12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Berangan-angan yang Dibenci Agama

Berangan-angan yang Dibenci AgamaFiqhislam.com - Angan-angan memang merupakan suatu hal yang semu namun juga kerap menjadi candu bagi manusia. Meski tak semua angan-angan itu dilarang, namun ada baiknya manusia mengenali beberapa hal yang dimakruhkan dari sikap berangan-angan ini.

Beberapa hal dari angan-angan yang dimakruhkan adalah mengenai pengharapan atas kematian dan angan-angan atas dengki terhadap karunia rezeki, paras, atau hal-hal duniawi yang Allah SWT lebihkan kepada orang lain.

Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim bersabda:

لا يَتَمَنَّ أَحَدُكُمُ المَوْتَ، إِمَّا مُحسِنًا فَلَعَلَّهُ يَزْدادُ، وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ يَسْتَعْتِبُ

“La yatamanna ahadukum al-mauta imma muhsinan fala’allahu yazdadu wa imma musi-an fala'allahu yasta’tibu,”. Yang artinya: “Janganlah salah seorang di antara kamu mengharapkan datangnya kematian. Bisa saja dia orang yang baik, barangkali kebaikannya bisa bertambah. Bisa saja dia adalah orang yang jahat, barangkali dia bertaubat dari kejahatannya,”.



Sedangkan Allah SWT juga menegur setiap hamba yang kerap berangan-angan atas karunia dan rezeki yang Allah berikan kepada hamba yang lain. Allah SWT berfirman dalam Alquran surah An-Nisa ayat 32 berbunyi:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ

“Wa la tatamanau ma fadhalallahu ba’dhokum ala ba’din. Lirrijali nashibun mimma-ktasabu wa linnisa-i nashibun mimma-ktasabna wasalullaha min fadhlihi,”.

Yang artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa-apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya,”.

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam kitabnya Syarah Shahih al-Bukhari menjabarkan, janganlah manusia berangan-angan agar anugerah yang Allah berikan kepada orang lain akan dialihkan kepada manusia tersebut. Akan tetapi, menurut beliau, mintalah kepada Allah dari sebagian karunia-Nya atas rezeki atau karunia lainnya agar kita dapat mendapat ridhanya.

Beliau juga menganjurkan kepada kaum Muslim untuk tidak berandai-andai dalam hal ini. Dan, beliau memberikan ijazah doa yang layak dibaca bagi setiap Muslim yang hendak meminta karunia serupa dengan seorang hamba Allah tertentu. Adapun doanya berbunyi:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، اَللّهُمَّ إِنِِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ كَمَا أَعْطَيْتَ هَؤُلَاء ِأَلَا تَحْرِمْنِيْ

“Audzubillahiminassyaithanirrajim, Allahumma inni asaluka min fadhlika, kama a'thaita haulai, ala tahrimni. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menganugerahkan nikmat itu kepada Fulan, maka karuniakanlah kepadaku nikmat yang serupa,”. [yy/republika]