4 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 30 September 2022

basmalah.png

Kisah Perlombaan Sedekah Umar Bin Khattab dan Abu Bakar

Kisah Perlombaan Sedekah Umar Bin Khattab dan Abu Bakar

Fiqhislam.com - Umar bin Khattab RA berkata, "Suatu ketika, Rasulullah SAW menyuruh kami agar berinfak di jalan Allah.

Kebetulan ketika itu ada sedikit harta pada saya, maka saya berkata di dalam hati, 'Saat ini aku memiliki harta. Jika suatu saat aku dapat melebih Abu Bakar, maka inilah saatnya.'

Aku pun pulang ke rumah dengan gembira. Lalu saya membagi dua seluruh harta yang ada di rumah. Setengahnya untuk keluarga dan setengahnya lagi saya serahkan kepada Rasulullah SAW."

Rasulullah SAW berkata, "Wahai Umar, adakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?" Saya menjawab, "Ada ya Rasulullah."

Nabi bertanya lagi, "Apa yang kamu tinggalkan?" Saya menjawab, "Saya tinggalkan utnuk mereka setengah dari harta saya."

Kemudian, datanglah Abu Bakar RA, dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah SAW bertanya kepadanya, "Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?"

Abu Bakar menjawab, "Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya."

Melihat hal ini, Umar berkata, "Saya tidak akan pernah dapat mengalahkan Abu Bakar."

Syekh Maulana Muhammad Zakariya Al Khandahlawi, dalam kitabnya yang berjudul Fadhilah Amal menerangkan, saling berlomba dalam amal shaleh dan kebaikan sangat baik dan disukai. Kisah di atas terjadi menjelang perang Tabuk.

Pada saat itu, Nabi memberi anjuran untuk bersedekah secara khusus. Dan, para sahabat dengan kemampuan masing-masing menginfakkan harta mereka fi sabilillah dengan penuh gairah dan semangat. Walaupun, melebihi kemampuan mereka.

 

Kisah Perlombaan Sedekah Umar Bin Khattab dan Abu Bakar

Fiqhislam.com - Umar bin Khattab RA berkata, "Suatu ketika, Rasulullah SAW menyuruh kami agar berinfak di jalan Allah.

Kebetulan ketika itu ada sedikit harta pada saya, maka saya berkata di dalam hati, 'Saat ini aku memiliki harta. Jika suatu saat aku dapat melebih Abu Bakar, maka inilah saatnya.'

Aku pun pulang ke rumah dengan gembira. Lalu saya membagi dua seluruh harta yang ada di rumah. Setengahnya untuk keluarga dan setengahnya lagi saya serahkan kepada Rasulullah SAW."

Rasulullah SAW berkata, "Wahai Umar, adakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?" Saya menjawab, "Ada ya Rasulullah."

Nabi bertanya lagi, "Apa yang kamu tinggalkan?" Saya menjawab, "Saya tinggalkan utnuk mereka setengah dari harta saya."

Kemudian, datanglah Abu Bakar RA, dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah SAW bertanya kepadanya, "Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?"

Abu Bakar menjawab, "Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya."

Melihat hal ini, Umar berkata, "Saya tidak akan pernah dapat mengalahkan Abu Bakar."

Syekh Maulana Muhammad Zakariya Al Khandahlawi, dalam kitabnya yang berjudul Fadhilah Amal menerangkan, saling berlomba dalam amal shaleh dan kebaikan sangat baik dan disukai. Kisah di atas terjadi menjelang perang Tabuk.

Pada saat itu, Nabi memberi anjuran untuk bersedekah secara khusus. Dan, para sahabat dengan kemampuan masing-masing menginfakkan harta mereka fi sabilillah dengan penuh gairah dan semangat. Walaupun, melebihi kemampuan mereka.

 

Iman Seperti Abu Bakar As-Shidiq

Iman Seperti Abu Bakar As-Shidiq


Fiqhislam.com - Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan, barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah mendapatkan kemenangan yang besar." (QS al-Ahzab, 33: 71).

Selain Nabi Muhammad Saw, hamba Allah yang sedikit pun tidak ada keraguan dalam keimananannya kepada Allah dan Rasul-Nya adalah Abu Bakar as-Shiddiq. Ketika Nabi Muhammad SAW mengabarkan telah diutus untuk Isra Mi’raj oleh Allah dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjid Aqsha (Palestina) lalu dibawa menuju Sidratul Muntaha (batas dan tempat terakhir) di Arsy-Nya, sahabat dekatnya itu langsung membenarkan. Sedikit pun Abu Bakar tak meragukan dan apalagi mempertanyakannya.

Pribadi yang bertakwa haruslah seperti sosok mertua Nabi SAW itu. Selalu mengimani apa saja yang dikabarkan Rasul-Nya. Karena apa pun yang keluar dari lisan Nabi pasti benar datang dari Allah. “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Melainkan, hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat." (QS an-Najm, 53: 2-5).

Persoalannya, bagaimana kita bisa mengimani kebenaran yang disampaikan Rasulullah SAW dengan baik. Hari ini kita baru saja memasuki Rajab yang pada 15 abad lalu pernah terjadi sebuah peristiwa mahabesar, yaitu Isra dan Mi’raj. Kita ingin membacanya sebagaimana Abu Bakar as-Shidiq dulu bereaksi cepat dengan mengimaninya. Sehingga, beliau mendapat gelar as-shidiq (jujur dan selalu membenarkan).

Kekuatan iman Abu Bakar menjadikannya sebagai sahabat pertama yang dipersilakan Nabi untuk masuk surga dari arah pintu mana saja yang ia suka. Dan, hal itu adalah bagian dari kemenangan besar yang beliau dapat, seperti diinformasikan ayat Alquran di atas.

Abu Bakar selalu berada dalam jajaran sahabat yang paling bertakwa. Ketika suatu Subuh,  Rasul bertanya siapa yang sepagi itu sudah berinfak, menjenguk orang sakit, dan berniat puasa. Maka, tidak ada yang menjawab kecuali pemerdeka budak Bilal bin Abi Rabbah ini. Dan, itu pun dengan anggukan malu, takut riya dan ujub.

Ketika Nabi SAW meminta para sahabatnya berinfak untuk sebuah kepentingan peperangan di jalan Allah. Maka, khalifah pertama inilah yang menyerahkan seluruh hartanya. Umar bin Khatab pernah merasa dirinya yang kali itu akan unggul dalam amal kebaikan karena beliau menyerahkan separuh harta kekayaannya.

Ternyata, yang dibawa ayahanda Aisyah ini jauh lebih banyak dari yang dibawa Umar. Saat ditanya apa yang ditinggalkan untuk istri dan anak-anaknya? Abu Bakar dengan yakin menjawab, “Allah dan Rasulnya telah aku tinggalkan untuk mereka!”

Subhanallah, jawaban penuh iman mencerminkan keimanan yang prima dan tangguh. Saudaraku, hari ini mari kita belajar iman kepada Abu Bakar as-Shiddiq. Untuk hari-hari bersejarah kelak yang selalu kita rindukan dalam kemenangan hidup yang besar. [yy/republika]

Oleh Muhammad Arifin Ilham