mengenal pengarangnya terlebih dahulu. Nama lengkapnya adalah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim Al Ghazi. Ulama ini dilahirkan di Ghaza Palestina, pada bulan Rajab 859 Hijriyah.

Di kota itu pula Al Ghazi tumbuh menjadi dewasa. Namun, pada 881 Hijriah ia kemudian memutuskan hijrah ke Mesir untuk menuntut ilmu sampai akhirnya menjadi ulama yang dihormati karena kealimannya.

Selama menuntut ilmu, Al Ghazi belajar kepada banyak ulama untuk memperdalamilmu fikih, ilmu qiraat, mempelajari tata bahasa Arab, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Bahkan, Al Ghazi juga mempelajari ilmu umum seperti matematika.

Al Ghazi juga merupakan salah satu ulama yang hafal Alquran. Suaranya merdu sekali sehingga orang yang salat bermakmum di belakangnya tidak akan bosan mendengar ayat-ayat Alquran yang dilantunkannya. Al Ghazi wafat pada malam Rabu, 6 Muharram 918 Hijriah, tapi ada juga versi lainnya yang menyatakan wafat pada Jumat 15 Muharram.

Kitab Fathul Qorib bukanlah kitab syarah panjang lebar yang membosankan, tapi juga bukan kitab ringkas yang bisa merusak makna. Karya Al Ghazi yang satu ini merupakan kitab yang berisi tentang ilmu untuk mengetahui hukum-hukum syariat yang diambil dari dalil-dalil terperinci.

Isi dari kitab Fathul Qorib ini terdiri dari muqaddimah dan pembahasan ilmu fiqih yang secara garis besar terdiri atas empat bagian, yaitu tentang cara pelaksanaan ibadah, muamalat, masalah nikah, dan kajian hukum Islam yang berbicara tentang kriminalitas atau jinayat.

Sebagaimana lazimnya kitab fiqih, pada bagian pertama kitab Fathul Qorib ini, Al Ghazi membahas tentang beberapa tata cara pelaksanaan ibadah yang terdiri dari lima pembahasan, yaitu bersuci, shalat, zakat, serta puasa dan haji.

Dalam menjelaskan tentang bersuci atau thaharoh, Al Ghazi setidaknya membahas 13 pasal. Di antaranya, tentang benda-benda najis, memakai siwak, wudhu, adab buang air kecil dan besar, tayammum, serta tentang haid dan nifas.

Al Ghazi menjelaskan, Thaharoh berasal dari kata annazhofat yang berarti bersuci. Sedangkan menurut istilah artinya suatu perbuatan yang menjadikan sahnya shalat seperti wudhu, mandi, tayamum, dan menghilangkan najis. Sedangkan tuharot berarti alat untuk bersuci.

Tata cara bersuci sangat penting untuk menjalani ibadah. Karena, jika cara bersucinya saja tidak benar, ibadah yang dilaksanakan mungkin akan menjadi sia-sia. Karena itu, pembahasan ini perlu diketahui bagi seseorang yang baru mempelajari agama Islam.

Setelah mengetahui bab thaharoh, baru kemudian diajarkan lebih dalam tentang cara shalat. Dalam bab ini, Al Ghazi menjelaskan tentang syarat orang yang wajib shalat, macam-macam shalat, dan segal hal yang berkaitan dengan shalat.

Selain itu, ia juga menjelaskan tentang perbedaan laki-laki dan perempuan dalam melaksanakan salat. Misalnya, perbedaan dalam soal aurat yang harus ditutup dan perbedaan cara mengingatkan imam shalat.

Selanjutnya, pada bagian kedua, Al Ghazi membahas tentang masalah muamalat. Pembahasan tentang interaksi sosial dan ekonomi ini dibagi menjadi dua pokok pembahasan. Pertama, tentang hukum jual beli dan muamalah lainnya. Kedua, tentang hukum warisan dan wasiat.

Dalam pembahasan jual beli ini, Al Ghazi di antaranya menjelaskan tentang Ghasab. Menurut dia, ghasab adalah memakai atau merampas harta orang lain tanpa izin pemiliknya. Ghasab berbeda dengan mencuri. Kalau ghasab, mengambil hak milik orang lain dengan terus terang dan memaksa.

Semetara, mencuri adalah merampas harta milik orang lain secara diam-diam. Dengan demikian, ghasab mirip dengan begal atau merampok. Pembahasan tentang begal sendiri juga dijelaskan secara khusus dalam kitab ini.

Kemudian, pada bagian ketiga, Al Ghazi membahas tentang pernikahan dan yang berhubungan dengannya. Sedangkan pada bagian keempat terdiri dari dari delapan pembahasan, di antaranya tentang jinayat dan hukuman. Pada pembahasan ini, kita dapat mengetahui bagaimana seharusnya para pencuri, koruptor, dan pembunuh dihukum sesuai syariat Islam.

Pada bagian terakhir kitab ini, Al Ghazi kemudian membahas tentang hukum hewan buruan, sembelihan, qurban dan makanan, perlombaan hewan dan lomba memanah, sumpah dan nazar, keputusan dan persaksian, dan tentang memerdekakan budak.

Dalam Kitab Fathul Qorib dijelaskan bahwa melakukan perlombaan seperti pacuan kuda atau memanah itu dibolehkan dalam syariah Islam dengan syarat-syarat tertentu. Terkait hewan yang dilombakan, tidak semua hewan boleh dipakai untuk lomba.

Al Ghazi menjelaskan, hewan yang boleh digunakan untuk lomba di antaranya adalah kuda dan unta. Dalam pendapat lain, ada juga yang membolehkan bidhal dan keledai. Untuk diketahui, bighal adalah peranakan antara kuda dengan keledai yang merupakan kuda jenis terbaik pada masa itu.

Sementara itu, hewan yang tidak boleh dipakai dalam perlombaan di antaranya sapi, adu domba, dan adu ayam jago, baik dengan hadiah ataupun tidak. Sayangnya, masyarat Indonesia masih banyak melombakan hewan-hewan yang dilarang tersebut.

Terkait dengan lomba memanah sendiri, hukumnya dibolehkan dengan menggunakan anak panah. Dalam kitab ini, Al Ghazi pun menjelaskan tentang tata cara dalam lomba memanah. Dia juga menjelaskan tentang hukum hadiah yang diberikan dalam perlombaan tersebut.

Memang tidak semua umat Islam bisa membaca kitab yang ditulis dengan bahasa Arab ini. Namun, umat Islam bisa mengaji kepada ustaz atau kiai di pondok-pondok pesantren atau masjid yang membuka pengajian kitab Fathul Qorib.

Jika tidak memungkinkan, masyarakat Indonesia juga bisa mengkajinya lewat terjemahan Kitab Fathul Kitab yang kini sudah banyak beredar. Jika ada yang kurang dimengeri, baru kemudian bertanya kepada ustaz atau kiai yang alim dalam ilmu fiqih. [yy/republika]