fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


3 Ramadhan 1442  |  Kamis 15 April 2021

Makan Kelelawar dan Ular, Halalkah?

Makan Kelelawar dan Ular, Halalkah?Fiqhislam.com - Dunia dihebohkan dengan wabah virus corona yang menyerang China, tepatnya di Kota Wuhan. Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada akhir Desember.

Para peneliti menduga, virus ini disebarkan melalui kelelawar dan ular, dugaan ini diperkuat dengan adanya foto dan video, maraknya masyarakat Wuhan (dan pada umumnya tradisi orang China) mengonsumsi sup kelelawar ataupun olahan daging ular.

Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh sendi kehidupan. Dari yang sangat kecil hingga yang paling besar, tidak terkecuali makanan.

Dalam sebuah riwayat, dari Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah itu baik, tidak mau menerima sesuatu kecuali yang baik.”

Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Wahai para Rosul makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal sholih.” (QS: Al Mukminun: 51).



Secara umum, Allah dan Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan umat-Nya untuk memilih makanan yang baik untuk dikonsumsi dan halal. Banyak diantara kita bertanya-tanya hukum memakan kelelawar dan ular, karena dua hewan ini cukup banyak peredarannya dalam masyarakat dan disajikan beragam olahan.

Di dalam kitab Hasyiyata Qalyubi wa Umairah disebutkan:

وَيُطْلَقُ الْخُطَّافُ عَلَى الْخُفَّاشِ وَهُوَ الْوَطْوَاطُ وَهُوَ حَرَامٌ أَيْضًا

Artinya: “Dikatakan Al-Khuthaf untuk jenis binatang kelelawar, yaitu Al-Wathwhat hukumnya juga haram,” (Syekh Qalyubi dan Umairah, Hasyiyata Qalyubi wa Umairah, juz 4, halaman 642)

Dalam penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa hukum memakan kelelawar adalah haram, maka umat Islam tidak boleh memakannya.

Bagaimana dengan ular?

Dalam sebuah hadits disebutkan:

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحِلِّ وَالْحَرَمِ الْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الأَبْقَعُ وَالْفَارَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ وَالْحُدَيَّا

Artinya: “Lima binatang fasiq yang boleh dibunuh baik sedang berada di tanah halal atau tanah haram, yaitu: ular, burung gagak berwarna belang, tikus, anjing gila dan elang.”(Riwayat Muslim)

Hikmah dijulukinya sebagian binatang fasiq adalah dikarenakan binatang-binatang tersebut menyelisihi keumumam binatang melata lainnya, dalam hal kehalalan atau larangan membunuhnya, atau kebiasannya yang mengganggu manusia.

Maka hukum memakan daging ular adalah haram. Wallahu a’lam bishowab. [yy/hidayatullah]

Ilham Akbar