15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Keutamaan Rajab, Bulan yang Dimuliakan Allah

Keutamaan Rajab, Bulan yang Dimuliakan Allah

Fiqhislam.com - Kata 'Rajab' memiliki makna 'keagungan atau mulia'. Bulan Rajab juga disebut dalam Alquran sebagai Asyhurul Hurum atau termasuk bulan-bulan yang dihormati. Karenanya, bulan Rajab perlu diagungkan karena adanya sejumlah keutamaan di dalamnya.

Lantas, apa saja keutamaan bulan Rajab? Bulan Rajab termasuk dalam bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Hal demikian sebagaimana dinyatakan dalam Alquran Surah At-Taubah ayat 36, yang berbunyi, "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah pada waku Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan. Inilah agama yang lurus. Oleh sebab itu, janganlah kamu menganiaya dirimu sendiri di dalam bulan yang empat itu. Perangilah orang-orang musyrik semua sebagaimana mereka memerangi kamu semua. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa."

Abdul Manan Bin Haji Muhammad Sobari dalam bukunya berjudul Keagungan Rajab dan Sya'ban menuliskan, ayat tersebut menerangkan ada empat bulan yang dimuliakan Allah, yakni Dzulqa'idah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Hal demikian seperti dijelaskan Nabi Muhammad SAW ketika haji wada (haji penghabisan) saat berkhutbah di hari Qurban.

Rasulullah SAW juga menegaskan soal kemuliaan bulan Rajab. Rasululah SAW bersabda, "Bulan Rajab adalah bulan Allah yang besar dan bulan kemuliaan. Di dalam bulan ini perang dengan orang kafir diharamkan. Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku."

Keagungan bulan Rajab juga dilihat dari dilipatgandakannya kebaikan yang dilakukan di bulan ini. Disebutkan, bahwa orang yang berbuat kebaikan di bulan Rajab, pahalanya ditingkatkan menjadi 70 kali lipat. Sedangkan pada selain bulan haram (mulia), pahala dari amal yang diperbuat hanya 10 kali lipat.

Mengutip buku berjudul Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah karya Ida Fitri Shohibah, dalam sejarahnya, Rajab dimuliakan orang Arab dengan cara menyembelih anak unta pertama dari induknya. Pada bulan ini juga dilarang berperang dan pintu Ka'bah dibuka.

Apabila datang bulan Rajab, orang Arab Jahiliyah mengagungkannya dengan mengadakan acara yang disebut 'Rajabiah'. Biasanya, para penjaga pintu Ka'bah membuka pintu Ka'bah selama Rajab. Pada bulan lain, pintu Ka'bah hanya dibuka dua kali dalam sepekan, yakni setiap Senin dan Kamis.

Selain itu, kaum Arab Jahiliyah juga kerap melakukan puasa. Pada 10 hari pertama, mereka memotong qurban 'Atirah (hewan kurban yang dipotong pada 10 hari pertama Rajab) sebagai persembahan untuk Tuhan mereka dan dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan mereka.

Tradisi ini juga dilakukan oleh orang-orang Islam kala itu. Namun, Rasulullah SAW kemudian menghapus tradisi demikian. Nabi SAW bersabda, "Tidak boleh menyelenggarakan Fara' dan 'Atirah." (Durratun Nasihin 1:315).

Fara' merupakan anak unta pertama dilahirkan. Kaum Jahiliyyah selain memotong kurban 'Atirah, juga memotong kurban Fara' dengan anggapan agar mendapat berkah.

Waktu pemotongannya kemudian dijadikan hari besar. Namun, Nabi  SAW menegaskan, tidak boleh menjadikan bulan sebagai hari besar dan jangan menjadikan hari sebagai hari besar. Kecuali, yang telah ditetapkan oleh Syara', yaitu satu pekan jatuh pada hari Jumat dan dalam satu tahun jatuh pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha serta hari tasyriq (tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah).

Bulan Rajab juga memiliki kedudukan penting dalam Islam. Sebab, di bulan ini terjadi peristiwa diangkatnya Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah SWT ke langit atau disebut dengan peristiwa Isra' Mi'raj. Para ulama berbeda pendapat tentang kapan terjadinya Isra' Mi'raj ini.

Namun, sebagian besar ulama berpendapat peristiwa Isra' Mi'raj ini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Selain itu, bulan Rajab menjadi bulan di mana khalifah umat Islam yang keempat, Ali bin Abi Thalib lahir ke dunia. [yy/republika]

 

Keutamaan Rajab, Bulan yang Dimuliakan Allah

Fiqhislam.com - Kata 'Rajab' memiliki makna 'keagungan atau mulia'. Bulan Rajab juga disebut dalam Alquran sebagai Asyhurul Hurum atau termasuk bulan-bulan yang dihormati. Karenanya, bulan Rajab perlu diagungkan karena adanya sejumlah keutamaan di dalamnya.

Lantas, apa saja keutamaan bulan Rajab? Bulan Rajab termasuk dalam bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Hal demikian sebagaimana dinyatakan dalam Alquran Surah At-Taubah ayat 36, yang berbunyi, "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah pada waku Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan. Inilah agama yang lurus. Oleh sebab itu, janganlah kamu menganiaya dirimu sendiri di dalam bulan yang empat itu. Perangilah orang-orang musyrik semua sebagaimana mereka memerangi kamu semua. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa."

Abdul Manan Bin Haji Muhammad Sobari dalam bukunya berjudul Keagungan Rajab dan Sya'ban menuliskan, ayat tersebut menerangkan ada empat bulan yang dimuliakan Allah, yakni Dzulqa'idah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Hal demikian seperti dijelaskan Nabi Muhammad SAW ketika haji wada (haji penghabisan) saat berkhutbah di hari Qurban.

Rasulullah SAW juga menegaskan soal kemuliaan bulan Rajab. Rasululah SAW bersabda, "Bulan Rajab adalah bulan Allah yang besar dan bulan kemuliaan. Di dalam bulan ini perang dengan orang kafir diharamkan. Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku."

Keagungan bulan Rajab juga dilihat dari dilipatgandakannya kebaikan yang dilakukan di bulan ini. Disebutkan, bahwa orang yang berbuat kebaikan di bulan Rajab, pahalanya ditingkatkan menjadi 70 kali lipat. Sedangkan pada selain bulan haram (mulia), pahala dari amal yang diperbuat hanya 10 kali lipat.

Mengutip buku berjudul Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah karya Ida Fitri Shohibah, dalam sejarahnya, Rajab dimuliakan orang Arab dengan cara menyembelih anak unta pertama dari induknya. Pada bulan ini juga dilarang berperang dan pintu Ka'bah dibuka.

Apabila datang bulan Rajab, orang Arab Jahiliyah mengagungkannya dengan mengadakan acara yang disebut 'Rajabiah'. Biasanya, para penjaga pintu Ka'bah membuka pintu Ka'bah selama Rajab. Pada bulan lain, pintu Ka'bah hanya dibuka dua kali dalam sepekan, yakni setiap Senin dan Kamis.

Selain itu, kaum Arab Jahiliyah juga kerap melakukan puasa. Pada 10 hari pertama, mereka memotong qurban 'Atirah (hewan kurban yang dipotong pada 10 hari pertama Rajab) sebagai persembahan untuk Tuhan mereka dan dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan mereka.

Tradisi ini juga dilakukan oleh orang-orang Islam kala itu. Namun, Rasulullah SAW kemudian menghapus tradisi demikian. Nabi SAW bersabda, "Tidak boleh menyelenggarakan Fara' dan 'Atirah." (Durratun Nasihin 1:315).

Fara' merupakan anak unta pertama dilahirkan. Kaum Jahiliyyah selain memotong kurban 'Atirah, juga memotong kurban Fara' dengan anggapan agar mendapat berkah.

Waktu pemotongannya kemudian dijadikan hari besar. Namun, Nabi  SAW menegaskan, tidak boleh menjadikan bulan sebagai hari besar dan jangan menjadikan hari sebagai hari besar. Kecuali, yang telah ditetapkan oleh Syara', yaitu satu pekan jatuh pada hari Jumat dan dalam satu tahun jatuh pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha serta hari tasyriq (tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah).

Bulan Rajab juga memiliki kedudukan penting dalam Islam. Sebab, di bulan ini terjadi peristiwa diangkatnya Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah SWT ke langit atau disebut dengan peristiwa Isra' Mi'raj. Para ulama berbeda pendapat tentang kapan terjadinya Isra' Mi'raj ini.

Namun, sebagian besar ulama berpendapat peristiwa Isra' Mi'raj ini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Selain itu, bulan Rajab menjadi bulan di mana khalifah umat Islam yang keempat, Ali bin Abi Thalib lahir ke dunia. [yy/republika]

 

Puasa di Bulan Rajab

Keutamaan Puasa di Bulan Rajab


Fiqhislam.com - Mubaligh Mesir, Muhammad Ali menyampaikan bahwa bulan Rajab adalah salah satu bulan suci di sisi Allah SWT. Di bulan inilah diutamakan untuk meningkatkan ibadah, salah satunya ibadah sholat.

"Meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT melalui amal ibadah di bulan Rajab ini sangat penting dan mendapat ganjaran pahala yang besar," tutur dia seperti dilansir laman Elbalad.

Terlebih, amalan tersebut ialah sholat, puasa, zakat, umroh, dzikir, dan ibadah lainnya. Seluruh amal sholeh yang dikerjakan di bulan Rajab yang merupakan salah satu bulan suci, akan diganjar dengan pahala yang besar.

Syekh Ali juga menyinggung soal keutamaan puasa di bulan Rajab yang diriwayatkan dari Abu Qilabah RA di mana ia berkata bahwa di Surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.

"Lalu apakah puasa tersebut dilakukan di awal bulan Rajab, atau pada hari apapun di dalam bulan Rajab, itu dibolehkan dan tidak ada yang salah dengan itu. Dan tidak ada dalil yang menunjukkan larangan berpuasa di bulan Rajab," tuturnya.

Syekh Ali juga menjelaskan, dalam syariat telah ditetapkan bahwa perkara yang mutlak itu mensyaratkan keumuman tempat, waktu, orang, dan keadaan. Dengan demikian, tidak boleh mengatakan sesuatu tanpa adanya dalil atau petunjuk yang mendukungnya.

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda tentang keutamaan bulan Rajab. Beliau SAW bersabda, "Satu tahun terdiri dari 12 bulan dan di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga di antaranya berturut-turut yaitu Dzulqo'dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya'ban."

Umat Muslim ditekankan untuk tidak melakukan dosa selama bulan-bulan suci tersebut. Juga diharamkan untuk melakukan peperangan maupun permusuhan, kecuali musuh memulai lebih dulu. [yy/Umar Mukhtar/republika]