pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


9 Dzulqa'dah 1442  |  Sabtu 19 Juni 2021

Fikih Muslimah: Bolehkah Menginfakkah Harta Suami Tanpa Izin?

Fikih Muslimah: Bolehkah Menginfakkah Harta Suami Tanpa Izin?Fiqhislam.com - Allah mewajibkan umat manusia untuk hanya menyembah dan mengabdi kepada-Nya. (QS Adz-Dzariyat: 56).

Ibadah itu ada yang wajib dan ada pula yang sunah. Yang wajib adalah shalat, puasa, zakat, dan berhaji (bila mampu). Sedangkan yang sunah adalah bersedekah, shalat dhuha, puasa Senin-Kamis, dan lain sebagainya.

Dalam hal bersedekah, Allah SWT sangat menganjurkan umat Islam untuk melakukannya. Sebab, banyak keutamaan yang terdapat di dalamnya. Seperti, membersihkan harta yang dimiliki, dan saling berbagi dengan sesama atau memupuk semangat untuk saling mengasihi dengan orang yang membutuhkan.

Karena besarnya keutamaan itu, sudah sepantasnya bila setiap umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan untuk melaksanakannya. Hanya saja, bagaimana bila harta yang dimiliki untuk bersedekah itu, bukan milik pribadi, tetapi milik bersama. Misalnya, harta yang diperoleh oleh suami, apakah diperbolehkan seorang istri memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan, sementara suaminya tidak mengetahuinya (belum ada izinnya)?

Dalam hal ini, para ulama berselisih paham. Sebagian menyatakan, bahwa haram hukumnya seorang istri mengeluarkan atau membelanjakan harta suami tanpa seizinnya. Hal ini berdasarkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa izin suaminya, kendati orang tuanya sedang sekarat.

Dalam kitab Al-Faqih jilid III dijelaskan, bahwa seorang istri harus tunduk dan patuh terhadap suami. “Istri harus patuh dan tidak menentangnya. Tidak menyedekahkan apa pun yang ada di di rumah suami tanpa izin sang suami. Tidak boleh berpuasa sunah kecuali dengan izin suami. Tidak boleh menolak jika suaminya menginginkan dirinya walaupun ia sedang dalam kesulitan. Tidak diperkenankan keluar rumah kecuali dengan izin suami.”
 
Begitu pentingnya perhatian istri terhadap hak-hak suami, Rasulullah SAW bersabda, “(Ketahuilah) bahwa perempuan tidak pernah akan dikatakan telah menunaikan semua hak Allah atasnya kecuali jika ia telah menunaikan kewajibannya kepada suami.” (Makarim Al-Akhlaq: 215).

Dari Abu Umamah, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasul SAW bersabda ketika beliau berkhutbah pada pelaksanaan Haji Wada’. “Tidak diperbolehkan bagi perempuan Muslimah menginfakkan sesuatu dari rumah suminya, kecuali dengan seizinnya." Kemudian ditanyakan kepada Rasul SAW, “Wahai Rasulullah, termasuk juga makanan?” Beliau menjawab, “Itu merupakan harta kita yang berharga.” (HR. Tirmidzi, dan hadits ini menurutnya hasan).

Riwayat lainnya adalah hadits yang bersumber dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh bagi seorang perempuan yang bersuami untuk membelanjakan harta pribadinya (tanpa seizin suaminya).” (HR. Nasai, Ibnu Majah, dan Abu Dawud).

Demikianlah pendapat sejumlah ulama yang menolak sedekah dari seorang istri bila tidak mendapat izin suaminya. Syekh Kamil Muhammad Uwaidah dalam kitabnya Fiqh an-Nisa’ menegaskan, dari sejumlah keterangan di atas jelaslah bahwa seorang perempuan Muslim tidak diperkenankan berinfak dari harta suaminya, kecuali dengan seizinnya.

Namun demikian, ulama lainnya juga ada yang membolehkan seorang istri bersedekah, kendati tanpa sepengetahuan suaminya. Dari Ayyub, bahwa dia mendengar Atha’ berkata bahwa dia mendengar Ibnu ‘Abbas bercerita, “Aku bersaksi bahwa Nabi pergi ditemani Bilal saat shalat ‘Id. Nabi SAW mengira para perempuan tidak mendengar khutbah yang beliau sampaikan. Oleh karena itu, Nabi SAW nasehati mereka secara khusus dan Nabi perintahkan mereka supaya bersedekah. Para perempuan pun melemparkan anting-anting dan cincin mereka ke arah kain yang dibentangkan oleh Bilal dan Bilal memegang ujung kainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lainnya dijelaskan, bahwa Siti Aisyah RA menceritakan bahwa Rasul SAW bersabda, “Apabila seorang perempuan berinfak dari makanan yang berada di rumahnya dengan tidak menghabiskannya, maka ia akan mendapatkan pahala atas apa yang diinfakkannya itu, dan suaminya pun juga mendapatkan pahala yang sama atas usahanya mencari rezeki itu. begitu pula dengan pegawainya (yang memasak) juga mendapatkan pahala yang sama, di mana masing-masing tidak mengurangi pahala yang lain." (HR Bukhari).

Dari Asma’, Rasulullah SAW pernah bersabda kepadanya, “Berinfaklah dan jangan dihitung-hitung (sehingga engkau merasa sudah banyak berinfak dan pada akhirnya kau berhenti berinfak). Jika demikian maka Allah akan perhitungan denganmu dalam anugrahNya dan jangan kau simpan kelebihan hartanya sehingga Allah akan menyimpan (baca: menahan) anugerah-Nya kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Kuraib, bekas budak Ibnu Abbas, sesungguhnya Maimunah binti Al-Harits pernah bercerita kepada Ibnu Abbas bahwa dia memerdekakan budak perempuannya tanpa meminta izin kepada Nabi SAW terlebih dahulu. Pada saat hari giliran Nabi SAW menginap di rumah istrinya yang bernama Maimunah dan ia berkata kepada Nabi SAW. “Wahai Rasulullah, apakah kau tahu bahwa aku telah memerdekakan budak perempuan yang kumiliki?” Nabi SAW bersabda, “Benarkah kau telah melakukannya?”  “Ya”, jawab Maimunah. “Jika kau berikan budak perempuan tersebut kepada pamanmu tentu pahalanya lebih besar.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits di atas, Nabi memerintah Asma untuk berinfak yang banyak tanpa meminta izin suaminya, Zubair. Sedangkan dalam hadits berikutnya disebutkan, bahwa Rasul SAW tidak menyalahkan perbuatan istrinya, Maimunah yang menginfakkan harta pribadinya tanpa sepengetahuan dan seizin beliau. Andai hal ini terlarang tentu Nabi SAW akan menegurnya.

Dengan kedua sumber di atas, maka sudah selayaknya bagi setiap perempuan Muslim, untuk memperbanyak amal ibadahnya, termasuk berinfak atau sedekah. Dan akan semakin baik lagi, bila dia meminta izin suaminya untuk memberikan sedekah itu. Wallahua’lam.

republika.co.id