fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Syawal 1442  |  Kamis 13 Mei 2021

Fikih Muslimah: Hormati Ibumu

Fikih Muslimah: Hormati IbumuFiqhislam.com - “Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa.” Demikian kata pepatah.

Hal ini menunjukkan, betapa besarnya peranan seorang ibu dalam mengasihi dan mendidik anak-anaknya. Bahkan, bila dibandingkan dengan ayah, peran ibu jauh lebih besar dalam mendidik anak-anaknya.

Hal ini ditegaskan Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya yang berasal dari pertanyaan seorang sahabat. “Ya Rasul, siapakah orang yang harus aku hormati di dunia ini.” Rasul menjawab, “Ibumu.” Kemudian dia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasul menjawab, “Ibumu.” “Kemudian lagi, ya Rasul,” tanya orang itu. “Rasul menjawab, “Ibumu.” Lalu, laki-laki itu bertanya lagi; “Kemudian, setelah itu siapa, ya Rasul?” “Bapakmu,” jawab Rasulullah.

Hadits di atas menegaskan betapa pentingnya setiap anak memberikan rasa hormat dan patuh kepada kedua orang tuanya, terutama ibunya. Sebab, kasih sayang yang diberikan seorang ibu, melebihi sayangnya terhadap yang lain.

Mereka rela berkorban harta, jiwa, dan raga, demi si buah hati yang dicintainya. Mereka rela merasakan panasnya matahari di siang hari, dan dingin di waktu malam, tanpa pernah lelah untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan, di saat anaknya sakit, ibu senantiasa terjaga. Dengan rajin, ibu memberikan obat, menyuapkan makanan, mengganti popok, dan lain sebagainya. Semua itu dilakukannya tanpa kenal rasa lelah. Bahkan rasa kantuk sekalipun, ia kalahkan ketika mendengar si buah hatinya menangis.

Ada sebuah kisah yang diriwayatkan dari Jabir. Di zaman Rasulullah, ada seorang pemuda mengadukan ayahnya kepada Nabi SAW, karena si ayah mengambil harta milik anaknya itu. Rasul memerintahkan supaya ayah si anak tersebut dipanggil. Ketika berada di hadapan Rasulullah SAW, ditanyakanlah hal itu. “Mengapa engkau mengambil harta anakmu,” tanya beliau.

“Tanyakan saja kepadanya, ya Rasul. Sebab, uang itu saya nafkahkan untuk saudara-saudaranya, paman-pamannya dan bibinya,”  jawab orang tua itu.

Rasulullah kemudian bertanya lagi, “Ceritakanlah apa yang ada dalam hatimu dan tidak didengar oleh telingamu.”

Maka berceritalah si ayah ini. “Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah lantaran sakit dan deritamu. Aku tak bisa tidur dan resah, bagaikan akulah yang sakit dan bukan kau yang menderita. Lalu air mataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut. Padahal aku tahu, ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa dan berhasil mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman. Seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu. Kau perlakukan aku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu, seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.”

Mendengar hal ini, maka Rasulullah pun langsung memerintahkan kepada si anak, untuk memberikan hak orang tuanya.

Ini adalah salah satu contoh, betapa besarnya peranan orang tua. Demikian juga dengan ibu. Ibu telah mengandung si anak selama sembilan bulan. Setelah itu, ia mengasuh dan menyusuinya hingga berusia sekitar dua tahun.

Ia yang mendidik dan mengajari si anak menulis sewaktu belum sekolah. Mengajari cara makan yang benar. Dan senantiasa membimbing anak-anaknya menjadi orang yang sukses.

Setiap hari, ibu menyayangi anaknya. Walau capek, lelah, dan kesal, ibu masih merelakan waktunya untuk menyayangi dan mengasihi anak-anaknya. Tak pernah sedikit pun ibu mengeluh.

Ibu juga tidak mengharapkan balasan apa-apa dari anak-anaknya. Sebaliknya, ibu malah berharap agar anak-anaknya menjadi anak yang saleh, sukses dalam segala hal, sukses dalam menempuh hidup, sukses dalam meraih posisi tertinggi, dan lain sebagainya.

Namun, ketika semua kesuksesan telah tercapai, apa yang dibalas oleh si anak kepada ibunya? Si anak lupa berterima kasih atas semua jerih payah ibunya. Si anak, terlena dengan berbagai keberhasilan. Semuanya, dinikmati bersama keluarga dan pasangannya.

Saat senang, kita mencari pasangan tapi saat sedih, kita mencari ibu. Saat sukses, kita cerita dengan pasangan, tapi di saat gagal kita cerita dengan ibu. Saat bahagia, kita peluk erat pasangan, tapi saat sedih, kita peluk erat ibu. Saat liburan, kita bawa pasangan menikmati kebahagiaan, tapi saat sibuk, anak-anak kita antar dan titipkan ke rumah ibu.

Saat menyambut hari Valentine, kita selalu memberi hadiah pada pasangan kita, tapi saat menyambut hari ibu, kita tak sempat mengucapkan "Selamat Hari Ibu" kepadanya, apalagi memberi hadiah.

Kita selalu ingat dengan pasangan kita, tapi ibu selalu ingat dengan kita. Kita selalu berusaha memberikan hadiah kepada pasangan, Entah kapan, kita mengasih hadiah kepada ibu. Saat gajian, kita bagi uangnya kepada pasangan, tapi kita tidak berbagi dengan ibu.

Saat bahagia dan punya harta, kita nikmati bersama pasangan, namun di saat kekurangan, kita meminta bantuan kepada ibu.

Bagaimana kalau ibu sudah tidak ada? Pernahkah kita shalat jenazah atau gaib untuknya? Kemudian mendoakan untuk kebaikannya?

Alquran telah mengajarkan kepada setiap Muslim, untuk menghormati kedua ibu bapaknya. Sebab, kasih sayang keduanya tak pernah ada habisnya. Perhatikan surah Al-Isra ayat 23. Berkata ‘ah’ saja dilarang, apalagi, membantahnya. Lihat pula surah Al-Ahqaf: 15, Luqman: 15, Al-Baqarah: 233, Al-Ankabut: 8, dan masih banyak lagi lainnya. Wallahua’lam.

republika.co.id